Kiriman dibuat oleh Lutfi Puspita Sari

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal

oleh Lutfi Puspita Sari -
TUGAS ANALISIS SOAL, PERTEMUAN KE-11
(Akhlak - less Itu Bukan Budaya Kita) 

NAMA : LUTFI PUSPITA SARI
NPM : 2515012061
JURUSAN : S1 ARSITEKTUR
KELAS :B 

A. Pendapat mengenai isi artikel dan hal positif yang dapat diambil
Pendapat:
Isi artikel tersebut menyadarkan pembaca bahwa perubahan zaman bukan alasan untuk meninggalkan nilai-nilai kesopanan, akhlak baik, dan budaya saling menghormati yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Artikel ini mengkritisi perilaku sebagian anak muda yang dianggap kurang sopan, tetapi juga menegaskan bahwa tidak semua generasi muda seperti itu. Intinya, artikel ini mengajak kita untuk tetap menjaga etika dan norma sosial di tengah arus globalisasi.
Hal positif yang bisa diambil:
Kesadaran pentingnya akhlak dan sopan santun dalam pergaulan.
Pemahaman bahwa kebebasan harus dibarengi tanggung jawab.
Ajakan untuk melestarikan budaya positif Indonesia, seperti ramah, sopan, toleran, dan beretika.
Pengingat bahwa tindakan kecil berpengaruh besar, termasuk dalam media sosial.
Pemaknaan bahwa norma dan etika adalah batasan yang sehat, bukan pembatas kreativitas.

B. Hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel
Pancasila memiliki fungsi sebagai sistem etika, yaitu pedoman moral untuk berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Artikel tersebut menjelaskan pentingnya menjaga akhlak serta mematuhi norma sosial. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila:
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa, Mengajarkan kita untuk berperilaku luhur, menjauhi kebencian, dan menjaga hati nurani.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Menuntut kita untuk memperlakukan sesama manusia dengan hormat dan sopan, tidak merendahkan orang lain.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia, Artikel menekankan pentingnya menjaga nilai budaya bangsa agar tidak terkikis oleh globalisasi.
Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,
terkait etika berdiskusi, menghargai pendapat, serta tidak sembarangan berkata kasar, termasuk di media sosial.
Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa setiap orang wajib menjaga perilaku agar tidak melukai orang lain, sehingga tercipta keadilan dan keharmonisan sosial.
Kesimpulannya, artikel tersebut memperkuat nilai-nilai etika Pancasila sebagai pedoman moral masyarakat Indonesia.

C. Kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila
Berikut contoh kearifan lokal dari berbagai daerah dan hubungannya dengan sila-sila Pancasila:
1. Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Tradisi tahlilan, selametan, syukuran untuk Mengajarkan syukur dan doa bersama.
Ngayah (Bali) untuk Bekerja secara sukarela sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan masyarakat.
2. Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Gotong royong untuk Wujud keadaban dalam membantu sesama.
Tolong-menolong / Siri' dan pacce (Sulawesi Selatan) untuk Menjaga martabat (harga diri) dan empati.
3. Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Upacara adat pengikat komunitas (misalnya: adat Pela Gandong di Maluku) untuk Menyatukan antar-suku menjadi saudara.
Rumah adat yang didesain untuk kebersamaan, seperti rumah panjang Dayak.
4. Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Musyawarah adat (Minangkabau, Jawa, Bali, Bugis)  untuk Mengambil keputusan bersama secara bijaksana.
Lembaga adat desa untuk Mengatur masyarakat dengan mufakat.
5. Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sistem irigasi Subak (Bali) untuk Pengelolaan air secara adil.
Sistem lumbung desa untuk Menjamin pangan bagi seluruh warga, khususnya yang membutuhkan.

D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang terkait sistem etika Pancasila
Mempelajari dan mengenalkan kearifan lokal sejak dini, baik di rumah maupun sekolah.
Mempraktikkan langsung nilai-nilainya, seperti gotong royong, sopan santun, musyawarah, dan toleransi.
Mengangkat budaya lokal melalui media sosial, konten kreatif, dan seni.
Mengadakan kegiatan atau festival budaya daerah untuk memperkuat kebanggaan masyarakat.
Mengintegrasikan nilai budaya dengan teknologi modern, agar tetap relevan di era digital.
Menghindari perilaku yang bertentangan dengan etika Pancasila, seperti ujaran kebencian, merendahkan orang lain, dan intoleransi.
Mendorong peran keluarga dan tokoh adat sebagai pengawal tradisi.
Melestarikan bahasa daerah, tarian, musik, dan upacara adat agar tidak punah.