NAMA : MELATI FATIKA SARI
NPM : 2515012031
KELAS : B
A. Pendapat tentang isi artikel & hal positif yang dapat diambil
Artikel tersebut menyadarkan bahwa anggapan “anak zaman sekarang kurang sopan” sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena sopan santun itu bergantung pada individu, bukan generasi. Artikel ini menekankan pentingnya menjaga perilaku, ucapan, dan etika dalam masyarakat agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.
Hal positif yang bisa diambil:
Kita diingatkan untuk bijak dalam bertindak dan berkata.
Kebebasan tetap harus dibatasi oleh norma, etika, dan tanggung jawab.
Budaya sopan santun Indonesia adalah identitas positif yang harus dijaga.
---
B. Hubungan Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel
Isi artikel sangat terkait dengan nilai etika dalam Pancasila, karena:
Pancasila mengajarkan sikap saling menghormati, toleransi, dan perilaku yang bermoral baik.
Artikel membahas pentingnya menjaga etika sosial, tidak merendahkan orang lain, serta bertindak sesuai norma – hal yang sejalan dengan sila 1–5.
Pancasila menjadi pedoman moral agar kebebasan individu tidak merugikan orang lain dan tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan.
---
C. Kearifan lokal terkait sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila
Berbagai kearifan lokal Indonesia yang mencerminkan etika Pancasila antara lain:
1. Sila 1 – Ketuhanan Yang Maha Esa
Tradisi gotong royong membangun masjid/gereja/pura.
Sikap saling menghargai perbedaan keyakinan dalam upacara adat.
2. Sila 2 – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Budaya tepa selira (Jawa): empati dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
Mapalus (Minahasa): saling menolong tanpa pamrih.
3. Sila 3 – Persatuan Indonesia
Sasi (Maluku): menjaga alam bersama demi kepentingan masyarakat.
Upacara adat yang mempertemukan berbagai suku sebagai simbol persatuan.
4. Sila 4 – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan…
Musyawarah mufakat dalam lembaga adat.
Rembug desa: diskusi bersama untuk menyelesaikan masalah.
5. Sila 5 – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Subak (Bali): sistem pembagian air yang adil untuk semua petani.
Gotong royong: pembagian tugas yang merata untuk kepentingan bersama.
---
D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal terkait etika Pancasila
Mengajarkan kearifan lokal sejak kecil melalui sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Menggunakan dan mempraktikkan nilai-nilai lokal seperti sopan santun, gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Mendukung kegiatan adat dan budaya agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Mempromosikan budaya lokal melalui media sosial secara positif.
Melibatkan generasi muda dalam kegiatan budaya dan komunitas untuk menumbuhkan rasa memiliki.
Melestarikan bahasa daerah, tradisi, dan upacara adat sebagai bentuk identitas bangsa.
Artikel tersebut menyadarkan bahwa anggapan “anak zaman sekarang kurang sopan” sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena sopan santun itu bergantung pada individu, bukan generasi. Artikel ini menekankan pentingnya menjaga perilaku, ucapan, dan etika dalam masyarakat agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.
Hal positif yang bisa diambil:
Kita diingatkan untuk bijak dalam bertindak dan berkata.
Kebebasan tetap harus dibatasi oleh norma, etika, dan tanggung jawab.
Budaya sopan santun Indonesia adalah identitas positif yang harus dijaga.
---
B. Hubungan Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel
Isi artikel sangat terkait dengan nilai etika dalam Pancasila, karena:
Pancasila mengajarkan sikap saling menghormati, toleransi, dan perilaku yang bermoral baik.
Artikel membahas pentingnya menjaga etika sosial, tidak merendahkan orang lain, serta bertindak sesuai norma – hal yang sejalan dengan sila 1–5.
Pancasila menjadi pedoman moral agar kebebasan individu tidak merugikan orang lain dan tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan.
---
C. Kearifan lokal terkait sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila
Berbagai kearifan lokal Indonesia yang mencerminkan etika Pancasila antara lain:
1. Sila 1 – Ketuhanan Yang Maha Esa
Tradisi gotong royong membangun masjid/gereja/pura.
Sikap saling menghargai perbedaan keyakinan dalam upacara adat.
2. Sila 2 – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Budaya tepa selira (Jawa): empati dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
Mapalus (Minahasa): saling menolong tanpa pamrih.
3. Sila 3 – Persatuan Indonesia
Sasi (Maluku): menjaga alam bersama demi kepentingan masyarakat.
Upacara adat yang mempertemukan berbagai suku sebagai simbol persatuan.
4. Sila 4 – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan…
Musyawarah mufakat dalam lembaga adat.
Rembug desa: diskusi bersama untuk menyelesaikan masalah.
5. Sila 5 – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Subak (Bali): sistem pembagian air yang adil untuk semua petani.
Gotong royong: pembagian tugas yang merata untuk kepentingan bersama.
---
D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal terkait etika Pancasila
Mengajarkan kearifan lokal sejak kecil melalui sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Menggunakan dan mempraktikkan nilai-nilai lokal seperti sopan santun, gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Mendukung kegiatan adat dan budaya agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Mempromosikan budaya lokal melalui media sosial secara positif.
Melibatkan generasi muda dalam kegiatan budaya dan komunitas untuk menumbuhkan rasa memiliki.
Melestarikan bahasa daerah, tradisi, dan upacara adat sebagai bentuk identitas bangsa.