Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002
Masalah yang dihadapi siswa kelas VII dan VIII di sekolah adalah rendahnya keterlibatan belajar yang ditunjukkan dengan siswa mudah mengantuk di kelas, belum berkembangnya kemampuan berpikir kritis, serta lemahnya pengetahuan dasar IPS. Kondisi ini membuat siswa kesulitan memahami materi IPS yang bersifat konseptual dan cenderung pasif ketika pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran yang dominan ceramah dan berpusat pada buku teks menyebabkan IPS dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan dan jauh dari kehidupan mereka.
Namun demikian, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan potensi positif, karena siswa lebih menyukai pembelajaran di luar kelas, seperti melakukan wawancara dengan warga sekolah dan berkeliling lingkungan sekolah. Minat ini dapat dimanfaatkan sebagai titik masuk untuk memperkuat pemahaman konsep dasar IPS dan melatih kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, solusi yang tepat adalah merancang pembelajaran IPS yang kontekstual dan berbasis pengalaman langsung, sehingga siswa dapat belajar melalui aktivitas nyata yang dekat dengan kehidupan mereka.
Solusi pembelajaran dapat dirancang menggunakan desain pembelajaran J. Kemp yang dipadukan dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Problem Based Learning (PBL). Melalui desain J. Kemp, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa yang cenderung kinestetik dan membutuhkan aktivitas belajar yang variatif. Tujuan pembelajaran IPS kemudian dirumuskan secara bertahap, dimulai dari penguatan konsep dasar IPS melalui pengalaman langsung, sebelum diarahkan pada kemampuan analisis dan berpikir kritis yang lebih kompleks.
Dalam pelaksanaannya, guru dapat mengajak siswa belajar di luar kelas dengan melakukan observasi lingkungan sekolah dan wawancara sederhana terhadap warga sekolah, seperti petugas kebersihan, penjaga kantin, atau guru. Aktivitas ini dikaitkan dengan materi IPS, misalnya interaksi sosial, kegiatan ekonomi, norma dan aturan sosial di sekolah. Melalui model PBL, siswa diajak mengidentifikasi masalah sosial sederhana yang mereka temui di lingkungan sekolah, mendiskusikan penyebab dan dampaknya, serta menyusun solusi berdasarkan konsep IPS yang dipelajari.
Pembelajaran luar kelas ini membuat siswa lebih aktif secara fisik dan mental, sehingga mengurangi rasa ngantuk dan meningkatkan motivasi belajar. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan pertanyaan pemantik, peta konsep, dan bimbingan agar siswa mampu menghubungkan pengalaman lapangan dengan konsep IPS. Dengan demikian, pembelajaran IPS menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan menantang, sehingga pengetahuan dasar siswa menguat, kemampuan berpikir kritis berkembang, dan pembelajaran IPS tidak lagi dianggap membosankan, melainkan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
NPM : 2523031002
Masalah yang dihadapi siswa kelas VII dan VIII di sekolah adalah rendahnya keterlibatan belajar yang ditunjukkan dengan siswa mudah mengantuk di kelas, belum berkembangnya kemampuan berpikir kritis, serta lemahnya pengetahuan dasar IPS. Kondisi ini membuat siswa kesulitan memahami materi IPS yang bersifat konseptual dan cenderung pasif ketika pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran yang dominan ceramah dan berpusat pada buku teks menyebabkan IPS dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan dan jauh dari kehidupan mereka.
Namun demikian, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan potensi positif, karena siswa lebih menyukai pembelajaran di luar kelas, seperti melakukan wawancara dengan warga sekolah dan berkeliling lingkungan sekolah. Minat ini dapat dimanfaatkan sebagai titik masuk untuk memperkuat pemahaman konsep dasar IPS dan melatih kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, solusi yang tepat adalah merancang pembelajaran IPS yang kontekstual dan berbasis pengalaman langsung, sehingga siswa dapat belajar melalui aktivitas nyata yang dekat dengan kehidupan mereka.
Solusi pembelajaran dapat dirancang menggunakan desain pembelajaran J. Kemp yang dipadukan dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Problem Based Learning (PBL). Melalui desain J. Kemp, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa yang cenderung kinestetik dan membutuhkan aktivitas belajar yang variatif. Tujuan pembelajaran IPS kemudian dirumuskan secara bertahap, dimulai dari penguatan konsep dasar IPS melalui pengalaman langsung, sebelum diarahkan pada kemampuan analisis dan berpikir kritis yang lebih kompleks.
Dalam pelaksanaannya, guru dapat mengajak siswa belajar di luar kelas dengan melakukan observasi lingkungan sekolah dan wawancara sederhana terhadap warga sekolah, seperti petugas kebersihan, penjaga kantin, atau guru. Aktivitas ini dikaitkan dengan materi IPS, misalnya interaksi sosial, kegiatan ekonomi, norma dan aturan sosial di sekolah. Melalui model PBL, siswa diajak mengidentifikasi masalah sosial sederhana yang mereka temui di lingkungan sekolah, mendiskusikan penyebab dan dampaknya, serta menyusun solusi berdasarkan konsep IPS yang dipelajari.
Pembelajaran luar kelas ini membuat siswa lebih aktif secara fisik dan mental, sehingga mengurangi rasa ngantuk dan meningkatkan motivasi belajar. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan pertanyaan pemantik, peta konsep, dan bimbingan agar siswa mampu menghubungkan pengalaman lapangan dengan konsep IPS. Dengan demikian, pembelajaran IPS menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan menantang, sehingga pengetahuan dasar siswa menguat, kemampuan berpikir kritis berkembang, dan pembelajaran IPS tidak lagi dianggap membosankan, melainkan relevan dengan kehidupan sehari-hari.