Kiriman dibuat oleh Nurul Azizah

Pada masyakarat bahasa mereka memegang teguh bahasa itu arbitrer (mana suka). Bahasa adalah sebuah tanda yang memiliki arti dimana tanda bahasa itu memiliki pertalian dengan arti atau simbol. Bahasa dalam karya sastra memiliki maksud yang ingin disampaikan dan setiap yang menafsirkan arti bahasa memiliki pandangan yang berbeda-beda. Pandangan ini dimaksudkan sebagai tanda bahasa dan tanda bahasa ini disebut arbitrer.

Kesepakatan bahasa yang memiliki sifat arbitrer disebut konvensi bahasa. Konvensi bahasa adalah kesepakatan atau aturan dalam masyarakat yang telah disepakati bersama. Dalam sastra perlu adanya konvensi bahasa karena banyak masyarakat yang sulit untuk mencerna bahasa sastra.

"Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. Kita adalah dua bunga anggrek"

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo merupakan bentuk dari konvensi bahasa. Kutipan dialog seorang kakek yang memiliki banyak bunga dengan Buyung seorang anak laki-laki di atas adalah bentuk tanda bahasa yang memiliki arti. Orang-orang yang membacanya akan memiliki gaya tafsir yang berbeda sesuai dengan pandangan masing-masing.

Sastrawan juga perlu konvensi bahasa sebagai pertimbangan sebuah karyanya. Apabila sastrawan tidak memperhatikan konvensi dalam menciptakan karya, maka batasan bahasa yang digunakannya bisa melampaui kebebasan. Hasil karyanya menjadi sulit untuk mengetahui maknanya. Hal ini disebabkan sastrawan menggunakan bahasa yang abstrak, inajinatif, serta inkonvensional.

Adanya batasan oleh konvensi sastra ini menjadikan inovasi beberapa sastrawan membludak. Hal ini disebabkan adanya batasan sastra memacu para sastrawan meningkatkan nilai estetika bahasanya. Contohnya sastrawan Sutardji Calzoum Bachri. Beliau menciptakan karya sastra yang tidak biasa seperti karya sastra pada umumnya.

Sutardji dalam karyanya berani menerobos kata per kata, bentuk kata, bahkan tata bahasa. Karya-karya sastranya menggunakan bahasa yang jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Salah satu bentuk karyanya yang terkenal adalah puisi Tragedi Winka Shinka. Jika dilihat dari bahasanya, Sutardji seperti bercanda dengan tulisan yang dibuatnya. Isi puisinya itu hanya terdiri dari dua kata "kawin" dan "shinka" yang berulang-ulang. Pembaca menilai puisi tersebut tidak memiliki estetika. Padahal, banyak makna yang disampaikan oleh Sutadji dalam puisi tersebut