Posts made by 2513032041 2513032041

DKPM PPKn 2025B -> Analisis Video

by 2513032041 2513032041 -
Nama : Fahmi Naufal Zaky
NPM : 2513032041

Lawrence Kohlberg mengemukakan bahwa perkembangan moral seseorang berlangsung melalui tiga level utama, yaitu Pra-Konvensional, Konvensional, dan Pasca-Konvensional. Setiap level menunjukkan cara berpikir moral yang berbeda berdasarkan usia, pengalaman, dan kedewasaan seseorang dalam menilai baik dan buruk.

1. Level Konvesiaonal. Pada tahap ini, penilaian moral seseorang masih didasarkan pada faktor eksternal seperti hukuman, ganjaran, atau kepuasan pribadi. Anak-anak umumnya berada di tahap ini karena moralitas mereka masih bergantung pada akibat langsung dari suatu tindakan.
a. Tahap pertama adalah orientasi hukuman dan kepatuhan, di mana seseorang berbuat baik semata-mata untuk menghindari hukuman. Misalnya, anak menurut kepada orang tua karena takut dimarahi.
b. Tahap kedua yaitu orientasi relativis instrumental, di mana seseorang berbuat baik karena mengharapkan imbalan atau keuntungan pribadi. Perbuatan baik dipandang sebagai alat untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, seperti hadiah atau pujian.

2. Level Konvesional. Pada tahap ini, seseorang mulai memahami pentingnya norma sosial dan menyesuaikan perilakunya agar diterima oleh lingkungan sekitar. Ia tidak lagi hanya berfokus pada kepentingan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan harapan orang lain dan aturan yang berlaku.
a. Tahap pertama adalah orientasi anak manis, yaitu seseorang berusaha melakukan tindakan yang menyenangkan orang lain agar dianggap baik dan diterima dalam kelompok sosialnya. Kesetiaan terhadap teman atau kelompok menjadi hal penting, bahkan kadang melebihi kejujuran.
b. Tahap berikutnya, orientasi hukum dan ketertiban, menunjukkan kesadaran akan pentingnya mematuhi aturan demi ketertiban sosial. Individu memahami bahwa ia adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas, seperti bangsa dan negara, sehingga hukum harus ditaati untuk menjaga stabilitas sosial.

3. Level Pasca Konvesional. Tahap ini menunjukkan kematangan moral tertinggi, di mana seseorang menilai tindakan berdasarkan prinsip moral universal yang bersumber dari hati nurani, bukan hanya karena aturan atau tekanan sosial.
a. Tahap pertama adalah kontrak sosial legalistis, yaitu seseorang mulai menyadari bahwa hukum dapat diubah sesuai kesepakatan bersama jika hukum tersebut tidak lagi sesuai dengan keadilan dan kesejahteraan umum. Prinsip demokrasi, kesepakatan sosial, dan manfaat bagi masyarakat menjadi dasar pengambilan keputusan moral.
b. Tahap terakhir adalah prinsip etika universal, di mana seseorang bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal seperti keadilan, persamaan, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pada tahap ini, hati nurani menjadi pedoman tertinggi dalam menentukan benar atau salah, bahkan jika hal tersebut bertentangan dengan aturan yang berlaku di masyarakat.

Kesimpulannya, perkembangan moral menurut Kohlberg bergerak dari tahap ketergantungan terhadap hukuman dan ganjaran menuju kesadaran moral yang bersumber dari prinsip etika universal. Hukum tertinggi bagi manusia yang bermoral adalah suara hati nurani, yang menuntun seseorang untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran dalam segala situasi kehidupan.

Landasan Pendidikan PPKn 2025B -> Analisis Video

by 2513032041 2513032041 -
Nama : Fahmi Naufal Zaky
NPM : 2513032041

Dari Video materi tersebut. Materi ini membahas aliran-aliran dalam Pendidikan pemikiran atau teori-teori yang menjelaskan bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan dan menjelaskan bagaimana manusia belajar dan berkembang.
Secara garis besar, aliran pendidikan dibagi menjadi dua yaitu Konvesional dan Gerakan baru. Terdapat beberapa aliran konvesional, seperti empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi.
a. Empirisme, Menekankan bahwa semua pengetahuan dan perkembangan seseorang berasal dari pengalaman dan lingkungan, bukan dari bawaan sejak lahir.
b. Nativisme, Berpendapat bahwa tiap orang dilahirkan sudah membawa sifat atau potensi bawaan, dan lingkungan hanya memainkan peran kecil.
c. Naturalisme, Pandangan ini percaya bahwa manusia pada dasarnya lahir baik, dan pendidikan sebaiknya mengikuti sifat alamiah anak, tanpa paksaan atau intervensi yang berlebihan.
d. Konvergensi, Aliran ini mencoba menggabungkan dua pandangan: bawaan dan lingkungan sama-sama penting dalam pembentukan manusia.

Selain aliran konvesional ada juga Gerakan (aliran baru)
1. Pengajaran alam sekitar
2. Pengajaran pusat perhatian
3. Sekolah Kerja
4. Pengajaran Proyek

Dari video materi yang disampaikan tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap aliran pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada satu teori yang paling benar, karena setiap pandangan memiliki peran penting dalam membentuk sistem pendidikan yang efektif. Oleh sebab itu, dalam praktiknya, guru sebaiknya menggabungkan berbagai pendekatan sesuai dengan situasi, karakter siswa, dan tujuan pembelajaran agar proses pendidikan dapat berjalan lebih optimal dan bermakna.

AI PPKn B -> FORUM DISKUSI

by 2513032041 2513032041 -
Nama : Fahmi Naufal Zaky
NPM : 2513032041

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an yang berisi segala ucapan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat Nabi Muhammad SAW. Hadis berfungsi menjelaskan, menguatkan, menetapkan, atau membatasi hukum dalam Al-Qur’an, sekaligus menjadi pedoman hidup umat Islam. Keaslian hadis dijaga melalui sanad, matan, dan penilaian kualitas perawi dengan ilmu hadis. Hadis terbagi menurut bentuk (qouliyah, fi’liyah, taqririyah), jumlah perawi (mutawatir, masyhur, ahad), kualitas (shahih, hasan, dha’if, maudhu’), serta siapa yang menyampaikannya (marfu’, mauquf, maqthu’). Dengan demikian, hadis memiliki kedudukan penting sebagai penjelas sekaligus pelengkap Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan umat Islam
Nama : Fahmi Naufal Zaky
NPM : 2513032041

Menurut saya jurnal yang ditulis oleh Buyung Syukron membahas tentang metode pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan pendekatan yang terintegrasi di level Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Fokus utama dari penelitian ini adalah pentingnya pengajaran yang menyeluruh yang mengaitkan berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Dengan pendekatan ini, siswa diarahkan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih berarti, autentik, dan menyeluruh. Namun, kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di lapangan masih cenderung terpisah akibat keterbatasan kurikulum, latar belakang guru yang hanya fokus pada bidang tertentu, dan kurangnya pengalaman dalam penerapan pembelajaran terpadu. Jurnal ini kemudian memperkenalkan berbagai model integrasi seperti berbasis tema, potensi lokal, dan isu-isu yang ada, serta menguraikan strategi pelaksanaan yang mencakup pemetaan kompetensi dasar, penentuan tema, pengembangan silabus, serta evaluasi proses dan hasil belajar. Jika diterapkan dengan baik, model ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian sosial, kemampuan analisis kritis, dan keterampilan siswa dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat.

Jurnal yang mendukung materi di atas adalah Rismawati, Lia; Al-Pansori, Muh. Jaelani; & Pransisca, Made Ayu. (2025). Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran IPS untuk Menumbuhkan Nilai Karakter Pada Siswa Sekolah Dasar. Kasta: Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan, 5(1): 43-53.

Kedua Jurnal membahas tentang peningkatan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Dasar. Secara singkat, dokumen pertama memberikan landasan teoretis tentang pentingnya model pembelajaran terpadu (interdisipliner), sementara dokumen kedua menyajikan contoh implementasi konkret dari teori tersebut.

Poin-poin yang menunjukkan hubungan saling mendukungnya:
Tujuan yang Sama: Kedua dokumen memiliki tujuan inti yang serupa, yaitu mengembangkan potensi siswa agar memiliki kepekaan terhadap masalah sosial dan mampu membentuk karakter. Keduanya sepakat bahwa pembelajaran IPS tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kepribadian.
Identifikasi Masalah yang Serupa: Dokumen pertama menggarisbawahi masalah bahwa pembelajaran IPS di Sekolah Dasar sering kali masih dilakukan secara terpisah (disiplin ilmu), bukan terpadu. Dokumen kedua menguatkan masalah ini dengan menyatakan bahwa pembelajaran IPS cenderung berorientasi pada buku teks dan minim kontekstualisasi dengan kehidupan lokal siswa.
Solusi yang Komplementer:
Dokumen pertama (Buyung Syukron) menawarkan solusi dengan menguraikan berbagai model pembelajaran terpadu yang dapat menggabungkan berbagai disiplin ilmu sosial, seperti model berdasarkan topik, potensi utama, dan permasalahan. Ini adalah kerangka teoretisnya.
Dokumen kedua (Lia Rismawati) menjadi pelengkap dengan memberikan aplikasi praktis dari model tersebut. Dokumen ini mengusulkan "kearifan lokal" sebagai topik atau potensi utama yang bisa digunakan untuk mengintegrasikan pembelajaran IPS. Dengan demikian, kearifan lokal seperti tradisi gotong royong dapat menjadi wadah untuk mengaitkan materi IPS dengan kehidupan nyata, yang sejalan dengan salah satu model terpadu yang dijelaskan dalam dokumen pertama.

Secara keseluruhan, dokumen pertama menjelaskan mengapa dan apa model pembelajaran terpadu itu, sedangkan dokumen kedua menunjukkan bagaimana cara menerapkannya secara efektif melalui integrasi kearifan lokal untuk menumbuhkan nilai karakter pada siswa.