གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Deana Ghefira Sofa .

Memang ada kemungkinan terjadi ketegangan antara fungsi sastra sebagai alat perubahan sosial dan sebagai media hiburan. Sebagai “senjata”, sastra menuntut keberanian untuk mengangkat kritik dan realitas pahit; sedangkan sebagai “pelarian”, sastra diharapkan mampu memberi rasa nyaman dan kesenangan. Sekilas keduanya terlihat bertolak belakang, namun sebenarnya bisa dipadukan.

Hal ini tampak jelas dalam Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel tersebut menyoroti isu penculikan dan kekerasan politik pada masa Orde Baru, sehingga membawa fungsi didaktis dengan membuka kesadaran pembaca terhadap sejarah kelam bangsa. Namun, Leila tetap menjaga sisi estetika melalui narasi yang mengalir, karakter yang emosional, serta bahasa yang puitis tapi mudah dipahami. Hasilnya, pembaca tidak hanya tercerahkan secara intelektual, tetapi juga tetap terhibur dan larut dalam alur cerita.

Keseimbangan ini penting karena jika sastra hanya berfokus pada kritik, ia berisiko terasa kaku layaknya teks politik; sebaliknya, jika hanya menekankan hiburan, pesan sosialnya bisa hilang. Dengan menghadirkan keduanya, sastra mampu menjangkau pembaca yang luas: mereka yang mencari hiburan sekaligus mereka yang haus akan kritik sosial. Pada akhirnya, kombinasi ini membuat karya lebih bermakna dan tetap bernilai artistik
Konvensi dalam sastra itu bisa dipahami sebagai aturan atau pakem yang sudah ada dan sering dipakai dalam karya sastra. Sementara inovasi lebih ke arah pembaruan atau terobosan baru yang dilakukan pengarang supaya karyanya berbeda dari kebiasaan.

Kalau dilihat dari puisi Teks Atas Descrates karya Remy Sylado, bentuk puisinya masih mengikuti ciri umum puisi, ada larik-larik dan pilihan kata yang khas (ini termasuk konvensi). Tapi yang menarik, Remy memasukkan pemikiran filsafat Barat, khususnya Descartes, ke dalam puisinya. Itu jadi inovasi karena jarang ada puisi yang langsung menautkan sastra dengan filsafat modern.

Sedangkan dalam puisi Luka karya Sutardji Calzoum Bahri, kita masih bisa menemukan ciri dasar puisi seperti bahasa yang padat dan penuh metafora (konvensi). Namun, Sutardji memberi gebrakan dengan cara membebaskan kata-kata dari makna tetap. Kata dalam puisinya bukan sekadar alat menyampaikan isi, tapi juga bisa jadi permainan bunyi dan bentuk visual. Ini jelas bagian dari inovasi.

Jadi, bisa disimpulkan kalau dua penyair ini tetap berangkat dari konvensi puisi, tapi masing-masing memberi sentuhan baru: Remy lewat filsafat, dan Sutardji lewat kebebasan kata.
Menurut saya sastra adalah karya tulis manusia yang berisi ungkapan perasaan atau ide yang disampaikan melalui bahasa sedangkan, studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari teks sastra secara sistematis.