Konvensi sastra adalah aturan-aturan yang biasanya harus dipenuhi oleh pengarang,. Seperti struktur puisi, gaya yang khas, dan penggunaan bahasa. Misalnya, puisi yang terdiri dari beberapa bait dan baris dengan menggunakan pola tertentu.
Puisi "Teks Atas Descartes" oleh Remy Silado ini mengambil konsep filsafat "Cogito, ergo sum", yang artinya "aku berpikir, maka aku ada". Konsep filsafat ini diambil dari René Descartes sebagai referensi. Sylado menolak konvensi berpikir kritis sebagai satu-satunya landasan eksistensi. Ia menunjukkan bahwa orang Indonesia tetap ada, meski tidak selalu berpikir kritis seperti orang Prancis.
Puisi "Luka" ini sangat inovatif, karena hanya terdiri dari satu kata "luka" dan "ha ha". Sesungguhnya, ini melanggar konvensi puisi yang biasanya memiliki bait dan baris dengan menggunakan bahasa kiasan yang rumit. Sutardji Calzoum Bachri mereduksi puisi pada bentuk paling minimalis. Namun, mampu menyampaikan makna yang kompleks, yaitu kontradiksi antara kebahagiaan dan penderitaan.
Puisi "Teks Atas Descartes" oleh Remy Silado ini mengambil konsep filsafat "Cogito, ergo sum", yang artinya "aku berpikir, maka aku ada". Konsep filsafat ini diambil dari René Descartes sebagai referensi. Sylado menolak konvensi berpikir kritis sebagai satu-satunya landasan eksistensi. Ia menunjukkan bahwa orang Indonesia tetap ada, meski tidak selalu berpikir kritis seperti orang Prancis.
Puisi "Luka" ini sangat inovatif, karena hanya terdiri dari satu kata "luka" dan "ha ha". Sesungguhnya, ini melanggar konvensi puisi yang biasanya memiliki bait dan baris dengan menggunakan bahasa kiasan yang rumit. Sutardji Calzoum Bachri mereduksi puisi pada bentuk paling minimalis. Namun, mampu menyampaikan makna yang kompleks, yaitu kontradiksi antara kebahagiaan dan penderitaan.