Kiriman dibuat oleh Lilis Hadijah

1. Pengertian Puisi

Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman manusia dengan bahasa yang indah, singkat, dan padat makna. Dalam puisi, setiap kata dipilih secara khusus untuk menimbulkan kesan dan emosi tertentu pada pembaca atau pendengar.

2. Unsur Intrinsik Puisi

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun puisi dari dalam, yaitu:

Tema: gagasan utama atau pokok pikiran puisi.

Perasaan (emosi): suasana hati penyair saat menulis, misalnya sedih, marah, rindu, atau bahagia.

Nada dan suasana: sikap penyair terhadap pembaca (nada), dan perasaan yang timbul saat membaca puisi (suasana).

Gaya bahasa (majas dan diksi): pemilihan kata dan penggunaan majas seperti metafora, personifikasi, atau simile untuk memperindah bahasa.

Rima dan irama: pengulangan bunyi yang menimbulkan keindahan saat dibaca.

Amanat: pesan atau makna yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.

3. Unsur Ekstrinsik Puisi

Unsur ekstrinsik adalah faktor luar yang memengaruhi lahirnya puisi, seperti:

Latar belakang pengarang: pengalaman, pendidikan, atau kepribadian penyair.

Kondisi sosial dan budaya: keadaan masyarakat atau lingkungan saat puisi ditulis.

Nilai-nilai kehidupan: seperti nilai moral, agama, politik, atau kemanusiaan yang memengaruhi isi puisi.

4. Jenis-jenis Puisi

Puisi dapat dibedakan berdasarkan beberapa sudut pandang:

a. Berdasarkan zamannya:

Puisi lama: terikat aturan (rima, jumlah baris, bait), contohnya pantun, syair, gurindam.

Puisi baru: lebih bebas dalam bentuk dan isi, contohnya puisi modern karya Chairil Anwar.


b. Berdasarkan isinya:

Puisi naratif: bercerita, seperti balada atau epik.

Puisi lirik: mengungkapkan perasaan, seperti elegi (kesedihan), ode (pujian), atau himne (pujian kepada Tuhan).

Puisi deskriptif: menggambarkan suatu keadaan atau suasana tertentu.


Perbedaan utama puisi dari bentuk tulisan lain terletak pada cara penyampaian makna dan keindahan bahasanya. Puisi tidak hanya menyampaikan pesan secara langsung, tetapi juga melalui pilihan kata yang indah, simbolik, dan penuh perasaan.

Puisi sering kali menyembunyikan makna di balik kata-kata yang padat dan imajinatif, sehingga pembaca perlu merenung atau menafsirkan isinya. Selain itu, kekuatan puisi juga terletak pada kemampuannya menyentuh emosi pembaca—membangkitkan rasa haru, kagum, sedih, atau semangat hanya dengan sedikit kata.

Jadi, yang membedakan puisi bukan hanya keindahan bahasanya, tapi juga kedalaman makna dan kekuatan emosionalnya dalam menyampaikan perasaan manusia.
Memang ada ketegangan antara fungsi sastra sebagai alat perubahan sosial dan sebagai hiburan. Di satu sisi, sastra bisa jadi media untuk menyuarakan ketidakadilan, membuka luka sejarah, atau mendorong kesadaran kolektif. Tapi di sisi lain, sastra juga sering dianggap sebagai ruang pelarian, tempat orang mencari hiburan, keindahan, dan lain lain.

Contohnya Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel ini jelas membawa misi sosial dan politik, menceritakan tentang penculikan aktivis 1998 dengan sangat detail dan emosional. Tapi ia tidak melupakan kekuatan cerita. Karakter-karakternya hidup, konfliknya kuat, dan gaya bahasanya puitis. Jadi, pembaca tidak merasa sedang diceramahi, tapi tetap tergerak.

Menurut saya, keseimbangan ini penting karena jika sastra terlalu fokus pada pesan, ia bisa kehilangan kekuatan estetikanya. Tapi kalau hanya jadi hiburan, ia berisiko kehilangan makna yang lebih dalam. Penulis yang berhasil justru yang bisa menyelipkan kritik sosial tanpa mengorbankan keindahan narasi. Karena di situlah kekuatan sastra: membuat orang peduli lewat cerita, bukan hanya lewat argumen.
Dalam dunia sastra, konvensi dan inovasi itu seperti dua sisi dalam proses kreatif.

Konvensi berarti aturan atau pola yang sudah umum dan sering digunakan dalam karya sastra, seperti bentuk puisi lama, rima, atau tema tertentu yang sudah dikenal.

Sementara inovasi adalah keberanian untuk keluar dari kebiasaan itu—menghadirkan sesuatu yang baru, segar, bahkan bisa terasa "aneh" atau mengejutkan bagi pembaca.


Kalau kita lihat puisi Teks Atas Descartes karya Remy Sylado, dia menghadirkan inovasi dengan mencampurkan filsafat dan sastra. Biasanya puisi itu bermain dengan perasaan, tapi Remy malah memasukkan tokoh filsuf René Descartes, berpikir logis dan intelektual. Ini jelas bukan konvensional. Di situ terlihat inovasi—bagaimana puisi bisa menjadi ruang untuk dialog antara sastra dan pemikiran filosofis. Tapi, di sisi lain, Remy masih memakai struktur puisi yang cukup tertata, jadi unsur konvensi juga masih terasa.

Sedangkan pada puisi Luka karya Sutardji Calzoum Bahri, inovasinya lebih ekstrem. Sutardji dikenal sebagai penyair yang membebaskan kata-kata dari makna harfiahnya. Dalam Luka, kata-kata tidak hanya menyampaikan isi, tapi juga menjadi semacam permainan bunyi, bentuk, dan emosi. Kadang kita bingung saat membacanya, karena strukturnya tidak biasa dan maknanya tidak langsung. Nah, di sinilah letak inovasi yang kuat: Sutardji memutuskan untuk "membebaskan" puisi dari kaidah lama. Ia menolak konvensi seperti rima, bait yang rapi, atau makna yang jelas.
Sastra adalah karya tulis yang indah dan bermakna, seperti puisi atau novel, yang mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia. Studi sastra adalah upaya untuk memahami dan mengapresiasi karya-karya tersebut, dengan menganalisis makna, struktur, dan konteksnya, untuk mengetahui bagaimana sastra dapat mempengaruhi dan merefleksikan kehidupan manusia.