Hubungan antara tokoh, alur, dan latar dalam karya prosa membentuk kesatuan yang kuat dalam menggambarkan realitas sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Tokoh berperan sebagai penggerak cerita yang mempresentasikan manusia dan kehidupannya, alur mnjadi rangkaian peristiwa yang membentuk perkembangan tokoh, sedangkan latar memberikan ruang dan suasana yang menegaskan konteks sosial maupun emosional. Ketika ketiganya berpadu, cerita menjadi lebih hidup. Contohnya tampak jelas dan dapat dilihat dari novel "Orang-orang Biasa" karya Andrea Hirata. Novel ini menampilkan tokoh-tokoh sederhana dari kalangan masyarakat kecil yang berjuang menghadapi kerasnya hidup. Melalui karakter mereka, pengarang menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian, solidaritas, dan keberanian untuk berbuat baik meski hidup dalam keterbatasan. Alur maju yang mengisahkan perjalanan tokoh dari ketidakberdayaan menuju keberanian memperlihatkan bahwa perubahan dan kebaikan bisa datang dari siapapun. Latar kota kecil yang penuh kesedehanaan semakin memperkuat pesan sosial tentang kesenjangan dan perjalanan hidup masyarakat bawah.
Perpaduan antara tokoh, alur dan latar dalam novel ini memebntuk makna mendalam bahwa kemanusiaan tidak diukur dari status atau kekayaan, melainkan dari hati yng tulus dan semangat untuk menolong sesama. Dari kisah sederhana orang-orang biasa, pmbaca diajak memahami bahwa dalam kehidupan yang penuh keterbatasan pun, nilai kemanusiaan dapat tumbuh dan memberi makna yang besar.
Perpaduan antara tokoh, alur dan latar dalam novel ini memebntuk makna mendalam bahwa kemanusiaan tidak diukur dari status atau kekayaan, melainkan dari hati yng tulus dan semangat untuk menolong sesama. Dari kisah sederhana orang-orang biasa, pmbaca diajak memahami bahwa dalam kehidupan yang penuh keterbatasan pun, nilai kemanusiaan dapat tumbuh dan memberi makna yang besar.