Konvensi dalam sastra adalah aturan atau kebiasaan yang sudah dikenal dalam penulisan, seperti penggunaan bahasa puitis, tema universal, dan bentuk puisi. Inovasi adalah pembaruan atau terobosan yang dilakukan penyair untuk menciptakan hal baru agar puisi tidak monoton.
Dalam puisi Teks Atas Descartes karya Remy Silado, konvensi terlihat dari bentuk puisinya yang sederhana dan menggunakan bahasa lugas. Namun, ada inovasi berupa kritik sosial dan ironi: orang Prancis ada karena berpikir, sementara orang Indonesia tetap ada meski tidak berpikir. Ini menunjukkan penyair mengkritik mentalitas bangsa dengan cara singkat dan tajam.
Sedangkan dalam puisi Luka karya Sutardji Calzoum Bahri, konvensi tampak pada pemilihan tema “luka” yang dekat dengan pengalaman manusia. Akan tetapi, Sutardji melakukan inovasi melalui permainan kata, pengulangan, dan bunyi, sehingga puisinya lebih ekspresif dan membebaskan kata dari makna harfiah.
Dalam puisi Teks Atas Descartes karya Remy Silado, konvensi terlihat dari bentuk puisinya yang sederhana dan menggunakan bahasa lugas. Namun, ada inovasi berupa kritik sosial dan ironi: orang Prancis ada karena berpikir, sementara orang Indonesia tetap ada meski tidak berpikir. Ini menunjukkan penyair mengkritik mentalitas bangsa dengan cara singkat dan tajam.
Sedangkan dalam puisi Luka karya Sutardji Calzoum Bahri, konvensi tampak pada pemilihan tema “luka” yang dekat dengan pengalaman manusia. Akan tetapi, Sutardji melakukan inovasi melalui permainan kata, pengulangan, dan bunyi, sehingga puisinya lebih ekspresif dan membebaskan kata dari makna harfiah.