Kiriman dibuat oleh Reva Felanisa.H

PBSI 2025 -> KRITIK DAN SARAN MATA KULIAH AGAMA ISLAM

oleh Reva Felanisa.H -
Menurut saya mata kuliah Agama Islam yang dibimbing oleh Pak Joni dan Bu Rima selaku dosen pengampu sudah sangat baik dan efektif. Cara penyampaian materi dari Pak Joni dan Bu Rima juga sangat baik, sehingga mudah dimengerti, diingat, dan dapat diimplementasikan di kehidupan sehari-hari yang pastinya sangat penting dan relevan bagi kehidupan. Terima kasih atas dedikasi, kedisiplinan, ketepatan waktu serta pembelajaran yang sangat berharga untuk kami selaku mahasiswa. Semoga Bapak dan Ibu sehat selalu, dan ilmu yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi kami semua.
1. Izin menjawab Ibu, berdasarkan teks berita. Menurut saya, isi berita tersebut menggarisbawahi betapa pentingnya perjuangan panjang para pendiri bangsa dalam meraih kemerdekaan serta pentingnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang harus dipahami dan diamalkan oleh seluruh warga Indonesia. Isi berita tersebut juga menjelaskan terkait tantangan di zaman modern ini, seperti pandemi dan globalisasi (mencakup persoalan semakin pesatnya teknologi informasi dan pola pikir), menguji kekokohan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, diangkat pula masalah penanaman nilai Pancasila kepada generasi muda yang belum optimal, sehingga ideologi lain yang tidak sesuai dengan semangat Pancasila berpotensi masuk dan berkembang. Sehingga dibutuhkan yang namanya kesadaran, pemahaman, dan pengamalan yang dilakukan bukan hanya oleh BPIP namun seluruh elemen masyarakat atau WNI terhadap nilai-nilai Pancasila, salah satu caranya adalah dengan tidak menghilangkan mata pelajaran Pancasila sebagai pelajaran dasar di sekolah-sekolah untuk terus mempelajari nilai Pancasila tersebut secara mendalam agar ideologi pancasila menjadi kokoh dan tidak dapat digantikan oleh ideologi-ideologi lain yang memecah belah bangsa atau menyimpang dari Pancasila itu sendiri. Dengan demikian, Pancasila bisa dimanfaatkan secara utuh sebagai satu ideologi yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia.

2. Menurut saya, penanaman nilai Pancasila pada generasi muda saat ini perlu diperkuat dan diperbaiki, terutama mengingat penghapusan mata pelajaran wajib Pancasila di sekolah yang mengakibatkan kurangnya pemahaman mendalam pada nilai-nilai tersebut. Hal ini penting agar generasi muda benar-benar memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga mereka mampu menolak ideologi lain yang bertentangan serta menjaga persatuan dan kesatuan antar bangsa. Untuk perbaikannya dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih menarik dan relevan, seperti memperluas metode pengajaran di sekolah-sekolah, yang tadinya hanya berupa materi, catatan, dan hafalan dikembangkan menjadi tugas pengimplementasian nilai-nilai Pancasila kepada para generasi muda sehingga pancasila bukan hanya sebuah teori yang bisa dilupakan tetapi juga sebuah pengamalan yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga dapat memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana penyesuaian zaman dari adanya globalisasi seperti membuat sebuah tugas video orasi atau video kreatif lainnya untuk memberi pengetahuan mengenai pentingnya nilai-nilai pancasila yang tidak akan terkikis oleh adanya arus globalisasi. Sehingga nilai Pancasila mudah dipahami dan dapat diaplikasikan dengan tepat di era modern ini tanpa kehilangan nilai-nilai fundamentalnya.

3. Menurut saya, pancasila sebagai ideologi negara merupakan sebuah gagasan dan cita-cita yang menjadi acuan dalam penyelenggaran negara kita dan pemerintahan di dalamnya. Sehingga dalam hal ini peran ideologi pancasila dalam mencegah tindakan intoleransi dan ketidakhormatan terhadap keberagaman yang mengatasnamakan agama sangat lah penting dan krusial dalam menjawab persoalan dan tantangan yang ada sepanjang zaman, termasuknya pada era ini. Jadi, peran Ideologi Pancasila dalam menjawab persoalan dan tantangan tersebut adalah melalui nilai-nilai yang terdapat dalam 5 sila pancasila, seperti gotong royong, keadilan sosial, kemanusiaan, ketuhanan, dan musyawarah atau demokrasi. Pancasila mengajarkan sikap saling menghormati dan hidup rukun dalam perbedaan agama serta budaya. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa mengedepankan persatuan dan toleransi sehingga dapat menjadi landasan bagi masyarakat untuk menolak sikap radikalismd atau intoleran yang mengancam kerukunan bersama. Dalam hal ini kita sebagai warga negara lah yang berperan dalam pengimplementasian nilai-nilai Pancasila tersebut agar terimplementasi secara benar dan sesuai.

4. Menurut saya, harmonisasi antara Pancasila dan agama sangat diperlukan karena Pancasila memberi ruang dan jaminan kebebasan beragama serta menghargai keberagaman keyakinan dalam bingkai persatuan bangsa. Kemudian kasus-kasus yang berkaitan dengan terorisme sudah pasti merupakan tantangan serius yang harus dihadapi untuk menjaga eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara. Terorisme yang mengatasnamakan agama jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, oleh karena itu penanggulangan dan pencegahan terorisme adalah upaya penting untuk memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi perekat dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

5. Menurut saya, gaya hidup konsumerisme yang melanda masyarakat Indonesia saat ini memang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan sila kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Konsumerisme cenderung memicu individualisme, hedonisme, dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial, sehingga mengancam semangat gotong royong dan keadilan sosial masyarakat yang menjadi inti Pancasila. Konsumerisme yang berlebihan dapat menimbulkan kesenjangan sosial dan mengurangi rasa gotong royong khususnya dalam hal perekonomian nadional. Solusi untuk menanggulanginya adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sederhana, peduli sosial, berbagi, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, serta mengedukasi generasi muda melalui pendidikan nilai-nilai Pancasila serta pemberian pendidikan keuangan sejak dini, yang dapat membentuk karakter bijak dalam mengelola keuangan dan menghindari konsumsi berlebihan agar lebih bertanggung jawab dalam aspek sosial dan lingkungan sekitar dalam gaya hidupnya. Salah satu contoh pembelajarannya adalah dengan mendorong gaya hidup minimalis yang menghargai kualitas dan kebutuhan nyata, bukan hanya sekadar mengikuti tren atau fomo pada iklan-iklan di media sosial atau budaya kebarat-barat an.