Posts made by Afita Nurmala Sari

AKM C2025 -> Diskusi

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Pencatatan, Penilaian, dan Penyajian Aset Tak Berwujud dalam Laporan Keuangan

Aset tak berwujud merupakan aset nonfisik yang memberikan manfaat ekonomi di masa depan bagi perusahaan. Menurut PSAK 19 (Revisi 2010), aset tak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi, tidak mempunyai bentuk fisik, dan dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Contohnya meliputi hak paten, merek dagang, lisensi, hak cipta, perangkat lunak (software), dan goodwill.

1. Pencatatan
Aset tak berwujud diakui dalam laporan keuangan jika dua kriteria utama terpenuhi:
1. Kemungkinan besar manfaat ekonomis masa depan akan mengalir ke entitas, dan
2. Biayanya dapat diukur secara andal.

Apabila aset tak berwujud diperoleh melalui pembelian, maka dicatat sebesar biaya perolehan, termasuk harga beli dan biaya lain yang langsung dapat diatribusikan. Namun jika diperoleh secara internal, misalnya dari hasil penelitian dan pengembangan, maka hanya biaya pengembangan (development) yang boleh diakui sebagai aset, sedangkan biaya penelitian (research) harus dibebankan langsung sebagai beban pada periode terjadinya.

2. Penilaian
Setelah diakui, aset tak berwujud dapat diukur dengan dua pendekatan:
• Model biaya (cost model): aset dicatat sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai (impairment).
• Model revaluasi (revaluation model): aset dinilai kembali berdasarkan nilai wajar pada tanggal revaluasi, dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai sesudah revaluasi.
Namun, model revaluasi hanya dapat digunakan jika terdapat pasar aktif untuk aset tak berwujud tersebut, yang dalam praktiknya jarang terjadi.

3. Penyajian dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan posisi keuangan (neraca), aset tak berwujud disajikan pada bagian aset tidak lancar, setelah aset tetap. Nilainya ditampilkan sebesar nilai tercatat (carrying amount) setelah amortisasi dan penurunan nilai.
Selain itu, dalam catatan atas laporan keuangan (CALK), perusahaan wajib mengungkapkan:
• Jenis aset tak berwujud yang dimiliki,
• Metode amortisasi dan umur manfaatnya,
• Nilai tercatat awal dan akhir periode,
• Penurunan nilai yang diakui (jika ada).

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Dalam sistem akuntansi persediaan, metode FIFO (First In, First Out) dan LIFO (Last In, First Out) memiliki pengaruh yang berbeda terhadap besarnya laba bersih, terutama ketika terjadi perubahan harga barang. Pada saat harga-harga meningkat, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO. Hal ini terjadi karena LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli — dengan harga yang lebih tinggi — dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih besar, sehingga laba bersih perusahaan berkurang.
Sebaliknya, metode FIFO mengasumsikan bahwa barang yang dibeli lebih dulu — dengan harga yang lebih rendah — dijual terlebih dahulu. Karena HPP lebih kecil, laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih besar. Dengan demikian, saat periode inflasi atau kenaikan harga, metode FIFO akan memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan LIFO.

Namun, kondisi ini akan berbalik ketika harga menurun. Dalam periode penurunan harga, LIFO menggunakan harga perolehan terbaru yang lebih rendah untuk menghitung HPP, sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih tinggi dibandingkan FIFO. Sebaliknya, FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena masih menggunakan harga lama yang lebih mahal.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa metode LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah saat harga meningkat dan lebih tinggi saat harga menurun, sedangkan FIFO menunjukkan pola yang berlawanan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan metode penilaian persediaan dapat memengaruhi laporan laba perusahaan secara signifikan tergantung pada kondisi perubahan harga pasar.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Perbandingan antara FIFO (First-in, First Out) dan rata rata tertimbang (weighted everage)
Pada FIFO , kenapa FIFO sering digunakan dibandingkan metode identifikasi khusus bagi tujuan penilaian persedian karena, arus biaya mirip arus fisik dimana sering mencerminkan arus fisik aktual yang meningkatkan relevansi biaya. Kemudian penilaian aktiva relevan dimana persediaan akhir dinilai berdasarkan biaya terbaru yang cenderung mendekati nilai pasar saat ini, menjadikannya lebih relevan untuk tujjuan penilaian asset yaitu asset di neraca. Kemudian dampak pada laba dan penilaian aktiva asset, laba saat infasi menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba kotor yang lebih tinggi. Ini menciptakan masalah karena laba yang dilaporkan mungkin tidak didasarkkan pada biaya penggantian saat ini, mengurangi kualitas pendapatan. Aktiva pada persediaan akhir menghasilkan nilai persedian akhir yang tinggi dan lebih mendekati nilai sekarang, sehingga lebih relevan untuk tujuan penilaian asset.

Rata rata tertimbang atau weighted average pada kelayakannya bisa dibilang layak karena memberikan pandangan yang lebih konservatif dan stabil terhadap biaya. Metode ini beraamsumsi bahwa semua persediaan, baik yang terjual maupun yang tersisa, memiliki biaya yang sama. Cocok untuk barang homogen di mana sulit atau tidak praktis untuk membedakan satu batch pambelian dengan batch lainnya. Kemudiaan pada aktiva persediaan akhir, nilai persediaan akhir mencerminkan biaya rata rata yang kurang relevan dibandingkan dengan FIFO karena tidak mencerminkan biaya perolehan terbaru, tetapi lebih stabil dan kurang dipengaruhi oleh fluktuassi pembelian sesaat.

Dan kesimpulannya kenapa FIFO dan rata rata tertimbang sering dipakai, karena kedua metode ini memiliki kepraktisan dan efisiensi, identifikasi khusus membutuhkan pelacakan biaya yang sangat detail untuk setiap unit, yang tidak praktis untuk perusahaan dengan volume transaksi tinggi atau barang yang homogen. Keterbatasan identifikasi khusus, identifikasi khusus hanya dapat diterapkan pada barang barang yang unik, bernilai tinggi, atau tidak dapat dipertukarkan, misalnya perhiaasan, karya seni, proyek besar. Sementara itu, Sebagian besar perusahaan menjual barang standar yang dapat dipertukarkan. Kemudian terdapat keterandalan biaya, meskipun identifikasi khusus paling akurat, ia rentan terhadap menipulasi laba karena manajemen dapat memilih unit mana yang akan dijual dan fifo serta rata rrata tertimbang lebih sulit dimmanipulasi setelah sumsi arus biaya ditetapkan. Oleh karena itulah metode FIFO dan rata rata tertimbang (weighted avarge) sering digunakan.