nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c
1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena motivasi utama adalah pengendalian risiko dan menjaga reputasi perusahaan dengan menghindari overstatement laba. Pendekatan konservatif mengutamakan pengakuan biaya lebih cepat dan pendapatan lebih hati-hati sehingga dapat mencegah risiko tuntutan hukum dan litigasi. Dampaknya, stakeholders seperti investor, pemerintah, dan masyarakat mendapat informasi yang lebih berhati-hati dan transparan, walaupun investor luar ingin laba lebih tinggi. Kebijakan ini mencerminkan tanggung jawab jangka panjang perusahaan atas dampak lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.
2. Sebagai akuntan perusahaan, sikap terbaik adalah menjaga independensi dan integritas profesional dengan tidak mengubah kebijakan akuntansi hanya karena tekanan investor. Mengikuti keinginan investor untuk laporan laba lebih tinggi tetapi mengabaikan prinsip konservatisme dan transparansi dapat bertentangan dengan etika profesi akuntan, yang menuntut kejujuran, keandalan, dan objektivitas dalam penyusunan laporan keuangan. Etika profesi mengharuskan akuntan menghindari konflik kepentingan dan menjaga kualitas informasi, sehingga tekanan eksternal tidak boleh mempengaruhi prinsip tersebut.
3. Proses penetapan standar akuntansi dipengaruhi oleh ekonomi politik karena keputusan standar bukan hanya teknis, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan politik berbagai pihak. Contohnya, di tingkat nasional, pemerintah Indonesia mengalami tekanan dari asosiasi industri dalam merumuskan standar akuntansi yang mencerminkan keberlanjutan dan transparansi sosial. Secara global, standar seperti IFRS juga dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi negara maju dan investor internasional.
4. Standar akuntansi berbasis prinsip (seperti IFRS) memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk menilai secara profesional dan menyesuaikan dengan situasi nyata, sedangkan standar berbasis aturan (seperti GAAP) lebih ketat dan detail, kurang fleksibel. Di Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih cocok karena bisa mengikuti kondisi di Indonesia. Pendekatan ini juga mendukung integrasi dengan standar internasional yang sudah diterapkan oleh banyak perusahaan besar dan mendorong transparansi.
npm : 2453031006
kelas : c
1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena motivasi utama adalah pengendalian risiko dan menjaga reputasi perusahaan dengan menghindari overstatement laba. Pendekatan konservatif mengutamakan pengakuan biaya lebih cepat dan pendapatan lebih hati-hati sehingga dapat mencegah risiko tuntutan hukum dan litigasi. Dampaknya, stakeholders seperti investor, pemerintah, dan masyarakat mendapat informasi yang lebih berhati-hati dan transparan, walaupun investor luar ingin laba lebih tinggi. Kebijakan ini mencerminkan tanggung jawab jangka panjang perusahaan atas dampak lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.
2. Sebagai akuntan perusahaan, sikap terbaik adalah menjaga independensi dan integritas profesional dengan tidak mengubah kebijakan akuntansi hanya karena tekanan investor. Mengikuti keinginan investor untuk laporan laba lebih tinggi tetapi mengabaikan prinsip konservatisme dan transparansi dapat bertentangan dengan etika profesi akuntan, yang menuntut kejujuran, keandalan, dan objektivitas dalam penyusunan laporan keuangan. Etika profesi mengharuskan akuntan menghindari konflik kepentingan dan menjaga kualitas informasi, sehingga tekanan eksternal tidak boleh mempengaruhi prinsip tersebut.
3. Proses penetapan standar akuntansi dipengaruhi oleh ekonomi politik karena keputusan standar bukan hanya teknis, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan politik berbagai pihak. Contohnya, di tingkat nasional, pemerintah Indonesia mengalami tekanan dari asosiasi industri dalam merumuskan standar akuntansi yang mencerminkan keberlanjutan dan transparansi sosial. Secara global, standar seperti IFRS juga dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi negara maju dan investor internasional.
4. Standar akuntansi berbasis prinsip (seperti IFRS) memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk menilai secara profesional dan menyesuaikan dengan situasi nyata, sedangkan standar berbasis aturan (seperti GAAP) lebih ketat dan detail, kurang fleksibel. Di Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih cocok karena bisa mengikuti kondisi di Indonesia. Pendekatan ini juga mendukung integrasi dengan standar internasional yang sudah diterapkan oleh banyak perusahaan besar dan mendorong transparansi.