གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Afita Nurmala Sari

TA C2025 -> CASE STUDY

Afita Nurmala Sari གིས-
nama : afita nurmala sari
npm 2453031006

1. Manajemen laba atau earnings management adalah cara manajemen memanipulasi laporan keuangan agar angka laba terlihat lebih baik, biasanya dengan mempercepat pengakuan pendapatan atau mengurangi biaya operasional. Di PT Karya Sentosa, terjadi kenaikan laba bersih sebesar 45% pada tahun 2022, dan analisis menunjukkan kemungkinan adanya manipulasi jenis accrual-based. Berikut penjelasan indikator-indikator utama yang mendukung dugaan ini, berdasarkan teori akuntansi:

1) Kenaikan besar pada akun piutang usaha:
Piutang usaha yang meningkat tajam bisa menunjukkan bahwa perusahaan mempercepat pengakuan pendapatan dari penjualan kredit, meskipun uang belum diterima. Ini adalah tanda bahwa perusahaan mungkin mencoba membengkakkan laba dengan metode accrual, meskipun belum ada arus kas yang nyata.
2) Penurunan cadangan kerugian piutang:
Biasanya, cadangan ini dibuat untuk menyiapkan dana menghadapi piutang yang tidak akan dibayar.Jika penurunan cadangan ini tidak wajar, bisa jadi manajemen mengurangi perkiraan kerugian agar laba terlihat lebih besar. Hal ini bertentangan dengan prinsip konservatisme dalam akuntansi (GAAP/IFRS), yang menuntut cadangan dibuat secara realistis berdasarkan data sebelumnya.
3) Peningkatan pendapatan yang tidak sesuai dengan arus kas operasi: Jika laba akuntansi meningkat tajam tetapi arus kas operasi tetap rendah, ini menunjukkan adanya perbedaan antara pendapatan yang diperhitungkan (accrual) dan kas yang benar-benar masuk.Ini bisa menjadi tanda bahwa laba dihitung berdasarkan metode accrual yang tidak didukung oleh arus kas yang cukup.

2. Dalam jurnal Abu Afifa, M., Saleh, I., Al-shoura, A., & Vo Van, H. (2024). Nexus among board characteristics, earnings management and dividend payout: evidence from an emerging market. International Journal of Emerging Markets, 19(1), 106-133 menggunakan pendekatan empiris-eksplanatori yang didasarkan pada Teori Keagenan, bertujuan untuk menguji hubungan kausal tertentu antara karakteristik dewan direksi, ML, dan kebijakan dividen di negara-negara berkembang. Metode yang mereka pilih adalah analisis regresi dengan data panel tingkat perusahaan, yang sering memanfaatkan teknik ekonometri canggih seperti GMM untuk mengatasi masalah endogenitas. Hasil utama yang didapatkan menunjukkan bahwa karakteristik dewan memiliki pengaruh signifikan dalam memoderasi hubungan antara ML dan kebijakan dividen, di mana ML dimanfaatkan oleh manajer untuk memastikan kestabilan pembayaran dividen. Sedangkan dalam jurnal Wardani, M. S., Saribu, Y. A. S. D., & Kesuma, S. A. (2023). Earnings management in corporate governance: A systematic literature review. Utsaha: Journal of Entrepreneurship, 74-94 menggunakan pendekatan Tinjauan Literatur Sistematis (SLR) dengan tujuan untuk menyatukan pemahaman mengenai hubungan antara Manajemen Laba (ML) dan Tata Kelola Perusahaan (CG). Metode yang diterapkan adalah proses SLR yang ketat, di mana dilakukan identifikasi, penyaringan, dan analisis terhadap penelitian-penelitian empiris yang relevan dari beragam basis data akademis, tanpa melakukan pengumpulan data keuangan primer. Hasil utama dari sintesis literatur ini menegaskan kesepakatan dalam Teori Keagenan, yang menunjukkan bahwa mekanisme CG yang kuat dan independen, seperti dewan yang lebih mandiri dan komite audit yang efisien, umumnya berhasil membatasi tindakan ML yang dilakukan oleh manajer. Namun, kajian ini juga menekankan adanya kekurangan dalam penelitian, terutama perlunya penyelidikan lebih lanjut mengenai peran mekanisme CG yang baru (contohnya keberagaman dewan) dan dampaknya terhadap Manajemen Laba Riil (REM), yang masih kurang dibahas dalam literatur dibandingkan dengan Manajemen Laba Berbasis Akrual.

3.Tidak, penerapan manajemen laba tidak selalu bersifat negative itu bergantung pada situasi, niat, dan konsekuensinya. Meskipun sering diasosiasikan dengan tindakan oportunis (seperti penipuan demi keuntungan pribadi), beberapa dari praktik ini dapat bersifat efisien atau menstabilkan. Manajemen laba dapat diterapkan untuk "penghalusan pendapatan", yang membantu mengurangi fluktuasi dalam laporan keuangan dan memperkuat kepercayaan para investor. Teori signaling (Spence, 1973) menjelaskan bahwa manajemen dapat mengubah laba untuk mengkomunikasikan informasi pribadi mengenai prospek ke depan, seperti mengakui pendapatan lebih cepat untuk menunjukkan adanya pertumbuhan. Riset yang dilakukan oleh Healy dan Wahlen (1999) menunjukkan bahwa perataan laba dapat menurunkan biaya modal, terutama di perusahaan yang memiliki risiko tinggi. Selain itu, dalam konteks pasar berkembang, sedikit manipulasi dapat membantu perusahaan untuk memenuhi syarat pinjaman atau investasi tanpa merusak nilai sebenarnya.

4.Kesimpulannya adalah indikator di PT Karya Sentosa menunjukkan adanya kemungkinan tindakan manajemen laba berbasis akrual yang dapat merusak kepercayaan pasar, meskipun tidak selalu berdampak negatif. Perbandingan catatan menunjukkan bahwa manipulasi akrual cenderung merugikan nilai, sedangkan kegiatan nyata dapat meningkatkan risiko. Secara keseluruhan, manajemen laba dapat memberikan dampak positif jika digunakan untuk penyeimbangan, tetapi sering kali memiliki efek negatif akibat adanya informasi yang tidak simetris.Rekomendasi untuk skateholder sendiri adalah untuk
melakukan adopsi tata kelola yang lebih baik, seperti pembentukan komite audit independen, untuk menghindari praktik manipulasi. Jika terbukti ada masalah, lakukan pernyataan ulang laporan untuk mengembalikan tingkat transparansi.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Afita Nurmala Sari གིས-
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Video dari Edspira dan artikel "Earnings Management: A Literature Review" oleh Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama membahas konsep earnings management sebagai suatu tindakan manajemen untuk mengatur atau memanipulasi laporan laba perusahaan dengan tujuan tertentu yang biasanya bukan berdasarkan alasan ekonomi sebenarnya. Dalam video, nyata bahwa earnings management tidak selalu ilegal, melainkan lebih pada timing atau pengaturan transaksi agar laba tampak naik, seperti contoh penjualan aset pada waktu tertentu guna merealisasikan keuntungan. Definisi ini senada dengan yang dibahas dalam literatur, di mana earnings management adalah intervensi disengaja dalam pelaporan keuangan melalui pilihan kebijakan akuntansi yang dapat menyesatkan pengguna laporan.

Artikel menjelaskan dua perspektif utama earnings management, yaitu opportunistic dan signaling. Perspektif opportunistic melihat earnings management sebagai tindakan manajemen untuk memaksimalkan keuntungan pribadi, misalnya mendapatkan bonus atau memenuhi kondisi perjanjian hutang, dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Sementara perspektif signaling menganggap earnings management sebagai alat komunikasi informasi manajemen kepada investor mengenai prospek perusahaan, membantu mengurangi ketidakpastian.

Mayoritas penelitian menggunakan pendekatan accrual-based karena fleksibilitas pilihan akuntansi yang ada, meskipun real earnings management juga banyak dijalankan dan sulit dideteksi auditor. Walaupun sering dipandang negatif, earnings management tidak selalu buruk—dalam batas tertentu, ia berfungsi untuk meningkatkan komunikasi perusahaan dengan pasar dan menciptakan ekspektasi laba yang lebih stabil.

Menurut saya, earnings management jika dilakukan secara moderat dan transparan, bisa membantu menyampaikan informasi yang lebih akurat tentang kondisi perusahaan ke pasar. Namun, bila dilakukan secara berlebihan demi menipu atau menutupi kinerja sebenarnya, maka akan merusak kredibilitas laporan keuangan dan berpotensi merugikan investor dan stakeholder. Oleh karena itu, earning management harus diimbangi dengan pengawasan ketat dari regulator dan auditor agar tetap pada koridor etika dan standard akuntansi yang berlaku. Dengan demikian, praktik ini bisa lebih berfungsi sebagai alat komunikasi yang sah dan bukan alat manipulasi semata.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Afita Nurmala Sari གིས-
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

Artikel berjudul “Enhancing the value of corporate sustainability: An approach for aligning multiple SDGs guides on reporting” dalam Journal of Cleaner Production membahas persoalan yang dihadapi perusahaan dalam memanfaatkan berbagai panduan pelaporan keberlanjutan yang tersedia, khususnya panduan yang berhubungan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penulis mengidentifikasi bahwa meskipun lembaga seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC) telah mengeluarkan pedoman masing-masing mengenai integrasi SDGs, masih terdapat kesenjangan dalam literatur mengenai metode yang terstruktur untuk menyelaraskan kedua panduan tersebut secara efektif. Ketiadaan pendekatan yang konsisten menyebabkan perusahaan kesulitan dalam menghasilkan pelaporan keberlanjutan yang komprehensif dan terarah.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, artikel ini menawarkan alignment framework dan alignment approach yang dirancang sebagai metode yang kuat, sistematis, dan dapat direplikasi dalam berbagai konteks. Kerangka ini bertujuan untuk mengharmonisasikan elemen pelaporan SDGs antara standar GRI dan IIRC sehingga perusahaan dapat memperoleh panduan yang lebih konsisten dan relevan. Pendekatan penyelarasan yang diusulkan tidak hanya berfokus pada integrasi konten, tetapi juga pada proses identifikasi prioritas SDGs, pemetaan indikator, serta penyelarasan tujuan strategis perusahaan dengan standar pelaporan global.

Melalui studi kasus pada empat perusahaan telekomunikasi, artikel ini menunjukkan bahwa tantangan pelaporan SDGs biasanya mencakup ketidakselarasan indikator, perbedaan penekanan antar-standar, serta keterbatasan dalam menghubungkan kinerja keberlanjutan dengan penciptaan nilai perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan metodologi penyelarasan yang diusulkan memungkinkan perusahaan memperoleh panduan yang lebih tepat sasaran, sehingga kualitas dan koherensi pelaporan SDGs meningkat secara signifikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap praktik pelaporan keberlanjutan, terutama dalam upaya memperkuat integrasi SDGs dari berbagai standar pelaporan internasional.

TA C2025 -> CASE STUDY

Afita Nurmala Sari གིས-
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

1. Tantangan utama PT Sumber Hijau
PT Sumber Hijau menghadapi dilema antara ekspansi ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Di satu sisi, perluasan ke Kalimantan Timur bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi daerah. Namun, di sisi lain, ada risiko deforestasi, gangguan terhadap masyarakat adat, serta tekanan dari LSM dan investor yang menuntut praktik berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan juga harus menyesuaikan pelaporannya dengan standar global seperti GRI dan SDGs, sementara PSAK belum secara khusus mengatur laporan keberlanjutan. Hal ini membuat integrasi antara informasi keuangan dan non-keuangan menjadi tantangan tersendiri.

2. Teori akuntansi positif dan normatif
Teori akuntansi positif menjelaskan mengapa manajemen membuat laporan tertentu berdasarkan kepentingan dan tekanan yang ada. Misalnya, PT Sumber Hijau mungkin lebih menonjolkan sisi ekonomi agar tetap mendapat dukungan investor.
Sementara itu, teori akuntansi normatif menjelaskan bagaimana seharusnya laporan dibuat, dengan menekankan etika, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Dalam kasus ini, teori normatif mendorong perusahaan untuk melaporkan dampak lingkungan dan sosial secara jujur, bukan hanya demi citra baik.
Keduanya bisa digunakan bersamaan: teori positif untuk memahami perilaku manajemen, dan teori normatif sebagai panduan membentuk kebijakan pelaporan yang lebih etis.

3. Integrasi SDGs dalam laporan keuangan
Walaupun PSAK belum mengatur secara rinci soal ESG, PT Sumber Hijau tetap bisa menggabungkan pelaporan keberlanjutan dengan laporan keuangan menggunakan beberapa pendekatan:
-Gunakan standar GRI untuk melaporkan dampak terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi, sekaligus mengaitkannya dengan SDG 13, 15, dan 8.
-Gunakan ISSB/IFRS S1–S2 untuk menampilkan risiko dan peluang keberlanjutan yang memengaruhi kondisi keuangan perusahaan.
-Tambahkan pengungkapan di catatan laporan keuangan, seperti biaya rehabilitasi lahan, estimasi liabilitas lingkungan, atau dampak perubahan iklim terhadap nilai aset.
-Sertakan bagian naratif (MD&A) yang menjelaskan bagaimana kegiatan keberlanjutan memengaruhi strategi bisnis dan prospek perusahaan.

4. Saran penyusunan narasi laporan
Agar laporan keberlanjutan diterima baik oleh masyarakat lokal dan investor global, narasinya perlu jujur, terukur, dan berbasis bukti.
Beberapa poin penting yang bisa dimasukkan:
1. Komitmen jelas terhadap SDG 13 (iklim), SDG 15 (ekosistem darat), dan SDG 8 (pekerjaan layak).
2. Penjelasan singkat tentang proses konsultasi dengan masyarakat adat dan langkah nyata melindungi hutan.
3. Data konkret, seperti jumlah tenaga kerja lokal, luas lahan yang direstorasi, serta target pengurangan emisi.
4. Bukti tata kelola yang baik, seperti adanya audit independen atau laporan pemantauan pihak ketiga.
Dengan pendekatan seperti ini, laporan PT Sumber Hijau akan terlihat kredibel dan mampu memenuhi harapan stakeholder baik di tingkat lokal maupun internasional.

TA C2025 -> DISKUSI

Afita Nurmala Sari གིས-
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Setelah saya melihat video dan membaca materi tentang sustainability dan pelaporan SDGs, saya memahami bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi bagian penting dari peran dunia usaha. SDGs mencakup 17 tujuan yang berfokus pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling berkaitan. Perusahaan memiliki kontribusi besar dalam mewujudkannya, contohnya melalui praktik bisnis yang ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya yang efisien, pemberdayaan tenaga kerja, dan juga penerapan prinsip transparansi dan anti korupsi.
Pelaporan SDGs menjadi cara bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan akuntabilitas mereka terhadap keberlanjutan. Dengan adanya pelaporan yang teratur dan terbuka, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan seperti investor, konsumen, dan masyarakat luas. Selain itu, pelaporan berkelanjutan juga memberikan manfaat nyata bagi bisnis, seperti memperkuat reputasi perusahaan, membuka peluang investasi baru, serta mendorong inovasi dalam proses dan produk yang lebih berkelanjutan. Secara keseluruhan, penerapan dan pelaporan SDGs tidak hanya tentang memenuhi kewajiban moral, tetapi juga menjadi strategi penting bagi perusahaan untuk menciptakan nilai jangka Panjang, menjaga daya saing, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih baik bagi lingkungan dan masyarakat.