Kiriman dibuat oleh Afita Nurmala Sari

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

Artikel berjudul “Enhancing the value of corporate sustainability: An approach for aligning multiple SDGs guides on reporting” dalam Journal of Cleaner Production membahas persoalan yang dihadapi perusahaan dalam memanfaatkan berbagai panduan pelaporan keberlanjutan yang tersedia, khususnya panduan yang berhubungan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penulis mengidentifikasi bahwa meskipun lembaga seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC) telah mengeluarkan pedoman masing-masing mengenai integrasi SDGs, masih terdapat kesenjangan dalam literatur mengenai metode yang terstruktur untuk menyelaraskan kedua panduan tersebut secara efektif. Ketiadaan pendekatan yang konsisten menyebabkan perusahaan kesulitan dalam menghasilkan pelaporan keberlanjutan yang komprehensif dan terarah.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, artikel ini menawarkan alignment framework dan alignment approach yang dirancang sebagai metode yang kuat, sistematis, dan dapat direplikasi dalam berbagai konteks. Kerangka ini bertujuan untuk mengharmonisasikan elemen pelaporan SDGs antara standar GRI dan IIRC sehingga perusahaan dapat memperoleh panduan yang lebih konsisten dan relevan. Pendekatan penyelarasan yang diusulkan tidak hanya berfokus pada integrasi konten, tetapi juga pada proses identifikasi prioritas SDGs, pemetaan indikator, serta penyelarasan tujuan strategis perusahaan dengan standar pelaporan global.

Melalui studi kasus pada empat perusahaan telekomunikasi, artikel ini menunjukkan bahwa tantangan pelaporan SDGs biasanya mencakup ketidakselarasan indikator, perbedaan penekanan antar-standar, serta keterbatasan dalam menghubungkan kinerja keberlanjutan dengan penciptaan nilai perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan metodologi penyelarasan yang diusulkan memungkinkan perusahaan memperoleh panduan yang lebih tepat sasaran, sehingga kualitas dan koherensi pelaporan SDGs meningkat secara signifikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap praktik pelaporan keberlanjutan, terutama dalam upaya memperkuat integrasi SDGs dari berbagai standar pelaporan internasional.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

1. Tantangan utama PT Sumber Hijau
PT Sumber Hijau menghadapi dilema antara ekspansi ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Di satu sisi, perluasan ke Kalimantan Timur bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi daerah. Namun, di sisi lain, ada risiko deforestasi, gangguan terhadap masyarakat adat, serta tekanan dari LSM dan investor yang menuntut praktik berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan juga harus menyesuaikan pelaporannya dengan standar global seperti GRI dan SDGs, sementara PSAK belum secara khusus mengatur laporan keberlanjutan. Hal ini membuat integrasi antara informasi keuangan dan non-keuangan menjadi tantangan tersendiri.

2. Teori akuntansi positif dan normatif
Teori akuntansi positif menjelaskan mengapa manajemen membuat laporan tertentu berdasarkan kepentingan dan tekanan yang ada. Misalnya, PT Sumber Hijau mungkin lebih menonjolkan sisi ekonomi agar tetap mendapat dukungan investor.
Sementara itu, teori akuntansi normatif menjelaskan bagaimana seharusnya laporan dibuat, dengan menekankan etika, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Dalam kasus ini, teori normatif mendorong perusahaan untuk melaporkan dampak lingkungan dan sosial secara jujur, bukan hanya demi citra baik.
Keduanya bisa digunakan bersamaan: teori positif untuk memahami perilaku manajemen, dan teori normatif sebagai panduan membentuk kebijakan pelaporan yang lebih etis.

3. Integrasi SDGs dalam laporan keuangan
Walaupun PSAK belum mengatur secara rinci soal ESG, PT Sumber Hijau tetap bisa menggabungkan pelaporan keberlanjutan dengan laporan keuangan menggunakan beberapa pendekatan:
-Gunakan standar GRI untuk melaporkan dampak terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi, sekaligus mengaitkannya dengan SDG 13, 15, dan 8.
-Gunakan ISSB/IFRS S1–S2 untuk menampilkan risiko dan peluang keberlanjutan yang memengaruhi kondisi keuangan perusahaan.
-Tambahkan pengungkapan di catatan laporan keuangan, seperti biaya rehabilitasi lahan, estimasi liabilitas lingkungan, atau dampak perubahan iklim terhadap nilai aset.
-Sertakan bagian naratif (MD&A) yang menjelaskan bagaimana kegiatan keberlanjutan memengaruhi strategi bisnis dan prospek perusahaan.

4. Saran penyusunan narasi laporan
Agar laporan keberlanjutan diterima baik oleh masyarakat lokal dan investor global, narasinya perlu jujur, terukur, dan berbasis bukti.
Beberapa poin penting yang bisa dimasukkan:
1. Komitmen jelas terhadap SDG 13 (iklim), SDG 15 (ekosistem darat), dan SDG 8 (pekerjaan layak).
2. Penjelasan singkat tentang proses konsultasi dengan masyarakat adat dan langkah nyata melindungi hutan.
3. Data konkret, seperti jumlah tenaga kerja lokal, luas lahan yang direstorasi, serta target pengurangan emisi.
4. Bukti tata kelola yang baik, seperti adanya audit independen atau laporan pemantauan pihak ketiga.
Dengan pendekatan seperti ini, laporan PT Sumber Hijau akan terlihat kredibel dan mampu memenuhi harapan stakeholder baik di tingkat lokal maupun internasional.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Setelah saya melihat video dan membaca materi tentang sustainability dan pelaporan SDGs, saya memahami bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi bagian penting dari peran dunia usaha. SDGs mencakup 17 tujuan yang berfokus pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling berkaitan. Perusahaan memiliki kontribusi besar dalam mewujudkannya, contohnya melalui praktik bisnis yang ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya yang efisien, pemberdayaan tenaga kerja, dan juga penerapan prinsip transparansi dan anti korupsi.
Pelaporan SDGs menjadi cara bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan akuntabilitas mereka terhadap keberlanjutan. Dengan adanya pelaporan yang teratur dan terbuka, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan seperti investor, konsumen, dan masyarakat luas. Selain itu, pelaporan berkelanjutan juga memberikan manfaat nyata bagi bisnis, seperti memperkuat reputasi perusahaan, membuka peluang investasi baru, serta mendorong inovasi dalam proses dan produk yang lebih berkelanjutan. Secara keseluruhan, penerapan dan pelaporan SDGs tidak hanya tentang memenuhi kewajiban moral, tetapi juga menjadi strategi penting bagi perusahaan untuk menciptakan nilai jangka Panjang, menjaga daya saing, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih baik bagi lingkungan dan masyarakat.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena motivasi utama adalah pengendalian risiko dan menjaga reputasi perusahaan dengan menghindari overstatement laba. Pendekatan konservatif mengutamakan pengakuan biaya lebih cepat dan pendapatan lebih hati-hati sehingga dapat mencegah risiko tuntutan hukum dan litigasi. Dampaknya, stakeholders seperti investor, pemerintah, dan masyarakat mendapat informasi yang lebih berhati-hati dan transparan, walaupun investor luar ingin laba lebih tinggi. Kebijakan ini mencerminkan tanggung jawab jangka panjang perusahaan atas dampak lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.
2. Sebagai akuntan perusahaan, sikap terbaik adalah menjaga independensi dan integritas profesional dengan tidak mengubah kebijakan akuntansi hanya karena tekanan investor. Mengikuti keinginan investor untuk laporan laba lebih tinggi tetapi mengabaikan prinsip konservatisme dan transparansi dapat bertentangan dengan etika profesi akuntan, yang menuntut kejujuran, keandalan, dan objektivitas dalam penyusunan laporan keuangan. Etika profesi mengharuskan akuntan menghindari konflik kepentingan dan menjaga kualitas informasi, sehingga tekanan eksternal tidak boleh mempengaruhi prinsip tersebut.
3. Proses penetapan standar akuntansi dipengaruhi oleh ekonomi politik karena keputusan standar bukan hanya teknis, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan politik berbagai pihak. Contohnya, di tingkat nasional, pemerintah Indonesia mengalami tekanan dari asosiasi industri dalam merumuskan standar akuntansi yang mencerminkan keberlanjutan dan transparansi sosial. Secara global, standar seperti IFRS juga dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi negara maju dan investor internasional.
4. ⁠Standar akuntansi berbasis prinsip (seperti IFRS) memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk menilai secara profesional dan menyesuaikan dengan situasi nyata, sedangkan standar berbasis aturan (seperti GAAP) lebih ketat dan detail, kurang fleksibel. Di Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih cocok karena bisa mengikuti kondisi di Indonesia. Pendekatan ini juga mendukung integrasi dengan standar internasional yang sudah diterapkan oleh banyak perusahaan besar dan mendorong transparansi.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

Dari kedua jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi sangat penting karena akuntansi tidak hanya sekadar proses teknis pengolahan dan pelaporan informasi keuangan, tetapi juga melibatkan perilaku manusia yang memengaruhi bagaimana informasi tersebut dipahami, digunakan, dan dijalankan dalam praktik.

Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Perilaku akuntansi menghubungkan ilmu perilaku manusia seperti psikologi dan sosiologi dengan praktik akuntansi, yang mencakup sikap, motivasi, persepsi, emosi, dan nilai yang dimiliki para pelaku akuntansi. Aspek ini penting karena perilaku manusia, termasuk bias kognitif seperti overconfidence, confirmation bias, dan heuristik, dapat menyebabkan distorsi dalam interpretasi dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi akuntansi. Selain itu, budaya organisasi, kepercayaan, dan norma sosial ikut memediasi penerimaan dan penggunaan sistem akuntansi sehingga tidak hanya aspek rasional yang berperan, namun juga faktor sosial dan psikologis.

Urgensi Aspek Perilaku
Urgensi memahami aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada kenyataan bahwa keputusan keuangan tidak selalu didasarkan pada rasionalitas sempurna. Kesalahan persepsi dan bias dapat mengakibatkan keputusan yang suboptimal atau bahkan manipulasi akuntansi (contohnya skandal Enron). Dengan pemahaman perilaku, desain sistem akuntansi dapat dioptimalkan untuk meminimalisasi pengaruh bias tersebut, meningkatkan akurasi dan keandalan informasi keuangan serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik. Disamping itu, pemahaman aspek perilaku yang baik mendorong penerapan etika dan kepercayaan yang esensial dalam profesi akuntansi.

Proses Standard-Setting & Ekonomi Politik
Proses standard-setting akuntansi tidak hanya melibatkan pertimbangan teknis dan ekonomis, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan politik. Proses ini dibentuk oleh interaksi antara berbagai pemangku kepentingan (regulator, profesi, bisnis, publik) yang memiliki kepentingan berbeda, serta dipengaruhi oleh kekuatan politik, budaya organisasi, dan faktor ekonomi. Keputusan standarisasi sering melibatkan negosiasi dan kompromi yang mencerminkan kekuasaan dan pengaruh kelompok tertentu. Oleh karena itu, aspek ekonomi politik menjadi krusial dalam menentukan standar yang disetujui dan diimplementasikan. Proses ini juga dipengaruhi oleh persepsi, sikap, dan motivasi stakeholder yang menjadi bagian dari perilaku dalam akuntansi.