Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093
1. Dua basis pengukuran yang relevan
Pada kasus PT Surya Terang, basis yang relevan adalah biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis mencatat aset berdasarkan harga perolehan dikurangi penyusutan, kelebihannya objektif, stabil, dan mudah diverifikasi, tetapi kurang relevan jika nilai pasar berubah drastis. Nilai wajar mencerminkan harga pasar saat ini sehingga lebih informatif bagi pengambilan keputusan, namun pengukurannya bisa subjektif, fluktuatif, dan membutuhkan biaya penilaian tambahan.
2. Implikasi akuntansi dari model revaluasi
Jika menggunakan model revaluasi, mesin dicatat sebesar Rp400.000.000 sesuai nilai wajar, turun dari Rp600.000.000. Selisih Rp200.000.000 diakui sebagai rugi revaluasi dalam laba rugi, kecuali ada saldo surplus revaluasi di ekuitas. Selain itu, dasar perhitungan penyusutan berubah karena menggunakan nilai baru dikurangi nilai residu, lalu dibagi dengan sisa umur manfaat.
3. Nilai wajar vs biaya historis
Dalam konteks ini, nilai wajar lebih relevan karena mencerminkan kondisi terkini setelah adanya teknologi baru, sementara biaya historis memberi gambaran yang kurang akurat. Dari sisi keandalan, biaya historis lebih tinggi karena berbasis transaksi nyata, namun informasinya kurang berguna jika jauh dari nilai pasar. Nilai wajar memang lebih rentan estimasi, tetapi tetap lebih bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan.
NPM : 2413031093
1. Dua basis pengukuran yang relevan
Pada kasus PT Surya Terang, basis yang relevan adalah biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis mencatat aset berdasarkan harga perolehan dikurangi penyusutan, kelebihannya objektif, stabil, dan mudah diverifikasi, tetapi kurang relevan jika nilai pasar berubah drastis. Nilai wajar mencerminkan harga pasar saat ini sehingga lebih informatif bagi pengambilan keputusan, namun pengukurannya bisa subjektif, fluktuatif, dan membutuhkan biaya penilaian tambahan.
2. Implikasi akuntansi dari model revaluasi
Jika menggunakan model revaluasi, mesin dicatat sebesar Rp400.000.000 sesuai nilai wajar, turun dari Rp600.000.000. Selisih Rp200.000.000 diakui sebagai rugi revaluasi dalam laba rugi, kecuali ada saldo surplus revaluasi di ekuitas. Selain itu, dasar perhitungan penyusutan berubah karena menggunakan nilai baru dikurangi nilai residu, lalu dibagi dengan sisa umur manfaat.
3. Nilai wajar vs biaya historis
Dalam konteks ini, nilai wajar lebih relevan karena mencerminkan kondisi terkini setelah adanya teknologi baru, sementara biaya historis memberi gambaran yang kurang akurat. Dari sisi keandalan, biaya historis lebih tinggi karena berbasis transaksi nyata, namun informasinya kurang berguna jika jauh dari nilai pasar. Nilai wajar memang lebih rentan estimasi, tetapi tetap lebih bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan.