Posts made by Rulla Alifah

TA C2025 -> CASE STUDY

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena ingin berhati-hati terhadap ketidakpastian biaya reklamasi tambang dan menunjukkan tanggung jawab lingkungan. Motivasinya didasari oleh prinsip kehati-hatian (prudence), menjaga reputasi perusahaan, serta mematuhi peraturan agar laporan keuangan tetap andal. Dampaknya, keputusan ini memberi citra positif bagi pemerintah dan masyarakat karena menonjolkan transparansi dan tanggung jawab sosial. Namun, bagi investor yang berorientasi pada laba tinggi, kebijakan ini bisa dianggap menekan profitabilitas dan menurunkan daya tarik investasi.

2. Sebagai akuntan, tekanan dari investor luar negeri agar menggunakan metode agresif harus disikapi dengan berpegang pada kode etik profesi, yaitu integritas, objektivitas, dan tanggung jawab profesional. Mengubah kebijakan hanya untuk menaikkan laba tanpa dasar akuntansi yang sah bertentangan dengan etika profesi, karena dapat menyesatkan pengguna laporan dan merusak keandalan informasi keuangan. Akuntan harus tetap independen dan memastikan laporan mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, bukan kepentingan pihak tertentu.

3. Proses penyusunan standar akuntansi sering dipengaruhi oleh kekuatan politik dan ekonomi. Dalam kasus ini, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan dari asosiasi industri tambang yang ingin mempertahankan standar yang menguntungkan mereka. Di tingkat global, lembaga seperti IASB juga sering dipengaruhi oleh lobi perusahaan besar dan kekuatan pasar modal internasional. Hal ini menunjukkan bahwa standard-setting bukan murni proses teknis, melainkan hasil kompromi antara kepentingan ekonomi, politik, dan sosial.

4. IFRS yang berbasis prinsip lebih fleksibel dan menekankan pada substansi ekonomi transaksi, sementara GAAP yang berbasis aturan lebih ketat dan rinci. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip (IFRS) lebih relevan karena mendukung transparansi, akuntabilitas, serta penilaian profesional yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial yang beragam. Pendekatan ini juga sejalan dengan arah pengembangan standar nasional yang menekankan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

TA C2025 -> DISKUSI

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Menurut pendpat saya aspek perilaku dalam akuntansi membahas bagaimana sikap, motivasi, persepsi, nilai, dan kepribadian seseorang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan dan penyusunan laporan keuangan. Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka dan prosedur teknis, tetapi juga melibatkan unsur psikologis dan sosial dari individu dalam organisasi. Faktor-faktor seperti bias kognitif, tekanan emosional, serta lingkungan kerja dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan menggunakan informasi akuntansi, seperti melalui overconfidence, confirmation bias, atau framing effect. Oleh karena itu, memahami perilaku manusia sangat penting agar sistem akuntansi dapat dirancang lebih manusiawi, transparan, dan beretika. Akuntansi keperilakuan berperan penting dalam meningkatkan mutu keputusan manajerial, mencegah penyimpangan seperti manipulasi laporan keuangan, serta menanamkan nilai integritas dan kesadaran etis dalam profesi akuntansi.

Selain itu, proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku dan dinamika ekonomi politik. Pembentukan standar tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh interaksi sosial dan kepentingan berbagai pihak seperti regulator, pemerintah, perusahaan, dan profesi akuntan. Tiap pihak memiliki dorongan dan pandangan berbeda yang dapat memengaruhi arah kebijakan melalui proses negosiasi atau lobbying. Dengan demikian, memahami dimensi perilaku dan politik ekonomi dalam penyusunan standar menjadi penting agar hasilnya lebih realistis, dapat diterima luas, serta seimbang antara kepentingan teknis, etika, dan publik dalam praktik akuntansi.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), metode LIFO (Last In, First Out) biasanya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah ketika harga barang meningkat. Hal ini disebabkan karena LIFO menganggap persediaan terakhir yang dibeli dengan harga yang lebih tinggi sebagai barang yang dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan meningkat dan laba bersih menurun. Sebaliknya, pada saat harga menurun, metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan FIFO.

Hal ini terjadi karena persediaan yang baru dibeli dengan harga lebih rendah diakui terlebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan menjadi lebih kecil dan laba bersih meningkat. Dengan demikian, arah perubahan harga sangat memengaruhi hasil laba: ketika harga naik, LIFO menurunkan laba, sedangkan saat harga turun, LIFO meningkatkan laba dibandingkan metode FIFO.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Metode FIFO (First In, First Out), rata-rata tertimbang, dan LIFO (Last In, First Out) lebih umum digunakan dibandingkan metode identifikasi khusus karena lebih mudah diterapkan pada perusahaan dengan jumlah persediaan besar dan jenis barang yang seragam. Pada metode FIFO, barang yang pertama kali dibeli dianggap dijual terlebih dahulu, sehingga nilai persediaan akhir mencerminkan harga pembelian yang paling baru. Metode ini memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap nilai aset, terutama saat harga barang mengalami kenaikan. Sementara itu, metode rata-rata tertimbang menentukan biaya per unit dengan menghitung rata-rata dari seluruh harga pembelian, sehingga fluktuasi harga dapat diimbangi dan laba yang dihasilkan lebih stabil. Berbeda dengan itu, metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli dijual terlebih dahulu. Dalam situasi harga meningkat, metode ini menghasilkan harga pokok penjualan yang lebih tinggi dan laba yang lebih rendah, tetapi lebih mencerminkan biaya terkini dalam laporan laba rugi.

Sedangkan metode identifikasi khusus digunakan untuk barang-barang unik atau bernilai tinggi seperti mobil, perhiasan, atau properti, karena setiap item memiliki karakteristik dan harga yang berbeda. Secara teori, metode ini paling akurat dalam mencocokkan biaya dengan pendapatan sebenarnya, tetapi tidak efisien diterapkan pada perusahaan dengan banyak barang serupa karena memerlukan pencatatan detail dan biaya tinggi. Oleh karena itu, meskipun metode identifikasi khusus unggul dari segi ketepatan, metode FIFO, LIFO, dan rata-rata tertimbang dinilai lebih praktis dan efisien untuk digunakan secara luas dalam penilaian persediaan.