Posts made by Rulla Alifah

TA C2025 -> DISKUSI

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Video berjudul “Reporting on SDGs” membahas secara ringkas namun mendalam mengenai pentingnya pelaporan Sustainable Development Goals (SDGs) bagi dunia usaha serta bagaimana proses pelaporan tersebut dilakukan. Dalam video ini dijelaskan bahwa pelaporan SDGs tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kewajiban administratif atau formalitas semata, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Dengan melaksanakan pelaporan yang baik, perusahaan dapat memperkuat reputasi, meningkatkan kepercayaan publik, serta menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan. Lebih lanjut, video ini memaparkan tahapan penting dalam proses pelaporan SDGs. Tahap pertama adalah melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan SDGs yang paling relevan dengan aktivitas dan dampak perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Setelah itu, perusahaan perlu menetapkan target yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART). Tahap berikutnya adalah menyusun laporan yang menggambarkan kemajuan pencapaian target tersebut secara transparan dan akuntabel, sehingga para pemangku kepentingan, termasuk investor, pelanggan, dan masyarakat, dapat menilai sejauh mana komitmen keberlanjutan perusahaan telah dijalankan. Secara keseluruhan, esensi dari video ini adalah untuk mendorong perusahaan agar tidak hanya berkontribusi terhadap pencapaian SDGs secara simbolis, tetapi benar-benar mengintegrasikannya ke dalam strategi bisnis inti. Dengan demikian, pelaporan SDGs dapat menjadi alat strategis untuk memperlihatkan tanggung jawab sosial, menarik investor yang peduli pada isu lingkungan dan sosial, sekaligus membantu perusahaan dalam mengelola risiko non-finansial yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjang mereka.

TA C2025 -> CASE STUDY

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. PT Sumber Hijau menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan ekspansi bisnis dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Ekspansi ke Kalimantan Timur berisiko menimbulkan deforestasi serta konflik dengan masyarakat adat. Di sisi lain, tekanan dari LSM dan investor global menuntut transparansi dan kepatuhan pada prinsip ESG. Keterbatasan PSAK dalam mengatur pelaporan keberlanjutan serta kurangnya data lingkungan membuat integrasi antara laporan keuangan dan laporan ESG menjadi sulit.

2. Teori akuntansi positif menjelaskan bahwa pelaporan keberlanjutan dilakukan karena tekanan pasar dan dorongan ekonomi, seperti tuntutan investor dan reputasi. Sementara teori normatif menekankan pelaporan yang etis dan bertanggung jawab terhadap dampak sosial dan lingkungan. Kombinasi keduanya membantu PT Sumber Hijau memahami alasan praktis dan moral di balik pelaporan keberlanjutan agar lebih transparan dan berintegritas.

3. Walau PSAK belum mengatur pelaporan ESG, PT Sumber Hijau dapat menggunakan standar global seperti GRI, TCFD, dan ISSB untuk mengaitkan laporan keberlanjutan dengan SDGs 13, 15, dan 8. Informasi mengenai risiko lingkungan, biaya mitigasi, serta dampak sosial dapat dimasukkan ke bagian MD&A atau catatan laporan keuangan. Dengan menghubungkan indikator keberlanjutan seperti emisi, konservasi, dan tenaga kerja lokal ke data keuangan, perusahaan dapat menunjukkan kontribusi nyata terhadap ekonomi dan lingkungan.

4. Narasi laporan keberlanjutan sebaiknya disusun secara jujur, berbasis data, dan menekankan komitmen terhadap prinsip no deforestation serta penghormatan hak masyarakat adat melalui FPIC. Laporan perlu menampilkan dampak positif bagi ekonomi lokal sekaligus kinerja lingkungan yang terukur dan diaudit independen. Dengan mengaitkan setiap program ke SDGs, PT Sumber Hijau dapat memenuhi harapan masyarakat lokal dan investor global serta memperkuat kepercayaan publik.

TA C2025 -> e-journal

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Artikel “Enhancing the Value of Corporate Sustainability: An Approach for Aligning Multiple SDGs Guides on Reporting” membahas cara meningkatkan efektivitas dan nilai strategis pelaporan keberlanjutan perusahaan melalui penyelarasan panduan Sustainable Development Goals (SDGs) dari Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC). Penulis menyoroti bahwa banyak perusahaan menghadapi kesulitan dalam menerapkan berbagai panduan SDGs yang sering kali tumpang tindih, sehingga dibutuhkan kerangka dan pendekatan penyelarasan yang terpadu. Dengan mengembangkan alignment framework dan alignment approach, penelitian ini menawarkan metode sistematis bagi perusahaan untuk mengintegrasikan panduan SDGs ke dalam strategi, akuntansi, dan pelaporan keberlanjutan mereka. Studi pada empat perusahaan telekomunikasi menunjukkan bahwa penyelarasan ini mampu meningkatkan kualitas dan konsistensi pelaporan, memperkuat hubungan antara strategi bisnis dan tujuan keberlanjutan, serta memperluas kontribusi perusahaan terhadap pencapaian SDGs secara global.

AKM C2025 -> Diskusi

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

Aset tetap dan properti investasi memiliki perbedaan utama dalam tujuan penggunaannya. Berdasarkan PSAK 16, aset tetap merupakan aset berwujud yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan seperti produksi barang, penyediaan jasa, atau keperluan administratif, contohnya mesin, kendaraan, dan gedung kantor. Sedangkan menurut PSAK 13, properti investasi adalah tanah atau bangunan yang dimiliki bukan untuk digunakan dalam kegiatan operasional, tetapi untuk memperoleh pendapatan sewa atau keuntungan dari kenaikan nilai (capital gain). Dari sisi pengukuran, aset tetap diakui sebesar biaya perolehan dan dapat direvaluasi, sementara properti investasi dapat diukur dengan model biaya atau nilai wajar.

Jika saya diminta memilih, saya akan memilih membeli properti investasi karena jenis aset ini dapat memberikan pendapatan pasif berkelanjutan melalui sewa dan memiliki potensi peningkatan nilai di masa depan. Selain itu, properti investasi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan dan meningkatkan nilai perusahaan tanpa perlu terlibat langsung dalam kegiatan operasional, sehingga lebih menguntungkan dibandingkan aset tetap.

TA C2025 -> CASE STUDY

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena ingin berhati-hati terhadap ketidakpastian biaya reklamasi tambang dan menunjukkan tanggung jawab lingkungan. Motivasinya didasari oleh prinsip kehati-hatian (prudence), menjaga reputasi perusahaan, serta mematuhi peraturan agar laporan keuangan tetap andal. Dampaknya, keputusan ini memberi citra positif bagi pemerintah dan masyarakat karena menonjolkan transparansi dan tanggung jawab sosial. Namun, bagi investor yang berorientasi pada laba tinggi, kebijakan ini bisa dianggap menekan profitabilitas dan menurunkan daya tarik investasi.

2. Sebagai akuntan, tekanan dari investor luar negeri agar menggunakan metode agresif harus disikapi dengan berpegang pada kode etik profesi, yaitu integritas, objektivitas, dan tanggung jawab profesional. Mengubah kebijakan hanya untuk menaikkan laba tanpa dasar akuntansi yang sah bertentangan dengan etika profesi, karena dapat menyesatkan pengguna laporan dan merusak keandalan informasi keuangan. Akuntan harus tetap independen dan memastikan laporan mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, bukan kepentingan pihak tertentu.

3. Proses penyusunan standar akuntansi sering dipengaruhi oleh kekuatan politik dan ekonomi. Dalam kasus ini, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan dari asosiasi industri tambang yang ingin mempertahankan standar yang menguntungkan mereka. Di tingkat global, lembaga seperti IASB juga sering dipengaruhi oleh lobi perusahaan besar dan kekuatan pasar modal internasional. Hal ini menunjukkan bahwa standard-setting bukan murni proses teknis, melainkan hasil kompromi antara kepentingan ekonomi, politik, dan sosial.

4. IFRS yang berbasis prinsip lebih fleksibel dan menekankan pada substansi ekonomi transaksi, sementara GAAP yang berbasis aturan lebih ketat dan rinci. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip (IFRS) lebih relevan karena mendukung transparansi, akuntabilitas, serta penilaian profesional yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial yang beragam. Pendekatan ini juga sejalan dengan arah pengembangan standar nasional yang menekankan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.