Kiriman dibuat oleh Rency Husna Adinda

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. PT Lestari Mineral menerapkan kebijakan akuntansi konservatif dengan tujuan menampilkan laporan keuangan yang lebih transparan dan berhati-hati. Langkah ini diambil agar sejalan dengan ketentuan regulasi yang semakin ketat serta menjaga kepercayaan investor. Dampaknya, para pemangku kepentingan menilai perusahaan lebih dapat dipercaya karena laporan keuangan disusun secara realistis, meskipun laba tampak lebih rendah.
2. Jika dikaitkan dengan Positive Accounting Theory, tindakan PT Lestari Mineral paling relevan dengan Political Cost Hypothesis. Perusahaan cenderung menurunkan laba agar tidak menjadi sorotan publik, menghindari tekanan politik, serta meminimalkan beban pajak dan pengawasan pemerintah yang ketat terhadap industri pertambangan.
3. Penerapan standar akuntansi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan politik, seperti arah kebijakan pemerintah, perkembangan pasar modal, dan dorongan penyesuaian terhadap standar global. Hal ini menunjukkan bahwa standar akuntansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan bagian dari strategi untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi nasional.
4. Pendekatan IFRS yang berbasis prinsip memberikan fleksibilitas bagi profesional akuntansi untuk menilai secara rasional, sedangkan GAAP yang berbasis aturan lebih terperinci dan kaku. Dalam konteks Indonesia, IFRS dianggap lebih sesuai karena PSAK telah mengadopsinya untuk menyesuaikan dengan praktik internasional dan meningkatkan kredibilitas laporan keuangan di mata investor global.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

JAWABAN:
1. Instrumen keuangan adalah perjanjian yang menimbulkan aset bagi satu pihak dan kewajiban bagi pihak lain, terdiri dari instrumen primer (kas, piutang, utang, saham) dan derivatif (opsi, futures, swap).
2. Kas mencakup uang tunai dan saldo bank. Pengendaliannya dilakukan dengan pemisahan tugas, penggunaan bukti transaksi, rekonsiliasi rutin, dan pengawasan manajemen.
3. Kas disajikan di aset lancar dan diungkapkan komponen, hubungan saldo antar laporan, serta batasan penggunaannya.
4. “Terima” berarti penerimaan kas dari aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan, yang diakui saat kas benar-benar diterima.
5. Kas dinilai sebesar nilai nominalnya, tidak mengalami penurunan nilai, disajikan di aset lancar, dan diungkapkan kebijakan serta batasan penggunaannya.
6. Analisis kas dan utang menilai kemampuan perusahaan membayar kewajiban, melalui rasio likuiditas, rasio kas terhadap utang, dan arus kas operasi.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

JAWABAN
1. Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Theory – PAT) berfokus untuk memahami dan memprediksi perilaku manajemen dalam menentukan kebijakan akuntansi yang digunakan, bukan menetapkan metode mana yang seharusnya dipilih seperti dalam teori normatif. Teori ini terdiri atas tiga hipotesis utama, yaitu:
• Bonus Plan Hypothesis, yang menyatakan bahwa manajer dengan sistem bonus berdasarkan laba cenderung memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba perusahaan.
• Debt Covenant Hypothesis, yang menjelaskan bahwa manajer pada perusahaan dengan tingkat utang tinggi akan berusaha memilih metode yang menambah laba agar tidak melanggar perjanjian utang.
• Political Cost Hypothesis, yang menggambarkan bahwa manajer di perusahaan besar cenderung menurunkan laba untuk menghindari sorotan publik serta mengurangi tekanan politik, seperti pajak yang tinggi atau tuntutan sosial.
Dalam konteks PT IndoEnergi, perubahan metode depresiasi dari garis lurus menjadi saldo menurun ganda menyebabkan penurunan laba pada tahun berjalan. Berdasarkan teori akuntansi positif, hal ini dapat dijelaskan melalui Political Cost Hypothesis, di mana manajemen berupaya menekan laba agar beban pajak lebih rendah, tekanan dari pemerintah maupun investor berkurang, serta ekspektasi dividen menurun sehingga dana dapat dialokasikan untuk proyek energi baru. Dengan demikian, keputusan tersebut dapat dianggap sebagai langkah rasional untuk meminimalkan biaya politik dan fiskal, bukan semata tindakan manipulatif.

2. Dalam GAAP (AS), perusahaan boleh memilih metode depresiasi seperti garis lurus atau saldo menurun ganda, asalkan konsisten dan memiliki alasan ekonomi yang jelas. IFRS juga mengizinkan perubahan metode jika pola penggunaan aset berubah, misalnya ketika aset digunakan lebih intensif. Namun, bila perubahan dilakukan untuk tujuan pajak atau manipulasi laba, hal itu tergolong earnings management. Jadi, praktik seperti PT IndoEnergi bisa saja terjadi, tetapi harus disertai alasan ekonomi yang kuat agar sesuai standar.

3. Teori akuntansi positif mampu menjelaskan alasan ekonomi di balik keputusan manajemen. Meski demikian, teori ini terbatas karena terlalu menitikberatkan pada kepentingan ekonomi dan kurang memperhatikan aspek etika, tanggung jawab sosial, serta transparansi yang penting dalam praktik global. Dalam konteks IFRS, keputusan akuntansi juga harus mempertimbangkan akuntabilitas dan keandalan informasi bagi pemangku kepentingan. Karena itu, meskipun relevan untuk menjelaskan kasus PT IndoEnergi, teori ini tetap perlu dilengkapi dengan pertimbangan etika dan regulasi internasional agar lebih menyeluruh.

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

Jurnal pertama berjudul “Perbandingan Pendekatan Teori Normatif dan Positif dalam Kebijakan Akuntansi pada PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk” mengulas penerapan dua pendekatan teori akuntansi dalam praktik perusahaan besar Indonesia yang bergerak di sektor berbeda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa PT Astra International Tbk yang berfokus pada manufaktur lebih cenderung menerapkan pendekatan normatif, yaitu berorientasi pada kepatuhan terhadap standar akuntansi, prinsip kehati-hatian, dan stabilitas operasional. Karakteristik sektor manufaktur yang berhubungan dengan aset tetap dan biaya produksi besar membuat kebijakan akuntansi perusahaan ini lebih konservatif. Di sisi lain, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bergerak di bidang teknologi lebih menerapkan pendekatan positif, di mana kebijakan akuntansi disesuaikan dengan kondisi bisnis yang cepat berubah, terutama dalam pengelolaan aset tidak berwujud dan inovasi teknologi. Penulis menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut saling mendukung pendekatan normatif menjaga keandalan laporan keuangan, sementara pendekatan positif memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan strategi perusahaan terhadap perubahan lingkungan bisnis.

Jurnal kedua yang membahas teori dasar dari Positive Accounting Theory (PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman. Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa teori positif berupaya memahami serta memprediksi alasan manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi tertentu. Pendekatan ini menyoroti tiga hipotesis utama, yaitu bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis, yang menjelaskan bagaimana insentif ekonomi dan tekanan eksternal memengaruhi keputusan akuntansi. Meskipun teori ini memberikan pandangan realistis terhadap perilaku manajer, penulis juga mengakui kelemahannya karena terlalu menekankan kepentingan ekonomi dan kurang mempertimbangkan nilai etika serta aspek sosial. Oleh sebab itu, teori positif sebaiknya dilengkapi dengan pendekatan normatif agar kebijakan akuntansi tetap berlandaskan pada tanggung jawab moral dan profesionalisme.

Dari kedua jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa teori normatif dan teori positif memiliki peran yang saling melengkapi dalam praktik akuntansi. Jurnal 1 memberikan contoh penerapan konkret kedua teori di perusahaan Indonesia, sedangkan jurnal 2 menjelaskan dasar teorinya secara konseptual. Kombinasi keduanya menggambarkan bahwa praktik akuntansi yang ideal tidak hanya menyesuaikan diri dengan kenyataan ekonomi, tetapi juga harus memegang prinsip etika, transparansi, dan keandalan agar mampu menjaga kepercayaan publik serta keberlanjutan perusahaan.