Kiriman dibuat oleh Rency Husna Adinda

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. Analisis
Lonjakan laba bersih PT Karya Sentosa sebesar 45% pada tahun 2022 terlihat tidak sejalan dengan kondisi operasional perusahaan. Hal ini menimbulkan dugaan adanya praktik manajemen laba berbasis akrual (accrual-based earnings management). Praktik ini biasanya dilakukan dengan menyesuaikan akun-akun seperti piutang, persediaan, dan beban akrual agar laporan keuangan terlihat lebih menguntungkan tanpa adanya perubahan nyata pada arus kas perusahaan.

2. Perbandingan Dua Jurnal tentang Earnings Management
Jurnal pertama berjudul “Earnings Management di Indonesia: Sebuah Studi Literatur” oleh Celine Alexandra, Margaretha, Sanchia Jennefer, William, dan Carmel Meiden (2022). Jurnal ini menjelaskan bahwa praktik manajemen laba di Indonesia umumnya dilakukan melalui pendekatan akrual, dengan tujuan untuk menampilkan kinerja keuangan yang stabil serta menjaga citra perusahaan di hadapan investor.
Jurnal kedua, “Determinan Earnings Management” oleh Alexander Arvin Kurniawan dan Prima Apriwenni (2022), menekankan pada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya manajemen laba, seperti tekanan untuk mencapai target, keinginan memperoleh bonus, dan lemahnya tata kelola perusahaan.
Dari perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa jurnal pertama lebih menyoroti cara dan bentuk pelaksanaan manajemen laba, sementara jurnal kedua menitikberatkan pada penyebab dan dorongan di balik praktik tersebut. Keduanya sepakat bahwa earnings management berdampak negatif terhadap kualitas dan keandalan laporan keuangan.

3. Evaluasi Kritis
Jika dikaitkan dengan kasus PT Karya Sentosa, peningkatan laba yang tinggi kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Berdasarkan teori dalam kedua jurnal tersebut, praktik seperti ini bisa dikategorikan sebagai earnings management oportunistik, yaitu upaya manajemen untuk memperindah laporan keuangan demi memenuhi target kinerja atau menjaga kepercayaan investor. Tindakan ini dapat menurunkan transparansi dan keandalan laporan keuangan perusahaan.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi
Secara keseluruhan, kasus PT Karya Sentosa menunjukkan indikasi kuat adanya praktik manajemen laba berbasis akrual. Agar hal seperti ini tidak terjadi lagi, perusahaan perlu memperkuat pengawasan internal, meningkatkan penerapan Good Corporate Governance, serta memastikan laporan keuangan disusun sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas. Selain itu, integritas dan etika manajemen harus dijaga agar laporan keuangan benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

jurnal “Earnings Management: A Literature Review” maupun video yang membahas topik ini sama-sama menguraikan bahwa pengelolaan laba (earnings management) adalah tindakan manajemen dalam mengatur laporan keuangan agar menampilkan hasil sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Laba menjadi fokus penting karena digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dan memengaruhi keputusan para investor, kreditor, serta pihak luar lainnya.
Dalam jurnal dijelaskan dua sudut pandang utama tentang pengelolaan laba, yaitu pandangan oportunistik dan pandangan sinyal (signalling). Pandangan oportunistik menganggap manajer melakukan pengelolaan laba demi kepentingan pribadi, seperti mendapatkan bonus, mempertahankan reputasi, atau memenuhi kontrak tertentu. Sebaliknya, pandangan sinyal menilai bahwa pengelolaan laba bisa menjadi cara manajemen untuk memberikan informasi positif kepada pasar mengenai kondisi dan prospek perusahaan di masa depan.
Keduanya juga menjelaskan dua cara utama dalam melakukan pengelolaan laba, yakni berbasis akrual dan berbasis aktivitas nyata. Pendekatan berbasis akrual dilakukan dengan menyesuaikan kebijakan akuntansi seperti penyusutan atau piutang, sedangkan pendekatan berbasis aktivitas nyata dilakukan melalui tindakan operasional, seperti mempercepat penjualan, menunda pengeluaran, atau mengubah produksi agar laba terlihat meningkat.
Video juga menekankan sisi etika dan risiko dari praktik ini. Walaupun tidak selalu melanggar aturan, pengelolaan laba dapat menurunkan kualitas laporan keuangan dan menyesatkan pengguna informasi. Karena itu, diperlukan transparansi dan pengawasan agar praktik ini digunakan secara wajar sebagai sarana komunikasi kinerja, bukan sebagai alat manipulasi.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. Does XBRL Adoption Increase Financial Information Transparency in Digital Disclosure Environment? Insights from Emerging Markets
Artikel ini membahas bagaimana penerapan XBRL (Extensible Business Reporting Language) dapat meningkatkan transparansi laporan keuangan di negara-negara berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan XBRL membantu memperjelas, memperbandingkan, dan meningkatkan keandalan informasi keuangan. Dengan sistem ini, kesenjangan informasi antara perusahaan dan investor dapat berkurang. Namun, keberhasilan penerapannya bergantung pada kesiapan teknologi dan dukungan kebijakan di masing-masing negara.
2. Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity
Penelitian ini meninjau pengaruh penerapan XBRL terhadap biaya ekuitas perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Dari analisis terhadap 59 perusahaan selama 2014–2017, ditemukan bahwa penerapan XBRL dapat meningkatkan keterbukaan informasi keuangan dan menurunkan biaya ekuitas karena investor lebih mudah memahami laporan keuangan. Dampak positif ini paling terlihat pada perusahaan besar.
Kedua artikel sama-sama menunjukkan bahwa penerapan XBRL membawa manfaat besar bagi transparansi dan efisiensi pelaporan keuangan. Artikel pertama menekankan pentingnya kesiapan teknologi dan regulasi agar sistem berjalan efektif di negara berkembang, sementara artikel kedua membuktikan bahwa di Indonesia, XBRL benar-benar membantu menurunkan biaya ekuitas.
Menurut saya, keduanya saling mendukung, menunjukkan bahwa digitalisasi pelaporan keuangan melalui XBRL tidak hanya memperbaiki kualitas informasi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor serta memperkuat tata kelola perusahaan.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

JAWABAN:
1. Tantangan utama yang dihadapi PT Sinar Hijau Lestari yaitu bagaimana menjalankan kegiatan usaha agribisnis dengan tetap menjaga prinsip keberlanjutan. Sebagai perusahaan besar di Kalimantan Timur, PT Sinar Hijau Lestari harus menghadapi tekanan dari masyarakat dan lembaga lingkungan agar tidak merusak ekosistem hutan. Selain itu, perusahaan juga mengalami kendala dalam pengumpulan data sosial dan lingkungan, keterbatasan tenaga ahli di bidang pelaporan keberlanjutan, serta kesulitan menggabungkan laporan keberlanjutan dengan laporan keuangan berdasarkan PSAK.
2. Teori akuntansi berperan penting dalam membantu perusahaan menyusun laporan keberlanjutan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Teori akuntansi positif menilai laporan keberlanjutan sebagai alat untuk memprediksi perilaku manajemen ketika menghadapi tekanan dari pemangku kepentingan. Teori legitimasi menekankan pentingnya perusahaan menjaga citra dan kepercayaan publik melalui tanggung jawab sosial. Sedangkan teori stakeholder mengingatkan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada seluruh pihak yang terlibat dan terdampak oleh kegiatan operasionalnya.
3. Pelaporan dengan menggunakan GRI (Global Reporting Initiative) dan SDGs (Sustainable Development Goals) sama-sama berorientasi pada transparansi dan akuntabilitas, namun fokusnya berbeda. GRI menyediakan pedoman teknis yang terukur untuk menilai dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan suatu perusahaan. Sementara SDGs merupakan tujuan pembangunan berkelanjutan dunia yang menjadi arah dan sasaran bagi perusahaan dalam berkontribusi terhadap kesejahteraan global. Dengan demikian, GRI menjadi alat ukur dalam pelaporan, sedangkan SDGs berfungsi sebagai panduan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.
4. Dalam menyeleksi data untuk pelaporan ESG (Environmental, Social, Governance), seorang akuntan perlu menentukan indikator penting dari masing-masing aspek. Untuk aspek lingkungan, datanya bisa meliputi emisi, energi, dan pengelolaan limbah. Pada aspek sosial, mencakup kesejahteraan dan keselamatan kerja karyawan, serta hubungan dengan masyarakat sekitar. Sedangkan aspek tata kelola berfokus pada transparansi, etika bisnis, dan manajemen perusahaan. Semua data harus valid, sesuai standar pelaporan internasional seperti GRI dan PSAK, serta mampu menggambarkan kinerja keberlanjutan perusahaan secara objektif.
Dengan penyusunan laporan keberlanjutan yang baik, PT Sinar Hijau Lestari dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor, serta menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan kelestarian lingkungan.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

Apabila dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), penggunaan metode LIFO (Last In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada saat harga-harga mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena barang yang terakhir dibeli dengan harga lebih tinggi dijual terlebih dahulu, sehingga biaya pokok penjualan meningkat dan laba bersih menurun.
Namun, ketika terjadi penurunan harga (deflasi), metode LIFO dapat memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan metode FIFO, karena harga pokok penjualan berasal dari pembelian dengan harga yang sebelumnya lebih tinggi.
Dengan demikian, FIFO lebih menguntungkan dalam kondisi harga naik, sedangkan LIFO lebih menguntungkan saat harga turun.