Posts made by zara nur rohimah

TA C2025 -> CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohmah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C


1. Tantangan utama PT Sumber Hijau adalah konflik mendasar antara pertumbuhan ekonomi yang diwakili oleh SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan perlindungan lingkungan yang diwakili oleh SDG 13 (Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan), terutama terkait rencana ekspansi di Kalimantan Timur. Konflik ini menciptakan risiko reputasi yang serius, dipicu oleh kritik dari LSM dan masyarakat adat, yang secara langsung berpotensi memicu penarikan investasi dari investor global yang mendukung prinsip ESG. Selain itu, perusahaan menghadapi kompleksitas pelaporan karena harus menyelaraskan standar teknis GRI dengan tujuan strategis SDGs, serta berupaya mengisi kesenjangan akuntansi di mana standar PSAK belum sepenuhnya mengatur integrasi isu keberlanjutan ke dalam laporan keuangan konvensional.

2. Pendekatan Teori Akuntansi Positif dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa PT Sumber Hijau memilih untuk memperkuat pelaporan keberlanjutannya, terutama sebagai respons terhadap tekanan pasar. Perusahaan melakukannya bukan karena kewajiban etis semata, melainkan untuk mempertahankan legitimasi sosial atas rencana ekspansi dan mengelola hubungan keagenan dengan investor global, sesuai dengan Teori Legitimasi dan Teori Stakeholder. Sementara itu, Teori Akuntansi Normatif berperan sebagai panduan preskriptif yang menyatakan apa yang seharusnya dilakukan oleh PT Sumber Hijau; teori ini menegaskan bahwa perusahaan seharusnya mengukur dan mengungkapkan secara jujur biaya eksternalitas negatif dari deforestasi dan dampak sosial, serta menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan tersebut dalam seluruh keputusan dan pelaporan untuk mencapai transparansi yang ideal bagi seluruh pemangku kepentingan.

3. Meskipun PSAK belum mengakomodasi pelaporan ESG secara komprehensif, PT Sumber Hijau harus menggunakan standar pelaporan tambahan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pendekatan yang paling efektif adalah mengadopsi kerangka Laporan Terintegrasi () yang dikeluarkan oleh IIRC/ISSB, yang secara eksplisit menghubungkan kinerja finansial perusahaan dengan enam jenis modal (termasuk Modal Alam dan Sosial), sehingga menunjukkan bagaimana isu-isu SDG yang material (13, 15, 8) memengaruhi penciptaan nilai jangka panjang. Dalam praktiknya, perusahaan dapat mengintegrasikan informasi keberlanjutan ke dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK), misalnya dengan mengungkapkan kewajiban kontinjensi terkait risiko sanksi lingkungan (SDG 13 dan 15) atau investasi modal yang terkait dengan program SDG 8, sehingga metrik non-finansial mulai terikat secara resmi dengan pelaporan keuangan konvensional.

4. Sebagai akuntan, disarankan agar PT Sumber Hijau menyusun narasi laporan dengan fokus pada transparansi ganda (double materiality) dan keseimbangan strategis. Untuk menjawab ekspektasi pemangku kepentingan lokal, narasi harus mengakui secara jujur risiko deforestasi (SDG 15), menunjukkan komitmen mitigasi yang spesifik (misalnya, area konservasi NKT/HCV), dan memaparkan secara rinci implementasi SDG 8 (program penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan, dan hak masyarakat adat) dengan data lokasi yang spesifik. Sementara itu, untuk menjawab ekspektasi investor global, narasi harus menekankan pengelolaan risiko iklim dan ESG dengan menyajikan data kuantitatif GRI yang solid terkait emisi GRK (SDG 13) dan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE), serta secara eksplisit menjelaskan bagaimana keberlanjutan ini memperkuat nilai perusahaan dan mengamankan akses ke modal di masa depan.

TA C2025 -> e-journal

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C


Artikel berjudul "Enhancing the value of corporate sustainability: An approach for aligning multiple SDGs guides on reporting" ini menyajikan metode untuk mengatasi tantangan yang dihadapi perusahaan dalam pelaporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inti dari penelitian ini adalah mengusulkan pendekatan dan metodologi penyelarasan (alignment) yang terstruktur dan kuat untuk mengharmonisasi panduan-panduan SDGs yang diterbitkan oleh dua kerangka pelaporan utama, yaitu Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC). Dengan menganalisis tantangan pelaporan spesifik dan harapan pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, serta berfokus pada empat segmen keberlanjutan korporat (penilaian, strategi, akuntansi & kontrol, dan pelaporan), artikel ini menyimpulkan bahwa penggunaan metode penyelarasan yang diusulkan secara signifikan dapat meningkatkan kinerja pelaporan SDGs perusahaan. Tujuannya adalah memberikan panduan yang dibuat khusus (tailor-made guidance) yang dapat digunakan perusahaan untuk mensintesis kontribusi dari berbagai panduan pelaporan yang ada, sehingga lebih efektif dalam memenuhi tantangan pelaporan SDGs yang terus berkembang.

TA C2025 -> e-journal

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C


Artikel berjudul "Enhancing the value of corporate sustainability: An approach for aligning multiple SDGs guides on reporting" ini menyajikan metode untuk mengatasi tantangan yang dihadapi perusahaan dalam pelaporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inti dari penelitian ini adalah mengusulkan pendekatan dan metodologi penyelarasan (alignment) yang terstruktur dan kuat untuk mengharmonisasi panduan-panduan SDGs yang diterbitkan oleh dua kerangka pelaporan utama, yaitu Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC). Dengan menganalisis tantangan pelaporan spesifik dan harapan pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, serta berfokus pada empat segmen keberlanjutan korporat (penilaian, strategi, akuntansi & kontrol, dan pelaporan), artikel ini menyimpulkan bahwa penggunaan metode penyelarasan yang diusulkan secara signifikan dapat meningkatkan kinerja pelaporan SDGs perusahaan. Tujuannya adalah memberikan panduan yang dibuat khusus (tailor-made guidance) yang dapat digunakan perusahaan untuk mensintesis kontribusi dari berbagai panduan pelaporan yang ada, sehingga lebih efektif dalam memenuhi tantangan pelaporan SDGs yang terus berkembang.

TA C2025 -> DISKUSI

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Video tersebut menyajikan poin penting mengenai keterkaitan dan implementasi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di lingkungan korporasi. Fokus utamanya adalah bagaimana bisnis dapat mengintegrasikan SDGs ke dalam strategi mereka, serta prosedur yang efektif untuk melaporkan kemajuan dan kontribusi yang telah mereka capai terhadap tujuan-tujuan tersebut. Selain itu, video ini menyoroti nilai dan manfaat substansial yang didapatkan perusahaan dari pelaporan SDGs, menjadikannya alat penting bukan hanya untuk tanggung jawab sosial, tetapi juga untuk menciptakan nilai bisnis jangka panjang. Video tersebut membantu kita memahami kerangka kerja yang digunakan oleh perusahaan untuk menjadi lebih baik, yang pada akhirnya memengaruhi pilihan kita sebagai konsumen, pencari kerja, atau warga negara.

TA C2025 -> CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral dalam memilih kebijakan akuntansi konservatif untuk mengakui biaya reklamasi didorong oleh Prinsip Kehati-hatian (Prudence) yang merupakan bias kognitif yang melekat pada akuntansi perilaku, di mana terdapat kecenderungan untuk mengakui beban dan liabilitas lebih awal daripada aset dan pendapatan. Motivasi utama perilaku ini adalah memitigasi risiko dan melindungi nilai perusahaan dari ketidakpastian biaya lingkungan yang sangat besar dan bersifat jangka panjang. Selain itu, ini dapat berfungsi sebagai alat kontrak untuk memenuhi covenant utang atau manajemen laba konservatif untuk smoothing laba di masa depan. Dampaknya terhadap stakeholders adalah laba yang dilaporkan menjadi lebih rendah, sehingga berpotensi mengecewakan investor luar negeri yang fokus pada pertumbuhan laba jangka pendek, namun di sisi lain, hal ini meningkatkan kredibilitas dan memberikan jaminan keamanan yang lebih besar bagi kreditur serta regulator lingkungan bahwa dana untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) telah diakui secara memadai.

2. Jika saya adalah akuntan perusahaan, saya harus menyikapi tekanan dari investor luar negeri dengan berpegang teguh pada Prinsip Etika Profesi, khususnya Integritas dan Kompetensi Profesional. Saya wajib menolak permintaan perubahan kebijakan menjadi lebih agresif jika interpretasi IFRS yang diusulkan investor ternyata melanggar Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Indonesia yang berlaku (PSAK/IFRS yang diadopsi IAI) atau jika hal itu menyebabkan laporan keuangan menjadi menyesatkan dan tidak menyajikan secara wajar substansi ekonomi. Mengikuti keinginan investor hanya dianggap etis jika SAK memberikan opsi metode akuntansi yang berbeda (konservatif dan agresif sama-sama wajar) dan manajemen memutuskan untuk memilih opsi agresif guna menarik modal, asalkan disklosur yang memadai tetap diberikan. Namun, jika tujuannya adalah memanipulasi laba semata, maka hal tersebut secara jelas bertentangan dengan prinsip Objektivitas dan Perilaku Profesional yang melarang akuntan membiarkan tekanan pihak lain mengesampingkan pertimbangan teknis dan etis.

3. Proses penetapan standar akuntansi sangat dipengaruhi oleh ekonomi politik, yaitu interaksi antara kekuasaan, kepentingan, dan regulasi. Dalam kasus PT Lestari Mineral, pengaruh ini terlihat jelas di dua tingkatan: di tingkat nasional, upaya pemerintah untuk merumuskan standar keberlanjutan yang baru terhambat oleh tekanan politik dari asosiasi industri (misalnya, asosiasi tambang) yang melobi standard-setter (IAI) agar menunda atau melunakkan standar baru demi menghindari peningkatan biaya kepatuhan yang akan menekan laba perusahaan anggotanya. Di tingkat global, tekanan investor luar negeri untuk menggunakan interpretasi IFRS yang agresif menunjukkan adanya kekuatan pasar modal internasional yang mendorong standar agar sesuai dengan model penilaian mereka. Contoh realitas lain adalah Standar Leasing (IFRS 16), di mana industri penerbangan dan ritel secara masif melobi IASB (pembuat IFRS) agar tidak mengkapitalisasi semua sewa guna usaha di neraca, karena hal itu akan menyebabkan lonjakan liabilitas dan berdampak negatif pada rasio keuangan.

4. Pendekatan berbasis prinsip (IFRS) berfokus pada kerangka konseptual yang kuat dan menuntut pertimbangan profesional (professional judgement) yang tinggi dari akuntan, sementara pendekatan berbasis aturan (US GAAP) didasarkan pada panduan yang sangat rinci dan spesifik untuk setiap situasi, sehingga mengurangi peran judgement tetapi berisiko memunculkan rules-based circumvention (mencari celah aturan). Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip (IFRS) adalah yang lebih relevan diterapkan. Alasannya adalah karena Indonesia telah mengadopsi IFRS (melalui PSAK) untuk konvergensi global dan memudahkan akses pasar modal. Lebih penting lagi, pendekatan berbasis prinsip lebih adaptif dan sesuai untuk menangani isu-isu kompleks dan baru seperti akuntansi keberlanjutan dan biaya lingkungan (kasus PT Lestari Mineral), di mana akuntan harus memahami substansi ekonomi di balik transaksi daripada sekadar mengikuti daftar aturan yang mungkin sudah usang.