གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Sofia Dilara

TA C2025 -> e-journal

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Artikel “Enhancing the Value of Corporate Sustainability: An Approach for Aligning Multiple SDGs Guides on Reporting” membahas cara meningkatkan nilai keberlanjutan perusahaan melalui penyelarasan panduan pelaporan Sustainable Development Goals (SDGs) dari dua lembaga besar, yaitu Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC).

Intinya, banyak perusahaan kesulitan melaporkan kontribusinya terhadap SDGs karena panduan yang berbeda-beda dan belum terintegrasi. Penelitian ini menawarkan solusi berupa pendekatan penyelarasan (alignment approach) agar perusahaan bisa menggabungkan kedua panduan tersebut secara efektif dan konsisten.

Penulis melakukan studi kualitatif dengan menganalisis empat perusahaan telekomunikasi (Telia, Telenor, BT Group, dan Turkcell). Hasilnya menunjukkan bahwa dengan menyelaraskan panduan GRI dan IIRC, perusahaan dapat memperjelas hubungan antara strategi bisnis dan tujuan SDGs, membuat laporan yang lebih terukur, serta menghindari kesan greenwashing.

Secara keseluruhan, artikel ini menekankan bahwa pelaporan keberlanjutan yang terintegrasi dan selaras akan membantu perusahaan lebih transparan, akuntabel, dan dipercaya oleh para pemangku kepentingan.

TA C2025 -> CASE STUDY

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

1. Analisis perilaku manajemen PT Lestari Mineral dalam memilih kebijakan akuntansi konservatif. Apa motivasi perilaku tersebut? Apa potensi dampaknya terhadap stakeholders?
Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi yang konservatif karena ingin berhati-hati dalam mengakui biaya lingkungan jangka panjang yang masih penuh ketidakpastian. Langkah ini menunjukkan sikap tanggung jawab dan kehati-hatian, terutama karena biaya reklamasi tambang bisa berubah tergantung pada kondisi alam dan peraturan pemerintah. Dengan pendekatan ini, perusahaan ingin menjaga kepercayaan publik dan regulator bahwa mereka serius memperhatikan dampak lingkungan. Dampaknya terhadap para pemangku kepentingan juga beragam. Investor mungkin melihat laba yang lebih kecil dan menjadi kurang tertarik, tetapi bagi kreditor, pemerintah, dan masyarakat, kebijakan ini justru memberi kesan positif karena perusahaan dianggap transparan dan beretika.

2. Jika Anda adalah akuntan perusahaan, bagaimana Anda menyikapi tekanan dari investor luar negeri yang mendorong perubahan kebijakan akuntansi? Apakah mengikuti keinginan investor bertentangan dengan prinsip etika profesi akuntan? Jelaskan.
Jika saya menjadi akuntan perusahaan, saya akan tetap berpegang pada standar akuntansi yang berlaku dan tidak langsung mengikuti permintaan investor hanya demi menampilkan laba yang lebih tinggi. Tekanan seperti itu wajar terjadi, tetapi tidak boleh membuat akuntan mengabaikan prinsip etika profesi. Akuntan memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas, objektivitas, dan kejujuran dalam laporan keuangan. Jika interpretasi IFRS yang baru memang sah dan sesuai dengan aturan, maka bisa dipertimbangkan dengan transparan. Namun jika tujuannya hanya untuk mempercantik angka agar terlihat lebih baik di mata investor, hal itu jelas tidak etis dan bisa merusak kepercayaan publik terhadap perusahaan.

3. Jelaskan bagaimana proses penetapan standar akuntansi dapat dipengaruhi oleh ekonomi politik, baik di tingkat nasional maupun global. Berikan contoh dari kasus ini dan dari realitas lain yang Anda ketahui.
Proses penetapan standar akuntansi sering kali dipengaruhi oleh berbagai kepentingan, bukan hanya pertimbangan teknis. Dalam kasus PT Lestari Mineral, pemerintah sedang menyusun standar yang menekankan nilai keberlanjutan dan transparansi sosial, tetapi mendapat tekanan dari asosiasi industri yang khawatir aturan tersebut akan menambah beban bagi perusahaan tambang. Ini menunjukkan bahwa faktor politik dan ekonomi dapat memengaruhi arah kebijakan akuntansi. Di tingkat global pun hal serupa terjadi, seperti setelah krisis keuangan 2008 ketika banyak negara menekan IASB untuk menyesuaikan aturan penilaian aset keuangan agar laporan laba bank tidak terlihat terlalu buruk. Artinya, standar akuntansi tidak hanya lahir dari pertimbangan profesional, tetapi juga dari dinamika ekonomi dan politik.

4. Bandingkan pendekatan standard-setting berbasis prinsip (seperti IFRS) dengan pendekatan berbasis aturan (seperti GAAP). Dalam konteks Indonesia, pendekatan mana yang lebih relevan diterapkan? Jelaskan alasannya.
IFRS dikenal sebagai pendekatan berbasis prinsip yang lebih menekankan pada substansi ekonomi suatu transaksi dan memberi ruang bagi profesional untuk menilai sesuai konteks. Sementara itu, GAAP bersifat lebih rinci dan kaku karena memiliki banyak aturan yang harus diikuti secara spesifik. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip seperti IFRS lebih relevan karena bisa menyesuaikan dengan kondisi bisnis yang beragam dan memudahkan perusahaan untuk beradaptasi dengan pasar global. Namun fleksibilitas ini juga perlu diimbangi dengan integritas, transparansi, dan pengawasan yang kuat agar tidak disalahgunakan.

AKM C2025 -> Diskusi

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Perbedaan antara aset tetap dan properti investasi terletak pada tujuan penggunaannya. Aset tetap digunakan untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan, seperti gedung kantor, mesin produksi, kendaraan operasional, dan peralatan kerja lainnya. Aset ini berfungsi membantu jalannya bisnis sehari-hari dan nilainya akan berkurang seiring waktu karena mengalami penyusutan. Sementara itu, properti investasi dimiliki bukan untuk digunakan dalam kegiatan operasional, melainkan untuk menghasilkan pendapatan atau keuntungan, misalnya dengan disewakan kepada pihak lain atau dijual kembali ketika nilainya meningkat. Berdasarkan PSAK 13, properti investasi diakui sebagai aset yang dimiliki untuk menghasilkan sewa atau kenaikan nilai, bukan untuk digunakan dalam produksi atau administrasi.

Jika saya diminta memilih, saya akan lebih memilih membeli properti investasi. Alasannya karena properti investasi dapat memberikan pendapatan pasif melalui sewa dan memiliki potensi kenaikan nilai dari waktu ke waktu. Selain itu, investasi properti juga dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap inflasi karena harga tanah dan bangunan umumnya terus meningkat. Sedangkan aset tetap, meskipun penting untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan, nilainya cenderung menurun akibat penyusutan dan tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. Namun, keputusan untuk memilih keduanya tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan. Jika tujuannya memperlancar operasional, maka aset tetap lebih dibutuhkan, sedangkan jika tujuannya untuk menambah pendapatan jangka panjang, properti investasi menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.