Nama: Arshella Cahya Yuniarti
Npm: 2413031058
Jurnal ini mengulas perbedaan antara metode biaya historis dan nilai wajar dalam pengukuran akuntansi. Biaya historis menitikberatkan pencatatan aset pada harga perolehan awal dan hanya disesuaikan jika terjadi penurunan nilai. Metode ini relatif stabil, tetapi kurang relevan ketika harga pasar mengalami perubahan signifikan. Sebaliknya, nilai wajar menggambarkan kondisi ekonomi saat ini melalui
penilaian berbasis harga pasar, yang dianggap lebih relevan meskipun berisiko menimbulkan fluktuasi, ketergantungan pada asumsi, dan potensi manipulasi.
Dalam perkembangannya, IFRS semakin menekankan penggunaan nilai wajar, baik sebagai pilihan maupun sebagai dasar utama, terutama pada instrumen keuangan, properti investasi, serta aset biologis. Meski demikian, penerapan nilai wajar menghadapi kendala, khususnya bagi aset non-keuangan yang tidak diperdagangkan di pasar aktif. Artikel ini juga menyoroti perdebatan mengenai penerapan nilai wajar pada masa krisis keuangan, ketika penentuan harga pasar menjadi sulit dan justru meningkatkan ketidakpastian.
Kesimpulannya, penulis menegaskan bahwa tidak ada metode tunggal yang paling tepat untuk semua kondisi. Oleh karena itu, penggunaan kombinasi biaya historis, nilai wajar, dan pengukuran spesifik entitas dianggap lebih sesuai, tergantung pada jenis aset dan situasi pasar. Nilai wajar lebih efektif untuk instrumen keuangan, sementara pendekatan berbasis entitas dinilai lebih bermanfaat bagi aset non-keuangan.