Kiriman dibuat oleh Gusti Ngurah Soma Adnyane

TA B 2025 -> DISKUSI

oleh Gusti Ngurah Soma Adnyane -
Assalamualaikum wr wb ibu

Nama : Gusti Ngurah Soma Adnyane
Npm : 2413031063

Setelah melihat dan menyimak video tersebut yang saya dapat adalah Saat sebuah perusahaan mencatat nilai aset dan kewajibannya dalam laporan keuangan, terdapat dua metode utama yang biasa digunakan: metode biaya historis dan metode nilai wajar. Metode biaya historis mencatat aset berdasarkan harga saat aset tersebut dibeli, sehingga nilainya tetap pada angka pembelian awal tanpa memperhitungkan perubahan pasar. Hal ini memberikan stabilitas dalam laporan keuangan karena nilainya tidak berubah-ubah walau kondisi pasar naik turun.
Di sisi lain, metode nilai wajar mencatat aset berdasarkan harga pasar saat ini, yaitu nilai yang bisa diperoleh jika aset tersebut dijual sekarang. Metode ini memberikan gambaran nilai yang lebih up-to-date dan relevan dengan kondisi pasar saat ini. Namun, penilaian nilai wajar biasanya membutuhkan keahlian khusus dari ahli atau penilai, sehingga prosesnya lebih kompleks.
Contoh mudah yang dijelaskan dalam video adalah sebuah gedung kantor yang dibeli 20 tahun lalu dengan harga 5 juta dolar, tapi sekarang nilai pasarnya mencapai 35 juta dolar. Perusahaan bisa memilih mencatat gedung tersebut menggunakan harga historis yakni 5 juta dolar, atau menggunakan nilai wajar 35 juta dolar. Namun, pilihan yang diambil harus konsisten diterapkan untuk semua aset dalam kategori serupa.
Umumnya, nilai wajar digunakan untuk aset seperti properti, merk dagang, dan kewajiban seperti hutang atau dana pensiun. Kelebihan metode biaya historis adalah kesederhanaan dan kestabilan, sedangkan nilai wajar lebih akurat mencerminkan nilai pasar terkini namun cenderung fluktuatif dan lebih rumit untuk dinilai. Perusahaan harus memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan pelaporan dan kondisi bisnisnya.

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Gusti Ngurah Soma Adnyane -
Nama: Gusti Ngurah Soma Adnyane
NPM: 2413031063
Kelas: 2024B
Artikel “The Role of Measurement Theory in Supporting the Objectives of the Financial Statements” menegaskan bahwa akuntansi belum memiliki teori pengukuran yang ilmiah dan konsisten. Meskipun laporan keuangan dianggap sebagai hasil pengukuran, konsep seperti nilai dan biaya belum didefinisikan secara objektif. Akibatnya, tujuan laporan keuangan tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip teori pengukuran representasional. Penulis menyimpulkan bahwa agar laporan keuangan benar-benar bermakna dan dapat dipercaya, akuntansi perlu memiliki teori pengukuran yang jelas dan terukur secara ilmiah.