Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir 

‎NPM : 2413031088

‎Kelas : 2024C

Studi Kasus Analisis Penerapan Nilai Wajar versus Biaya Historis pada Laporan Aset Tetap PT Nusantara Properti

PT Nusantara Properti, sebuah perusahaan publik Indonesia di sektor properti komersial, beralih dari metode biaya historis ke nilai wajar untuk mencatat aset tetapnya, mengikuti ketentuan PSAK 16 dan IFRS. Pergantian ini berdampak pada kenaikan nilai aset dan ekuitas perusahaan. Namun, muncul perbedaan pendapat terkait objektivitas dan relevansi nilai wajar yang dianggap bersifat subjektif, terutama karena penilaiannya dilakukan oleh penilai eksternal dengan mengacu pada kondisi pasar yang berubah-ubah. Auditor perusahaan menyatakan bahwa nilai wajar menghadirkan informasi yang lebih bermanfaat bagi investor dalam mengevaluasi kondisi keuangan dan potensi perusahaan.

1. Analisis Keunggulan dan Kelemahan Penerapan Nilai Wajar dibandingkan Biaya Historis pada Laporan Aset Tetap PT Nusantara Properti

‎Keunggulan Nilai Wajar:

  • ‎Informasi yang Relevan: Nilai wajar menunjukkan harga pasar terbaru, sehingga memberikan representasi yang lebih akurat mengenai nilai aset perusahaan. Hal ini sangat berguna dalam industri properti yang harganya sering berubah.
  • ‎Data yang Mutakhir: Dengan menerapkan nilai wajar, laporan keuangan menjadi lebih terkini dan bermanfaat bagi investor serta pihak berkepentingan lainnya yang memerlukan informasi terbaru.
  • ‎Dukungan Keputusan: Informasi berbasis nilai wajar mendukung investor dan manajemen dalam mengambil keputusan investasi dan menyusun strategi bisnis yang lebih akurat.

Kelemahan Nilai Wajar:

  • ‎Tingkat Subjektivitas: Penentuan nilai wajar sering kali melibatkan asumsi dan perkiraan dari penilai independen, yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian atau kesalahan.
  • ‎Gejolak Laporan Keuangan: Perubahan harga pasar yang tidak stabil dapat mengakibatkan fluktuasi signifikan pada nilai aset dan ekuitas, sehingga menyulitkan analisis performa perusahaan secara berkelanjutan.
  • ‎Tingkat Kesulitan dan Biaya: Proses penilaian nilai wajar membutuhkan biaya dan sumber daya yang lebih besar dibandingkan dengan metode biaya historis yang lebih mudah diterapkan.

Keunggulan Biaya Historis:

  • ‎Dapat Diandalkan dan Objektif: Biaya historis merupakan nilai perolehan aset yang dicatat secara faktual dan tidak terpengaruh oleh perubahan pasar.
  • ‎Mudah dan Konsisten: Metode ini sederhana dalam penerapannya dan menghasilkan laporan keuangan yang stabil dari periode ke periode.

Kelemahan Biaya Historis:

  • ‎Keterbatasan Relevansi: Nilai biaya historis tidak menggambarkan harga pasar saat ini, sehingga informasi yang disajikan mungkin kurang berguna untuk pengambilan keputusan.
  • ‎Ketidakaktualan Informasi: Dalam industri properti yang berkembang pesat, laporan berdasarkan biaya historis dapat kurang tepat karena tidak menangkap perubahan nilai aset.

‎2. Dalam Konteks Indonesia dan Standar Global (IFRS), Sejauh Mana Penerapan Nilai Wajar Dapat Meningkatkan Relevansi Tanpa Mengurangi Kualitas Informasi Akuntansi?

‎Penerapan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di Indonesia, yang mengacu pada PSAK yang telah mengadopsi IFRS, dapat meningkatkan relevansi laporan keuangan dengan menyajikan informasi yang lebih sesuai dengan situasi pasar terkini. Hal ini sangat penting dalam sektor properti, di mana pergerakan harga pasar terjadi dengan cepat dan signifikan. Namun, peningkatan relevansi ini perlu diiringi dengan penerapan prinsip kehati-hatian serta keterbukaan dalam mengungkapkan metode dan asumsi penilaian yang digunakan. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat mengetahui batasan serta kemungkinan subjektivitas dari nilai wajar. ‎Standar global (IFRS) memperbolehkan penggunaan nilai wajar selama perusahaan dapat menjamin keandalan pengukurannya melalui proses penilaian yang ketat dan audit yang memadai. Oleh karena itu, penerapan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi tanpa mengurangi kualitas informasi akuntansi, asalkan dilaksanakan dengan pengawasan internal yang baik dan pengungkapan yang lengkap.

3. Rekomendasi Kebijakan Seandainya Saya Menjadi Anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI)

‎Sebagai bagian dari DSAK IAI, saya akan mengusulkan beberapa kebijakan berikut terkait penggunaan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti:

‎a. Penerapan Nilai Wajar dengan Keterbukaan Informasi. Nilai wajar dapat diterapkan sebagai metode pengukuran aset tetap, namun harus dilengkapi dengan pengungkapan yang jelas tentang teknik penilaian, asumsi yang diterapkan, serta dampak perubahan asumsi terhadap nilai aset.

‎b. Penerapan Prinsip Kehati-hatian. Di tengah kondisi pasar yang tidak stabil, perusahaan perlu menerapkan prinsip kehati-hatian untuk mencegah penilaian berlebihan yang dapat menyesatkan pengguna laporan.

‎c. Audit dan Pemeriksaan oleh Pihak Eksternal. Penilaian nilai wajar harus dilaksanakan oleh penilai independen yang berpengalaman, dan hasilnya harus diperiksa secara cermat melalui audit untuk memastikan keandalan dan objektivitas.

‎d. Penggabungan Metode. Jika memungkinkan, pertimbangkan untuk menggabungkan biaya historis dan nilai wajar guna memberikan gambaran yang lebih seimbang antara relevansi dan keandalan.

‎e. Peningkatan Pemahaman dan Sosialisasi. Tingkatkan pengetahuan pelaku pasar dan auditor mengenai dampak penerapan nilai wajar agar dapat mengimplementasikan dan mengevaluasi laporan keuangan dengan tepat.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Jawaban :
‎1. Instrumen keuangan adalah suatu kontrak yang menciptakan aset keuangan bagi satu pihak dan kewajiban atau instrumen ekuitas bagi pihak lain. Intinya, ini adalah produk dalam dunia keuangan yang nilainya berasal dari klaim terhadap aset atau kinerja di masa depan.

‎Jenis-jenisnya:
‎a· Aset Keuangan (Financial Asset): Contohnya kas, deposito, saham, dan obligasi yang kita miliki.
‎b· Kewajiban Keuangan (Financial Liability): Seperti pinjaman bank atau utang usaha yang menjadi kewajiban kita bayar.
‎c· Instrumen Ekuitas (Equity Instrument): Seperti saham yang menerbitkan perusahaan, yang mewakili kepemilikan.

‎2. Kas adalah aset paling lancar yang terdiri dari uang tunai, saldo di bank, dan setara kas (seperti deposito jangka pendek yang sangat likuid). Fungsinya untuk transaksi sehari-hari.

‎Pengendalian Internal terhadap Kas:
‎a· Pisahkan Tugas: Orang yang menerima kas (kasir) tidak boleh menjadi orang yang mencatat transaksi kas (akuntan) atau yang merekonsiliasi bank.
‎b· Setoran Harian: Semua penerimaan kas harus disetor penuh ke bank setiap hari untuk mengurangi uang tunai di tangan.
‎c· Pembayaran dengan Cek/Bank Transfer: Sebisa mungkin pembayaran dilakukan non-tunai untuk memiliki jejak audit.
‎d· Rekonsiliasi Bank: Saldo kas di catatan perusahaan harus dicocokkan dengan laporan dari bank secara rutin (bulanan) untuk memastikan keakuratannya.

‎3. Kas disajikan di Aset Lancar (Current Assets) pada Neraca, tepat di posisi paling atas karena paling likuid. Setara Kas (seperti deposito berjangka 3 bulan) juga dikelompokkan di sini.
‎a· Pengungkapan: Dalam catatan atas laporan keuangan (CaLK), perusahaan harus mengungkapkan:
‎b· Kebijakan perusahaan dalam mendefinisikan apa saja yang termasuk "kas dan setara kas".
‎c· Jika ada saldo kas yang dibatasi penggunaannya (misalnya, dana yang dijaminkan untuk suatu kredit), harus diungkapkan secara terpisah.

‎4. Piutang adalah  tagihan perusahaan kepada pihak lain (pelanggan, karyawan, atau pihak terkait) yang akan diterima dalam bentuk kas di masa depan. Jenis yang paling umum adalah Piutang Usaha (Accounts Receivable), yaitu tagihan dari penjualan kredit kepada pelanggan.

‎Pengakuan Piutang: Piutang diakui (dicatat) pada saat hak untuk menagih telah timbul. Biasanya, ini terjadi ketika
‎Penjualan kredit telah dilakukan dan barang/jasa telah diserahkan kepada pelanggan dan faktur telah diterbitkan sebagai bukti tagihan.

‎5. a· Penilaian Awal: Piutang dicatat sebesar nilai wajar pada saat pengakuannya, yang biasanya adalah nilai nominal (jumlah yang ditagih).
‎b· Penurunan Nilai (Impairment): Karena tidak semua piutang pasti akan dibayar lunas, kita harus membuat estimasi piutang yang tidak tertagih. Estimasi ini dicatat dalam akun Cadangan Kerugian Piutang (Allowance for Doubtful Accounts). Nilai piutang yang disajikan di neraca adalah Nilai Buku Piutang, yaitu
‎ Saldo Piutang Usaha - Saldo Cadangan Kerugian Piutang
‎ Ada dua metode untuk menghitungnya:
‎ · Metode Penyisihan (% dari penjualan atau % dari saldo piutang): Estimasi berdasarkan pengalaman historis.
‎ · Metode Penghapusan Langsung: Piutang yang sudah pasti tidak bisa ditagih dihapus langsung (metode ini kurang disukai karena melanggar prinsip pencocokan).
‎c· Penyajian: Piutang usaha disajikan di Aset Lancar pada Neraca, tepat di bawah Kas. Yang ditampilkan adalah Nilai Buku setelah dikurangi cadangan.
‎d· Pengungkapan piutang dalam laporan keuangan:
‎ · Kebijakan perusahaan dalam memperkirakan piutang tak tertagih.
‎ · Metode yang digunakan (misalnya, metode penyisihan).
‎ · Perubahan saldo cadangan kerugian piutang selama periode tersebut.

‎6 . a. Analisis Kas:
‎ · Rasio Cepat (Quick Ratio): (Aset Lancar - Persediaan) / Kewajiban Lancar. Rasio ini menguji kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek tanpa mengandalkan penjualan persediaan. Komponen utama adalah Kas dan Piutang.
‎ · Rasio Kas (Cash Ratio): (Kas + Setara Kas) / Kewajiban Lancar. Mengukur kemampuan paling ketat untuk bayar utang hanya dengan kas yang ada.

‎b. Analisis Piutang:
‎ · Perputaran Piutang (Receivable Turnover): Penjualan Kredit / Rata-rata Piutang Usaha. Menunjukkan berapa kali piutang tertagih dalam satu periode. Semakin tinggi, semakin baik.
‎ · Rata-rata Periode Penagihan (Days Sales Outstanding - DSO): (Rata-rata Piutang Usaha / Penjualan Kredit) x 365 hari. Menunjukkan rata-rata berapa hari piutang bisa ditagih. Semakin rendah, semakin efisien departemen penagihan

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​NPM : 2413031088
Kelas : 2024C

Menurut saya konsep nilai waktu uang adalah bahwa uang yang kita pegang hari ini lebih berharga daripada uang dengan jumlah yang sama di masa depan.
Sebab, uang hari ini dapat segera diinvestasikan untuk menghasilkan return dan terdapat peluang biaya dari uang yang diterima di masa depan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
‎Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Historical Costs versus Fair Value
‎Measurement in Financial Accounting

‎Penggunaan Biaya Historis versus Nilai Wajar dalam mengukur aset dan kewajiban.Pergeseran ke Nilai Wajar dalam IFRS
‎Standar Pelaporan Keuangan Internasional(IFRS) menunjukkan tren kuat meninggalkan biaya historis menuju nilai wajar. Alasan utamanya adalah
‎a. Informasi yang Lebih Relevan: Biaya historis dianggap kurang informatif, terutama untuk instrumen keuangan.
‎b.  Menjaga Modal Fisik: Dengan mengabaikan biaya historis, laba yang diakui lebih menjamin perusahaan dapat mengganti aset yang habis digunakan, mencegah erosi modal.

‎Tantangan dan Risiko Penerapan Nilai Wajar
‎Meski menjanjikan,penerapan nilai wajar, terutama pada aset non-keuangan (seperti aset biologis dalam IAS 41), menghadapi kendala yaitu:
‎a. Subjektivitas Tinggi
‎ Jika tidak ada pasar aktif, penentuan nilai wajar menjadi sangat bergantung pada model dan estimasi manajemen, sehingga mengurangi keandalan.
‎b. Risiko Laba Semu
‎ Mengakui keuntungan dari kenaikan nilai wajar (yang belum direalisasi) dalam laba bersih berisiko. Jika aset tidak benar-benar dijual, distribusi laba ini dapat merusak modal perusahaan.

‎Dampak Krisis Keuangan dan Masa Depan
‎Krisis keuangan 2008 mempertanyakan aplikasi nilai wajar.Di tengah pasar yang beku, nilai wajar sulit ditentukan dan justru dianggap memperdalam krisis. Hal ini memaksa regulator (seperti SEC) untuk memberikan kelonggaran. Jurnal menyimpulkan bahwa tidak ada satu metode yang terbaik. Solusi ideal adalah kombinasi kedua pendekatan: nilai wajar cocok untuk instrumen keuangan, sementara untuk aset non-keuangan, pendekatan berbasis entitas (seperti biaya historis) seringkali lebih tepat.