Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
NPM : 2413031088
Kelas : 24C
Jawaban Studi Kasus

1. Analisis Perilaku Manajemen PT Lestari Mineral dalam Memilih Kebijakan Akuntansi Konservatif

Manajemen PT Lestari Mineral pilih akuntansi konservatif dengan mengakui biaya lingkungan jangka panjang, kayak reklamasi tambang, lebih awal. Ini bikin laba yang dilaporin kelihatan lebih rendah.

Motivasi perilaku tersebut:

  • Mau patuh aturan hukum dan hindari risiko hukum dari pemerintah Indonesia, soalnya tambang nikel punya risiko lingkungan tinggi.
  • Ingin kelola risiko operasional dengan akurasi biaya masa depan, agat tidak ada masalah tak terduga.
  • Tunjukan  komitmen keberlanjutan untuk reputasi baik, terutama di daerah tambang yang sensitif.
  • Hindari tuduhan manipulasi laba, yang bisa rusak kepercayaan.

Potensi dampaknya terhadap stakeholders:

  • Investor dan pemegang saham:Laba rendah bisa turunkan harga saham, tapi kasih gambaran risiko yang lebih jelas.
  • Kreditor: Membuat perusahaan kelihatan lebih aman, gampang dapat pinjaman.
  • Pemerintah dan regulator:Dukung tujuan keberlanjutan, tapi bisa tekan kalau dianggap hambat pertumbuhan.
  • Masyarakat dan lingkungan:Dana reklamasi keluar lebih cepat, bagus untuk pemulihan lingkungan.
  • Karyawan: Bisa pengaruhi bonus, tetapi tetap tingkatkan stabilitas perusahaan.

Secara keseluruhan, ini seimbang antara patuh hukum, kelola risiko, dan tanggung jawab sosial, meski bisa bentrok dengan tekanan untuk laba tinggi.

2. Sikap sebagai Akuntan Perusahaan terhadap Tekanan Investor Luar Negeri

Sebagai akuntan perusahaan, saya tolak tekanan investor untuk ganti kebijakan akuntansi biar laba naik. Saya ikut standar etika profesi, kayak Kode Etik IFAC atau IAI, yang tekankan integritas dan objektivitas.

  1. Cara tangani: Analisis risiko perubahan, jelasin alasannya ke investor, dan kalau perlu konsultasi auditor independen.
  2. Komunikasi kenapa konservatif penting, diberi saran disclosure tambahan untuk menjelaskan risiko.

Apakah mengikuti keinginan investor bertentangan dengan prinsip etika profesi akuntan?

Ya, bertentangan. Etika akuntan melarang manipulasi laporan untuk kepentingan pihak tertentu, biar informasi andal dan bebas bias. Ikut investor bisa dianggap earnings management, langgar standar kayak IAS 1 atau PSAK 1. Ini bisa membawa sanksi hukum atau reputasi, kayak skandal Enron.

 3. Pengaruh Ekonomi Politik pada Proses Penetapan Standar Akuntans .Proses membuat standar akuntansi sering dipengaruhi ekonomi politik, di mana kepentingan ekonomi, politik, dan sosial dari pemerintah, industri, atau lobi bentuk standar untuk memajukan agenda mereka. Di tingkat nasional:Pemerintah dan asosiasi industri pengaruhi standar untuk dukung pertumbuhan atau lindungi kepentingan. Di Indonesia, DSAK bikin standar tapi tekanan politik dari asosiasi tambang bisa bikin aturan longgar, kayak dalam kasus PT Lestari Mineral di mana standar keberlanjutan dirumuskan tapi dipengaruhi lobi industri. Di tingkat global:Organisasi seperti IASB dipengaruhi lobi perusahaan besar. Contoh: Dalam IFRS 9, bank dorong interpretasi kurang agresif untuk kerugian kredit selama krisis 2008. Investor asing di kasus ini mungkin mendorong IFRS agresif untuk biaya lingkungan, mirip industri minyak pengaruhi standar emisi. Contoh lain:

  1. Di AS, FASB dipengaruhi lobi korporat, seperti dalam stock options accounting di mana perusahaan teknologi dorong biaya rendah.
  2. Di Eropa, adopsi IFRS dipengaruhi politik integrasi, dengan negara seperti Jerman lindungi bank dari pengakuan kerugian agresif. Ekonomi politik membuat standar lebih kayak kompromi politik daripada teknis murni, sering utamain stabilitas ekonomi atau pemodal.

4. Perbandingan Pendekatan Standard-Setting Berbasis Prinsip (IFRS) dengan Pendekatan Berbasis Aturan (GAAP)

Perbandingan: Berbasis prinsip (IFRS): Fokus konsep umum seperti fairness dan prudence, berikan fleksibilitas untuk situasi spesifik. Dorong judgment profesional, tapi bisa inkonsisten. Berbasis aturan (GAAP):Detail dengan aturan spesifik, kurangin subjektivitas, tapi kaku dan kurang responsif ke inovasi.

Relevansi di Indonesia: IFRS lebih relevan. Indonesia menggunakan PSAK mirip IFRS sejak 2012, cocok untuk pasar berkembang dengan fleksibilitas untuk menangani kompleksitas bisnis seperti tambang. Dukung keberlanjutan tanpa aturan kaku yang bisa dihindari industri. Integrasi global tarik FDI, kurangi biaya compliance. GAAP kurang fleksibel untuk ekonomi politik Indonesia, di mana standar perlu sesuai regulasi lokal. IFRS dorong judgment profesional, sangat penting di negara dengan sumber daya akuntan terbatas. Tapi perlu enforcement kuat dan hindari abuse.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Pendapat Saya tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi menurut kedua jurnal yang berjudul EXPLORING THE IMPACT OF BEHAVIORAL FACTORS ON ACCOUNTING SYSTEMS AND FINANCIAL DECISION-MAKING dan Meningkatkan nilai keberlanjutan perusahaan: Sebuah pendekatan untuk menyelaraskan beberapa panduan SDGs dalam pelaporan , sikap dan cara pikir manusia sangat mempengaruhi akuntansi. Selama ini, orang berasumsi bahwa pengambil keputusan di perusahaan selalu logis dan hanya melihat angka. Kenyataannya, tidak begitu.
‎Keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh:
‎a. Sifat manusiawi: Misalnya, rasa terlalu percaya diri bisa membuat manajer memprediksi pendapatan terlalu tinggi. Atau, kecenderungan untuk hanya mau dengar hal yang sesuai dengan pendapatnya bisa membuat mereka mengabaikan laporan yang bertentangan.
‎b. Faktor sosial: Seperti rasa percaya pada sistem akuntansi dan budaya di perusahaan itu sendiri. Jadi, sistem akuntansi yang hanya peduli pada angka dan teknis saja tidak cukup. Harus juga mempertimbangkan siapa yang akan memakainya dan bagaimana lingkungan kerjanya.
‎Aspek Perilaku Ini sangat penting karena
‎1. Agar Keputusan Keuangan Lebih Baik: Dengan tahu bahwa manusia punya bias, sistem akuntansi bisa dirancang untuk mengurangi kesalahan dalam menafsirkan data. Hasilnya, keputusan soal anggaran atau investasi jadi lebih tepat.
‎2. Agar Sistem Baru Benar-Benar Dipakai: Sistem akuntansi yang canggih bisa gagal jika karyawan tidak percaya atau tidak paham cara menggunakannya. Memahami perilaku manusia membantu agar sistem diterima dengan baik.
‎3. Untuk Mengatur Perilaku Karyawan: Sistem insentif dan pengawasan bisa dirancang agar selaras dengan cara berpikir karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

‎Proses Membuat Standar Akuntansi & Sisi Politik-Ekonomi
‎Membuat aturan akuntansi (standar akuntansi) tidaklah netral. Proses ini penuh dengan permainan kepentingan dari berbagai pihak.
‎1. Membuat draft atau rancangan aturan.
‎2. Minta pendapat dari publik (perusahaan, investor, dll).
‎3. Terima semua masukan (yang seringkali bertentangan).
‎4. Revisi draft berdasarkan masukan.
‎5. Terbitkan aturan final.

‎Sisi Politik dan Ekonomi (Tarik-Ulur Kepentingan):
‎a. Perusahaan vs Investor:
‎Perusahaan sering ingin aturan yang fleksibel, agar bisa membuat laporan keuangan mereka terlihat bagus dan stabil.
‎ b. Investor menginginkan aturan yang transparan dan jujur, agar mereka bisa melihat kinerja perusahaan yang sebenarnya, meski angkanya naik-turun.
‎c. Campur Tangan Pemerintah: Pemerintah bisa ikut campur untuk melindungi perusahaan dalam negeri atau untuk tujuan ekonomi tertentu.
‎d. Negara Maju: Negara dengan ekonomi kuat bisa mendorong aturan global yang menguntungkan perusahaan-perusahaan dari negara mereka.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​NPM : 2413831088
Kelas : 24C


Berikut tanggapan saya terhadap video Reporting on SDGs

1. Kesadaran Strategis terhadap SDGs
Video ini menjelaskan bahwa kerangka kerja tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) bukan hanya agenda sosial namun juga menyentuh aspek bisnis dan operasional organisasi. Ini penting karena banyak organisasi masih memandang SDGs sebagai tambahan alih-alih bagian inti strategi.

2. Pendekatan Terstruktur ke Pelaporan
Dengan membahas bagaimana organisasi dapat mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan kontribusinya terhadap SDGs, video memberikan panduan yang cukup operasional. Ini membantu menjembatani gap antara literasi SDG yang umum dan praktik pelaporan yang konkret.

3. Transparansi & Akuntabilitas
Penekanan pada perlunya mengakui batasan data, kesulitan pengukuran, risiko green-washing menjadi aspek yang sangat positif. Karena aspek ini sering terabaikan dalam banyak materi yang hanya memuji pencapaian tanpa membahas tantangan.
Aspek yang Bisa Ditambah
1. Kedalaman Contoh Praktis
Meski video memberi kerangka bagus, kurang membahas banyak contoh spesifik dari organisasi nyata, terutama dari negara berkembang atau konteks lokal. Padahal, konteks seperti di Indonesia atau Asia Tenggara mempunyai tantangan berbeda dalam pelaporan dan pengukuran.
2. Data & Metodologi yang Terbatas
Terlihat bahwa diskusi soal metrik dan indikator agak umum tidak terlalu mendalami bagaimana memilih indikator yang tepat untuk setiap SDG atau bagaimana menyikapi data yang tidak tersedia secara lokal. Untuk organisasi yang baru dimulai, aspek ini mungkin kurang memadai.
3. Konteks Lokal & Praktik untuk Bisnis Kecil/Menengah
Banyak organisasi besar yang bisa memiliki sumber daya untuk pelaporan SDGs. Tapi bagi usaha kecil atau menengah (UKM) di Indonesia, video bisa lebih mengena jika menambahkan modul bagaimana memulai dengan sumber daya terbatas.