Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Pendapat Saya tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi menurut kedua jurnal yang berjudul EXPLORING THE IMPACT OF BEHAVIORAL FACTORS ON ACCOUNTING SYSTEMS AND FINANCIAL DECISION-MAKING dan Meningkatkan nilai keberlanjutan perusahaan: Sebuah pendekatan untuk menyelaraskan beberapa panduan SDGs dalam pelaporan , sikap dan cara pikir manusia sangat mempengaruhi akuntansi. Selama ini, orang berasumsi bahwa pengambil keputusan di perusahaan selalu logis dan hanya melihat angka. Kenyataannya, tidak begitu.
‎Keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh:
‎a. Sifat manusiawi: Misalnya, rasa terlalu percaya diri bisa membuat manajer memprediksi pendapatan terlalu tinggi. Atau, kecenderungan untuk hanya mau dengar hal yang sesuai dengan pendapatnya bisa membuat mereka mengabaikan laporan yang bertentangan.
‎b. Faktor sosial: Seperti rasa percaya pada sistem akuntansi dan budaya di perusahaan itu sendiri. Jadi, sistem akuntansi yang hanya peduli pada angka dan teknis saja tidak cukup. Harus juga mempertimbangkan siapa yang akan memakainya dan bagaimana lingkungan kerjanya.
‎Aspek Perilaku Ini sangat penting karena
‎1. Agar Keputusan Keuangan Lebih Baik: Dengan tahu bahwa manusia punya bias, sistem akuntansi bisa dirancang untuk mengurangi kesalahan dalam menafsirkan data. Hasilnya, keputusan soal anggaran atau investasi jadi lebih tepat.
‎2. Agar Sistem Baru Benar-Benar Dipakai: Sistem akuntansi yang canggih bisa gagal jika karyawan tidak percaya atau tidak paham cara menggunakannya. Memahami perilaku manusia membantu agar sistem diterima dengan baik.
‎3. Untuk Mengatur Perilaku Karyawan: Sistem insentif dan pengawasan bisa dirancang agar selaras dengan cara berpikir karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

‎Proses Membuat Standar Akuntansi & Sisi Politik-Ekonomi
‎Membuat aturan akuntansi (standar akuntansi) tidaklah netral. Proses ini penuh dengan permainan kepentingan dari berbagai pihak.
‎1. Membuat draft atau rancangan aturan.
‎2. Minta pendapat dari publik (perusahaan, investor, dll).
‎3. Terima semua masukan (yang seringkali bertentangan).
‎4. Revisi draft berdasarkan masukan.
‎5. Terbitkan aturan final.

‎Sisi Politik dan Ekonomi (Tarik-Ulur Kepentingan):
‎a. Perusahaan vs Investor:
‎Perusahaan sering ingin aturan yang fleksibel, agar bisa membuat laporan keuangan mereka terlihat bagus dan stabil.
‎ b. Investor menginginkan aturan yang transparan dan jujur, agar mereka bisa melihat kinerja perusahaan yang sebenarnya, meski angkanya naik-turun.
‎c. Campur Tangan Pemerintah: Pemerintah bisa ikut campur untuk melindungi perusahaan dalam negeri atau untuk tujuan ekonomi tertentu.
‎d. Negara Maju: Negara dengan ekonomi kuat bisa mendorong aturan global yang menguntungkan perusahaan-perusahaan dari negara mereka.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​NPM : 2413831088
Kelas : 24C


Berikut tanggapan saya terhadap video Reporting on SDGs

1. Kesadaran Strategis terhadap SDGs
Video ini menjelaskan bahwa kerangka kerja tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) bukan hanya agenda sosial namun juga menyentuh aspek bisnis dan operasional organisasi. Ini penting karena banyak organisasi masih memandang SDGs sebagai tambahan alih-alih bagian inti strategi.

2. Pendekatan Terstruktur ke Pelaporan
Dengan membahas bagaimana organisasi dapat mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan kontribusinya terhadap SDGs, video memberikan panduan yang cukup operasional. Ini membantu menjembatani gap antara literasi SDG yang umum dan praktik pelaporan yang konkret.

3. Transparansi & Akuntabilitas
Penekanan pada perlunya mengakui batasan data, kesulitan pengukuran, risiko green-washing menjadi aspek yang sangat positif. Karena aspek ini sering terabaikan dalam banyak materi yang hanya memuji pencapaian tanpa membahas tantangan.
Aspek yang Bisa Ditambah
1. Kedalaman Contoh Praktis
Meski video memberi kerangka bagus, kurang membahas banyak contoh spesifik dari organisasi nyata, terutama dari negara berkembang atau konteks lokal. Padahal, konteks seperti di Indonesia atau Asia Tenggara mempunyai tantangan berbeda dalam pelaporan dan pengukuran.
2. Data & Metodologi yang Terbatas
Terlihat bahwa diskusi soal metrik dan indikator agak umum tidak terlalu mendalami bagaimana memilih indikator yang tepat untuk setiap SDG atau bagaimana menyikapi data yang tidak tersedia secara lokal. Untuk organisasi yang baru dimulai, aspek ini mungkin kurang memadai.
3. Konteks Lokal & Praktik untuk Bisnis Kecil/Menengah
Banyak organisasi besar yang bisa memiliki sumber daya untuk pelaporan SDGs. Tapi bagi usaha kecil atau menengah (UKM) di Indonesia, video bisa lebih mengena jika menambahkan modul bagaimana memulai dengan sumber daya terbatas.