Posts made by Anindia Maharani

AKM B2025 -> Diskusi

by Anindia Maharani -
Nama : Anindia Maharani
Npm : 2413031042

Nilai waktu uang merupakan prinsip dasar yang menyatakan bahwa uang yang kita miliki sekarang lebih bernilai dibandingkan dengan jumlah yang sama di masa mendatang. Hal ini disebabkan karena uang saat ini dapat diinvestasikan untuk mendapatkan keuntungan, serta perlu memperhitungkan efek inflasi dan ketidakpastian. Konsep ini mencakup perhitungan Nilai Sekarang yang mendiskontokan nilai uang di masa depan ke saat ini, dan juga Nilai Masa Depan yang memperkirakan nilai uang saat ini untuk periode yang akan datang. Oleh karena itu, konsep ini sangat penting dalam membuat keputusan investasi, menilai aset, merencanakan keuangan, serta menganalisis pinjaman

TA B 2025 -> DISKUSI

by Anindia Maharani -
Assalamualaikum wr.wb
Nama: Anindia Maharani
Npm: 2413031042

Video “Kerangka Pengukuran Laporan Keuangan ACCA (FR)” menjelaskan tentang konsep pengukuran dalam konteks akuntansi, terutama bagaimana cara mengukur aset dan liabilitas setelah pengakuan awal menggunakan berbagai pendekatan seperti biaya historis atau nilai wajar, tergantung pada seberapa relevan dan terpercaya informasi tersebut.

Materi ini menekankan bahwa tidak ada satu pendekatan pengukuran yang bisa digunakan untuk semua item, sehingga laporan keuangan umumnya menerapkan metode campuran, dengan mempertimbangkan aspek relevansi, representasi yang akurat, ketidakpastian dalam pengukuran, serta konteks model bisnis dari entitas.

Menurut pendapat saya, penyampaian materi ini cukup jelas dan terorganisir, dengan kekuatan pada penjelasan yang simpel dan relevan untuk persiapan ujian ACCA/IFRS, serta memberikan contoh aplikasi yang praktis.

Namun, ada beberapa kelemahan, seperti kedalaman bahasan yang tidak terlalu mendalam, kurangnya fokus pada kelemahan nilai wajar seperti risiko manipulasi atau fluktuasi, serta minimnya visualisasi sehingga materi terasa kurang nyata.

Sebagai kesimpulan, video ini bermanfaat sebagai materi awal dan tambahan untuk mahasiswa atau praktisi, namun idealnya dipadukan dengan studi tentang standar akuntansi yang ada dan latihan soal agar pemahaman menjadi lebih komprehensif.
Assalamualaikum wr.wb
Nama : Anindia Maharani
Npm : 2413031042
Izin menjawab ibu,

Teori pengukuran dalam pelaporan adalah aturan dasar dalam akuntansi untuk mencatat dan melaporkan keuangan perusahaan agar laporan tersebut dapat dipercaya dan berguna bagi pengambil keputusan. Intinya adalah memastikan informasi yang disajikan relevan, akurat, dapat dibandingkan antar periode, konsisten dalam metode pengukuran, dan hanya mencakup hal-hal yang material. Metode pengukuran yang umum digunakan meliputi harga asli (biaya historis), harga sekarang (nilai wajar), dan nilai masa depan. Di Indonesia, aturan ini diatur oleh Standar Akuntansi Keuangan (SAK) agar laporan keuangan seragam dan mudah dipahami.

TA B 2025 -> CASE STUDY

by Anindia Maharani -
Assalamu'alaikum wr.wb
Nama : Anindia Maharani
Npm : 2413031042

1. Garuda milih pake nilai wajar buat ngukur asetnya itu debatable banget, apalagi di Indonesia yang pasar pesawatnya gak seramai negara lain. Kita bedah pake prinsip PSAK sama IFRS:
Kalo dari PSAK:
a. Keandalan: PSAK tuh lebih mentingin informasi yang bisa dipercaya. Nah, nentuin nilai wajar di pasar yang sepi itu subjektif banget, jadi kurang reliable, karena tidak didukung oleh transaksi pasar yang nyata. Harga lama (historical cost), walau ada kurangnya, lebih gampang dicek dan dianggap lebih bisa diandelin di pasar yang gak likuid.
b. Konservatisme: Walau gak jadi prinsip utama lagi, konservatisme di PSAK tuh masih ada efeknya. Auditor nyaranin pake harga lama itu karena khawatir asetnya jadi kegedean kalo nilai wajarnya gak sesuai kondisi pasar.
Kalo dari IFRS:
a. Relevansi: IFRS itu lebih fokus ke informasi yang relevan buat ngambil keputusan. Nilai wajar dianggap lebih relevan karena nunjukkin kondisi pasar terkini dan nilai ekonomi aset yang lebih akurat.
b. Substance over Form: Garuda bilang nilai wajar lebih nunjukkin “substance over form,” ini prinsip penting di IFRS. Tapi, ini perlu dipikirin mateng-mateng. Kalo nilai wajarnya gak didukung pasar yang aktif dan transparan, ya Cuma angka di atas kertas yang gak nyata.
c. Narik Investor Global: Pake IFRS bisa narik investor asing karena standarnya lebih dikenal di dunia. Tapi, investor yang pinter juga bakal ngeliat keandalan informasi. Nilai wajar yang gak jelas asalnya dari pasar yang likuid bisa bikin mereka ragu.

Intinya, Keputusan Garuda ini sah-sah aja kalo mereka bisa buktiin nilai wajarnya beneran nilai ekonomi pesawat dan bisa diverifikasi. Tapi, kalo pasar aktifnya dikit banget, mending pake harga lama aja, lebih sesuai sama prinsip keandalan dan konservatisme, plus investor juga lebih percaya

2. Perbandingan Kerangka Konsep PSAK vs. IFRS
Secara umum, tujuan laporan keuangan menurut PSAK adalah menyediakan informasi yang relevan dan andal bagi pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi. Sementara itu, IFRS bertujuan menyediakan informasi keuangan tentang entitas pelapor yang berguna bagi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor lainnya untuk membuat keputusan tentang penyediaan sumber daya ke entitas. Karakteristik kualitatif informasi menurut PSAK adalah relevan, andal, dapat dibandingkan, dan gampang dipahamin. Sedangkan menurut IFRS, karakteristiknya adalah relevansi dan representasi jujur (faithful representation), serta karakteristik peningkatan: komparabilitas, verifiabilitas, ketepatan waktu, dan understandability. Dasar pengukuran yang digunakan dalam PSAK adalah biaya historis dan nilai wajar (dalam kasus tertentu), sementara IFRS lebih sering menggunakan nilai wajar, meskipun biaya historis masih relevan. Asumsi yang mendasari PSAK adalah kelangsungan usaha (going concern), entitas akuntansi (accounting entity), periode waktu (time period), dan satuan moneter (monetary unit). Sementara IFRS hanya menekankan asumsi kelangsungan usaha (going concern).

3. Indonesia Harus Full IFRS Tanpa Penyesuaian?
Tidak, Indonesia jangan langsung niru IFRS mentah-mentah. Karena Pasaran di Indonesia belum se-efisien dan se-likuid di negara maju. Pake nilai wajar kebablasan bisa masalah kalo gak ada pasar aktif buat nentuin nilainya.
Infrastruktur akuntansi sama regulasi kita juga mungkin belum siap buat IFRS full. Kemudian budaya konservatisme masih kuat di indonesia, Pake nilai wajar yang agresif bisa dianggap gak hati-hati. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat ke laporan keuangan juga masih perlu ditingkatin. Standar yang ribet malah bikin susah dan gak percaya. Indonesia punya bisnis dan regulasi yang beda dari negara lain. Beberapa standar IFRS perlu diubah biar pas sama kondisi di sini. PSAK yang disesuaiin sama IFRS (adopsi atau konvergensi) bikin kita tetep relevan di dunia tapi juga bisa memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kesimpulannya Indonesia mending adopsi atau konvergensi sama IFRS pelan-pelan aja, sambil mikirin faktor ekonomi, sosial, dan pasar lokal. Penyesuaian itu penting biar standar akuntansi yang dipake relevan, bisa diandelin, dan gampang dipahamin di sini. Kalo langsung niru IFRS tanpa mikir panjang, malah bikin masalah dan gak ngasih manfaat yang maksimal buat ekonomi kita.