Assalamu'alaikum wr.wb
Nama : Anindia Maharani
Npm : 2413031042
1. Garuda milih pake nilai wajar buat ngukur asetnya itu debatable banget, apalagi di Indonesia yang pasar pesawatnya gak seramai negara lain. Kita bedah pake prinsip PSAK sama IFRS:
Kalo dari PSAK:
a. Keandalan: PSAK tuh lebih mentingin informasi yang bisa dipercaya. Nah, nentuin nilai wajar di pasar yang sepi itu subjektif banget, jadi kurang reliable, karena tidak didukung oleh transaksi pasar yang nyata. Harga lama (historical cost), walau ada kurangnya, lebih gampang dicek dan dianggap lebih bisa diandelin di pasar yang gak likuid.
b. Konservatisme: Walau gak jadi prinsip utama lagi, konservatisme di PSAK tuh masih ada efeknya. Auditor nyaranin pake harga lama itu karena khawatir asetnya jadi kegedean kalo nilai wajarnya gak sesuai kondisi pasar.
Kalo dari IFRS:
a. Relevansi: IFRS itu lebih fokus ke informasi yang relevan buat ngambil keputusan. Nilai wajar dianggap lebih relevan karena nunjukkin kondisi pasar terkini dan nilai ekonomi aset yang lebih akurat.
b. Substance over Form: Garuda bilang nilai wajar lebih nunjukkin “substance over form,” ini prinsip penting di IFRS. Tapi, ini perlu dipikirin mateng-mateng. Kalo nilai wajarnya gak didukung pasar yang aktif dan transparan, ya Cuma angka di atas kertas yang gak nyata.
c. Narik Investor Global: Pake IFRS bisa narik investor asing karena standarnya lebih dikenal di dunia. Tapi, investor yang pinter juga bakal ngeliat keandalan informasi. Nilai wajar yang gak jelas asalnya dari pasar yang likuid bisa bikin mereka ragu.
Intinya, Keputusan Garuda ini sah-sah aja kalo mereka bisa buktiin nilai wajarnya beneran nilai ekonomi pesawat dan bisa diverifikasi. Tapi, kalo pasar aktifnya dikit banget, mending pake harga lama aja, lebih sesuai sama prinsip keandalan dan konservatisme, plus investor juga lebih percaya
2. Perbandingan Kerangka Konsep PSAK vs. IFRS
Secara umum, tujuan laporan keuangan menurut PSAK adalah menyediakan informasi yang relevan dan andal bagi pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi. Sementara itu, IFRS bertujuan menyediakan informasi keuangan tentang entitas pelapor yang berguna bagi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor lainnya untuk membuat keputusan tentang penyediaan sumber daya ke entitas. Karakteristik kualitatif informasi menurut PSAK adalah relevan, andal, dapat dibandingkan, dan gampang dipahamin. Sedangkan menurut IFRS, karakteristiknya adalah relevansi dan representasi jujur (faithful representation), serta karakteristik peningkatan: komparabilitas, verifiabilitas, ketepatan waktu, dan understandability. Dasar pengukuran yang digunakan dalam PSAK adalah biaya historis dan nilai wajar (dalam kasus tertentu), sementara IFRS lebih sering menggunakan nilai wajar, meskipun biaya historis masih relevan. Asumsi yang mendasari PSAK adalah kelangsungan usaha (going concern), entitas akuntansi (accounting entity), periode waktu (time period), dan satuan moneter (monetary unit). Sementara IFRS hanya menekankan asumsi kelangsungan usaha (going concern).
3. Indonesia Harus Full IFRS Tanpa Penyesuaian?
Tidak, Indonesia jangan langsung niru IFRS mentah-mentah. Karena Pasaran di Indonesia belum se-efisien dan se-likuid di negara maju. Pake nilai wajar kebablasan bisa masalah kalo gak ada pasar aktif buat nentuin nilainya.
Infrastruktur akuntansi sama regulasi kita juga mungkin belum siap buat IFRS full. Kemudian budaya konservatisme masih kuat di indonesia, Pake nilai wajar yang agresif bisa dianggap gak hati-hati. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat ke laporan keuangan juga masih perlu ditingkatin. Standar yang ribet malah bikin susah dan gak percaya. Indonesia punya bisnis dan regulasi yang beda dari negara lain. Beberapa standar IFRS perlu diubah biar pas sama kondisi di sini. PSAK yang disesuaiin sama IFRS (adopsi atau konvergensi) bikin kita tetep relevan di dunia tapi juga bisa memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kesimpulannya Indonesia mending adopsi atau konvergensi sama IFRS pelan-pelan aja, sambil mikirin faktor ekonomi, sosial, dan pasar lokal. Penyesuaian itu penting biar standar akuntansi yang dipake relevan, bisa diandelin, dan gampang dipahamin di sini. Kalo langsung niru IFRS tanpa mikir panjang, malah bikin masalah dan gak ngasih manfaat yang maksimal buat ekonomi kita.