Popularitas tim dalam organisasi semakin meningkat karena kebutuhan kerja di era modern semakin kompleks dan dinamis. Pekerjaan yang bersifat multidimensi tidak lagi bisa diselesaikan secara individu, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas keahlian. Tim terbukti lebih efektif karena mampu menggabungkan ide, pengalaman, dan keterampilan beragam anggota. Selain itu, perkembangan teknologi juga mendukung terbentuknya tim virtual, yang memungkinkan kolaborasi tanpa batasan geografis. Faktor-faktor ini membuat konsep teamwork semakin populer dalam organisasi bisnis maupun non-bisnis.
2. Bandingkan kelompok dengan tim
2.1 Kelompok (Group) Hanya sekumpulan orang yang berkumpul. Anggotanya lebih berfokus pada kontribusi individual, tidak selalu memiliki tujuan bersama, dan hasil akhirnya biasanya hanyalah akumulasi kinerja tiap individu. Contoh: Mahasiswa yang duduk bareng di kelas untuk mengerjakan tugas, tetapi hasilnya dikumpulkan masing-masing.
2.2 Tim (Team) Sekelompok orang yang bekerja sama secara terstruktur untuk mencapai tujuan bersama. Ada kolaborasi, koordinasi, serta sinergi sehingga hasil akhir lebih besar daripada sekadar penjumlahan kontribusi individual. Contoh: Tim proyek pengembangan aplikasi startup, di mana ide, keahlian, dan pengalaman semua anggota digabungkan untuk menghasilkan produk terbaik.
3. Bandingkan 5 tipe tim
3.1 Problem-Solving Team → Bersifat sementara, fokus mencari solusi atas masalah tertentu. Contoh: Tim audit internal untuk mencari penyebab tingginya defect produk.
3.2 Self-Managed Work Team → Tim yang mandiri tanpa pengawasan langsung, mengatur tugas, jadwal, dan keputusan sendiri. Contoh: Tim programmer yang mengatur pembagian kerja dan testing secara independen.
3.3 Cross-Functional Team → Terdiri dari anggota lintas departemen/keahlian untuk proyek bersama. Contoh: Tim pengembangan produk baru yang melibatkan marketing, finance, R&D, dan produksi.
3.4 Virtual Team → Bekerja secara online dengan bantuan teknologi komunikasi, anggotanya tersebar di lokasi berbeda. Contoh: Tim global perusahaan multinasional yang berkolaborasi lewat Zoom dan Slack.
3.5 Multiteam System → Seseorang bisa terlibat di beberapa tim sekaligus, sehingga informasi dan ide bisa menyebar lebih cepat. Contoh: Karyawan yang ikut tim pemasaran sekaligus tim inovasi produk.
4. Karakteristik tim yang efektif
4.1 Memiliki anggota dengan kemampuan teknis dan interpersonal.
4.2 Komunikasi yang terbuka dan mampu menyelesaikan konflik.
4.3 Peran yang jelas (ada pemimpin, pelaksana, evaluator).
4.4Tujuan bersama yang dipahami semua anggota.
4.5 Refleksivitas: mampu adaptasi terhadap perubahan.
4.6 Kohesi tinggi dan saling percaya antar anggota.
4.7 Adanya transactive memory system (anggota tahu siapa ahli dalam bidang tertentu).
4.8 Motivasi kolektif dan efikasi tim yang kuat.
4.9 Ukuran tim ideal (tidak terlalu besar, setiap orang berkontribusi nyata).
5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain tim
5.1 Seleksi: Rekrut individu dengan keterampilan teknis dan interpersonal yang seimbang.
5.2 Pelatihan: Latih komunikasi, kerja sama, manajemen konflik, serta kesadaran peran.
5.3 Penghargaan: Berikan apresiasi tidak hanya individu, tapi juga keberhasilan tim.
5.4 Budaya organisasi: Bangun budaya kolaboratif dengan nilai saling percaya, keterbukaan, dan tujuan bersama.
5.5 Identitas & Cohesion: Ciptakan identitas tim (nama tim, simbol, misi bersama) untuk menumbuhkan rasa memiliki.
6. Jelaskan kapan menggunakan para individual dan bukannya tim.
Tidak semua pekerjaan harus dikerjakan tim.
Gunakan individu ketika:
Tugasnya sederhana dan rutin.
Tidak membutuhkan kolaborasi lintas keahlian.
Target lebih efektif diselesaikan dengan cepat oleh satu orang.
Tingkat koordinasi tim justru menambah biaya dan waktu. Contoh: Input data ke sistem, desain sederhana, atau laporan pribadi.
Gunakan tim ketika:
Pekerjaan kompleks, butuh inovasi, dan perspektif beragam.
Ada tujuan bersama yang jelas dan saling ketergantungan antar anggota. Contoh: Riset pasar, inovasi produk, strategi pemasaran global.