Npm : 2413053043
Npm : 2413053043
Nama : Sofirani Nur Fadilah
Npm : 2413053043
Izin menjawab pertanyaan Jesika Handayani
Menurut kami Kondisi tersebut memang dapat terjadi apabila kerja kelompok dilakukan tanpa struktur yang jelas. Siswa yang aktif cenderung mengambil alih tugas, sedangkan siswa yang kurang memiliki keterampilan sosial semakin pasif karena kurang mendapat kesempatan untuk terlibat. Untuk mengatasinya, guru perlu membagi peran dalam kelompok secara jelas dan bergilir, misalnya sebagai juru bicara, pencatat, atau penanya, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk berpartisipasi. Guru juga dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif seperti Jigsaw , di mana setiap siswa memiliki bagian informasi yang harus dipahami dan disampaikan kepada kelompoknya.
Selain itu, guru perlu melakukan penilaian terhadap kontribusi setiap siswa, bukan hanya hasil akhir kelompok, serta memutarkan diskusi agar tidak ada siswa yang terlalu mendominasi. Jika terdapat siswa yang pasif, guru dapat memberikan arahan atau pertanyaan secara langsung agar mereka terdorong untuk menyampaikan pendapat. Dengan strategi tersebut, kelompok kerja dapat menjadi sarana untuk melatih keterampilan sosial seluruh siswa secara lebih merata, bukan hanya siswa yang sudah aktif.
Izin menjawab Ninda Nur Azizah
Guru sebaiknya tidak memilih salah satu, karena materi dan keterampilan sosial dapat dicapai secara bersamaan melalui pembelajaran yang dirancang secara terintegrasi. Keterampilan sosial pada dasarnya menyatu dengan tujuan pembelajaran IPS, bukan merupakan kegiatan terpisah yang memerlukan waktu tambahan.
Caranya adalah dengan mengintegrasikan keterampilan sosial ke dalam proses pencapaian materi itu sendiri. Contohnya, pada materi keragaman suku dan budaya, guru dapat menerapkan model Jigsaw , di mana siswa tetap mempelajari materi secara mendalam sekaligus berlatih menghargai pendapat, membagi tugas, dan bertanggung jawab dalam kelompok. Untuk mengatasi keterbatasan waktu, guru dapat memilih model yang efisien tetapi tetap melibatkan interaksi, seperti pembelajaran berbasis proyek atau Value Clarification Technique (VCT) , yaitu model pembelajaran yang membantu siswa memahami dan mengklarifikasi nilai melalui kegiatan diskusi, tanya jawab, atau pemecahan masalah sosial. Guru juga dapat mengatur manajemen kelas dan alokasi waktu secara efektif serta memanfaatkan teknologi, seperti diskusi berani, untuk memperkaya interaksi tanpa menambah waktu tatap muka.
Dengan cara tersebut, guru dapat mencapai pemahaman materi sekaligus mengembangkan keterampilan sosial siswa, karena keduanya dapat berjalan beriringan selama pembelajaran dirancang dengan tepat.