Posts made by Asnia Sundari

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Asnia Sundari -
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu.
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040
Berikut resume singkat esensi artikel jurnal dari yang ibu bagikan.

This article discusses the debate between Historical Cost dan Fair Value Measurement dalam akuntansi keuangan. Measurement adalah hal inti dalam accounting karena semua aset dan liabilities harus dicatat pada dua titik penting: initial recognition (saat pertama kali dicatat) dan balance sheet date.

  1. Historical cost berarti aset dicatat pada harga perolehan awal (purchase price). Nilai hanya berubah jika ada impairment (penurunan nilai). Metode ini dianggap sederhana, objektif, dan stabil, tetapi kelemahannya adalah low information potentia di mana  angka yang tercatat bisa jauh berbeda dari kondisi ekonomi saat ini.
  2. Fair value, sebaliknya, mencerminkan nilai pasar saat ini (“the amount for which an asset could be exchanged, or a liability settled, between knowledgeable, willing parties”). Konsep ini lebih relevan karena menunjukkan kondisi ekonomi terkini, apalagi untuk financial instruments. Namun, fair value sering menghadapi masalah reliability, terutama ketika tidak ada active market. Estimasi berbasis model bisa membuat angka menjadi subjektif.

IFRS saat ini lebih condong menggunakan fair value di balance sheet date, sementara initial recognition biasanya tetap memakai cost. Beberapa standar, seperti IAS 41 (Agriculture) dan IAS 39 (Financial Instruments), bahkan mewajibkan fair value sejak awal.

Pada financial crisis, fair value menjadi kontroversial. Market prices bisa jatuh drastis, membuat laporan keuangan terlihat buruk dan memperparah krisis. Oleh karena itu, sebagian ahli berpendapat bahwa fair value perlu disajikan sebagai informasi alternatif, bukan dasar tunggal.

So, there is no single perfect method. Historical cost memberikan stabilitas, sedangkan fair value memberikan relevansi. A wise approach adalah kombinasi keduanya untuk menghasilkan informasi yang reliable dan useful bagi users.

Sekian, terima kasih Bu.

TA B 2025 -> DISKUSI

by Asnia Sundari -
Assalamu’alaikum, Bu.
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Setelah menyimak video tersebut, saya semakin paham bahwa terdapat perbedaan antara historical cost dan fair value dalam pencatatan aset perusahaan. Misalnya, kantor yang dibeli 20 tahun lalu senilai 5 juta dolar, sekarang nilainya bisa 35 juta dolar karena kenaikan pasar properti. Perusahaan bisa pilih mencatat aset berdasarkan harga beli (historical cost) atau harga pasar sekarang (fair value), tetapi harus konsisten untuk semua aset sejenis. Fair value biasanya dipakai untuk properti, merek dagang, dan kewajiban seperti utang, dan penilaiannya cukup rumit karena butuh ahli.

Pemilihan metode ini penting supaya laporan keuangan jadi lebih jujur dan relevan sesuai kondisi pasar saat ini. Tapi, konsistensi juga krusial agar data tidak membingungkan. Metode fair value bisa lebih menggambarkan nilai riil, tetapi juga riskan karena pasar bisa fluktuatif. Jadi, pilihan tergantung kebutuhan dan karakter perusahaan.
Sekian, terima kasih Bu.

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Asnia Sundari -
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Accounting is more than numbers; it needs a sound measurement foundation.This paper highlights the role of measurement theory in accounting, especially dalam penyusunan financial statements. Dalam akuntansi modern, measurement sering dianggap sebagai inti dari praktik pencatatan, karena hampir semua laporan keuangan melibatkan angka (cost, value, income, atau assets). Namun, the study argues bahwa accounting belum sepenuhnya didukung oleh theory of measurement yang kuat, seperti halnya ilmu sosial lain menggunakan representational measurement theory.
Intinya, measurement tidak sekadar “menghitung” atau “mengklasifikasikan” uang, tetapi membutuhkan teori yang jelas tentang apa yang diukur, dengan skala apa, dan untuk tujuan apa. Without a clear measurement theory, financial statements risk menjadi ambigu. Misalnya, konsep value dalam akuntansi sering kabur yang terkadang berarti historical cost, kadang fair value, dan keduanya bisa diperdebatkan. Hal ini membuat laporan keuangan sulit memenuhi prinsip meaningfulness dalam teori pengukuran.
Selain itu, measurement in accounting selalu approximate, never exact. Semua pengukuran mengandung error. Namun, akuntansi sering memberi kesan seolah-olah angka dalam laporan keuangan adalah benar dan objektif, padahal banyak dipengaruhi estimasi, asumsi, dan kondisi sosial.
Kesimpulannya, jika akuntansi ingin benar-benar menjadi measurement discipline, it must develop a solid theory of accounting measurement yang jelas mendefinisikan objek, tujuan, serta skala pengukuran. Otherwise, the objectives of financial statements (decision making, prediction, comparability) tidak akan sepenuhnya tercapai.
Sekian, terima kasih bu.

TA B 2025 -> DISKUSI

by Asnia Sundari -
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Setelah menyimak video tersebut, saya memahami bahwa pentingnya measurement dalam pelaporan keuangan menurut Conceptual Framework FASB dan ACCA. Measurement adalah proses menentukan nilai numerik aset dan kewajiban dalam laporan keuangan. Ada beberapa basis pengukuran utama:

1. Historical cost, yaitu harga asli pembelian dikurangi depresiasi;
2. Fair value, harga yang bisa diperoleh jika aset dijual saat ini atau kewajiban diselesaikan sekarang (exit price);
3. Current cost, biaya untuk membeli aset serupa saat ini (entry price);
4. Value in use, nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan dari penggunaan aset tersebut.

Setiap basis ini punya kegunaan dan konteks berbeda, tergantung jenis aset dan situasi ekonomi. Misalnya, fair value sering dipakai untuk aset yang mudah diperdagangkan, sementara current cost lebih cocok untuk aset khusus yang sulit nilainya. Video juga menekankan pentingnya kualitas seperti faithful representation dan relevance agar angka yang dilaporkan bisa dipercaya dan berguna untuk pengambilan keputusan.

Sekian, terima kasih bu.