Kiriman dibuat oleh Zahrani Nurkhasanah 2416041065

NAMA : Zahrani Nurkhasanah
NPM : 2416041065
KELAS : REG B

Analisis saya mengenai jurnal ini yaitu menggarisbawahi tantangan serius dalam konsolidasi demokrasi di Indonesia pasca pemilu presiden 2019, yang dinilai fluktuatif dan belum berjalan secara teratur. Meskipun terdapat upaya untuk mendalami demokrasi, pelaksanaan pilpres menunjukkan kelemahan dalam pilar-pilar demokrasi yang seharusnya mendukung proses konsolidasi. Hal ini menjadi indikasi bahwa pembangunan demokrasi Indonesia masih memerlukan perhatian lebih dalam implementasinya.

Suksesi kepemimpinan menjadi masalah utama yang terlihat dalam pilpres 2019. Pemilu ini tidak berhasil menghasilkan transisi kepemimpinan yang lancar, sehingga mencerminkan ketidakstabilan politik yang mengganggu proses demokrasi. Ketidakpastian ini menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Kepercayaan publik juga menjadi isu signifikan pasca pemilu. Kerusuhan sosial yang terjadi setelah pengumuman hasil pemilu menandakan ketidakpuasan yang mendalam di kalangan masyarakat. Penolakan salah satu kandidat terhadap hasil pemilu menunjukkan bahwa konflik dan ketegangan masih menyelimuti proses pemilihan, sehingga memperlemah fondasi demokrasi.

Dalam konteks ini, peran Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi krusial. MK bertindak sebagai entitas kunci dalam menyelesaikan sengketa hasil pemilu, mencerminkan ketegangan dalam sistem pemilihan. Untuk mencapai konsolidasi demokrasi yang efektif, Indonesia perlu mengatasi tantangan struktural dan memastikan proses pemilu yang lebih transparan dan akuntabel.
NAMA : Zahrani Nurkhasanah
NPM : 2416041065
KELAS : REG B


Analisis saya mengenai video tersebut yaitu demokrasi dianut banyak negara karena menawarkan ruang bagi kebebasan untuk menyuarakan berbagai pendapat dari masyarakat dan menawarkan partisipasi bagi masyarakat dalam pengambilan keputusan. Hal itulah yang di sebut sebagai demokrasi merupakan sistem yang berisik.

Salah satu alasan utama banyak negara memilih demokrasi adalah kemampuannya untuk menjaga keamanan dan kemakmuran jangka panjang. Salah satu contohnya yaitu negara yang menganut demokrasi dari segi penegakan HAM akan memiliki sekor yang lebih tinggi. Selain itu angka korupsi lebih rendah, warganya pun lebih sehat dan bahagia. Warga di negara penganut demokrasi cenderung mempunyai angka harapan hidup yang tinggi dibandingkan negara-negara non demokrasi

Namun, keyakinan terhadap demokrasi mulai menghadapi tantangan di abad ke-21. Berbagai perkembangan situasi, seperti populisme, disinformasi, dan ketidakpuasan sosial, telah mengguncang fondasi demokrasi di banyak negara. Tantangan-tantangan ini memerlukan perhatian serius agar prinsip-prinsip demokrasi tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan dinamika global yang berubah.