Posts made by NURUL FADILAH

Nama: Nurul Fadilah
NPM: 231305327

Video tersebut menekankan pentingnya pendidikan nilai moral melalui tanggung jawab dalam keluarga. Contohnya termasuk menghormati nasihat ayah, membantu ibu, menemani kakak, dan menjaga keselamatan adik. Tanggung jawab ini mempererat hubungan keluarga, menjamin keselamatan, meringankan beban, dan membanggakan keluarga melalui usaha belajar yang sungguh-sungguh. Melaksanakan tanggung jawab ini membawa rasa bangga dan kebahagiaan dalam keluarga, serta menciptakan keharmonisan dan keamanan. Misalnya, membantu nenek di dapur atau mengunci pagar rumah untuk keamanan. Tanggung jawab dalam keluarga bukan hanya tentang peran individu, tetapi juga tentang kontribusi terhadap kesejahteraan bersama. Melalui tindakan-tindakan ini, setiap anggota keluarga dapat merasa lebih dekat dan saling mendukung, menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan perhatian. Tanggung jawab juga mengajarkan disiplin dan empati, yang penting untuk perkembangan moral anak-anak dan menciptakan masyarakat yang lebih baik di masa depan.
Nama: Nurul Fadilah
NPM: 2313053217

Jurnal "Penanaman Nilai-Nilai Moral pada Anak Usia Dini"

Jurnal ini menyoroti pentingnya pendidikan moral pada anak usia dini (PAUD) sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter. Penulis, Lia Yuliana, M.Pd, berpendapat bahwa masa pra-sekolah adalah periode kritis untuk menanamkan nilai-nilai moral yang akan membentuk sikap dan perilaku anak di masa depan. Pendidikan moral di PAUD bertujuan untuk membantu anak-anak berkembang dengan sikap dan perilaku positif sesuai tahap perkembangannya, sehingga mereka dapat menjadi warga negara yang baik.

Moral didefinisikan sebagai pandangan tentang baik dan buruk serta seperangkat keyakinan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Moral juga dipandang sebagai ajaran yang mengarahkan tingkah laku manusia berdasarkan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam konteks ini, moralitas mencakup berbagai aspek kehidupan yang membentuk perilaku dan karakter individu.

Penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini dilakukan melalui berbagai metode yang interaktif dan menyenangkan, seperti bermain, bercerita, pemberian tugas, dan bercakap-cakap. Melalui bermain, anak-anak belajar bersosialisasi, bekerja sama, dan menghargai aturan. Bercerita memberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan moral dan mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran dan rendah hati. Pemberian tugas, baik individu maupun kelompok, melatih tanggung jawab dan kerjasama. Bercakap-cakap membantu mengembangkan keterampilan komunikasi dan pemahaman tentang norma sosial.

Pelaksanaan penanaman nilai-nilai moral dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal seperti TK dan RA, serta non-formal seperti Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak. Persiapan pembelajaran yang melibatkan penggunaan media pembelajaran, alat permainan edukatif, dan buku pegangan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penanaman nilai-nilai moral. Lingkungan bermain yang disusun dengan baik dan kegiatan pembelajaran yang terstruktur membantu anak-anak menginternalisasi nilai-nilai moral secara efektif.

Penanaman nilai-nilai moral bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat. Kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk memastikan nilai-nilai moral yang diajarkan di sekolah juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anak.

Jurnal ini memberikan panduan praktis tentang bagaimana menanamkan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalui metode yang sesuai dengan perkembangan anak. Pendidikan moral pada anak usia dini adalah investasi penting untuk masa depan yang lebih baik, di mana generasi mendatang diharapkan memiliki karakter dan moral yang kuat.
Nama: Nurul Fadilah
NPM: 2313053217

Jurnal "Penanaman Nilai-Nilai Moral pada Siswa di SD Negeri Lampeuneurut"

Penelitian tersebut dilakukan untuk mengungkapkan bagaimana nilai-nilai moral ditanamkan pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Latar belakangnya adalah kekhawatiran tentang kemerosotan moral di masyarakat Indonesia, terutama terkait kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 10 guru dan observasi non-partisipatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menanamkan nilai-nilai moral seperti religiusitas, kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan melalui semua mata pelajaran dan contoh perilaku sehari-hari. Siswa umumnya menunjukkan perilaku yang baik, seperti tidak berbohong dan memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya. Selain itu, siswa belajar ilmu agama tidak hanya di sekolah tetapi juga di tempat pengajian dan TPA.

Kesimpulan dalam jurnal adalah bahwa penanaman nilai-nilai moral di SD Negeri Lampeuneurut berjalan dengan baik meskipun ada beberapa guru yang belum sepenuhnya memahami nilai-nilai yang harus diajarkan. Penanaman nilai dilakukan melalui mata pelajaran, nasehat harian, dan kerjasama dengan orang tua. Siswa menunjukkan tingkah laku yang baik, yang memudahkan guru untuk melanjutkan proses penanaman nilai-nilai moral.

Penelitian tersebut menekankan pentingnya pelatihan lebih lanjut bagi guru mengenai nilai-nilai moral dan peningkatan kerjasama antara sekolah dan orang tua untuk memperkuat penanaman nilai-nilai moral pada siswa.
Nama: Nurul Fadilah
NPM: 2313053217

Judul Jurnal Penerapan Model Moral Reasoning untuk Meningkatkan Keberanian Mengemukakan Pendapat dan Mengambil Keputusan Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VIII SMP NU Nurul Huda Pakis Kabupaten Malang

Jurnal ini membahas penerapan model moral reasoning untuk meningkatkan keberanian siswa kelas VIII SMP NU Nurul Huda Pakis dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran serta untuk mengetahui peningkatan keberanian siswa setelah menggunakan model moral reasoning.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari tiga siklus: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII dengan jumlah 38 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama, kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat masih rendah dengan hanya 23% siswa yang berani mengemukakan pendapat dan 20% yang berani mengambil keputusan. Kemampuan menghargai orang lain dan bekerjasama juga masih tergolong cukup.

Pada siklus kedua, terdapat peningkatan yang signifikan. Persentase siswa yang berani mengemukakan pendapat meningkat menjadi 57%, sedangkan yang berani mengambil keputusan meningkat menjadi 43%. Kemampuan menghargai orang lain dan bekerjasama juga meningkat cukup signifikan. Pada siklus ketiga, hasilnya lebih baik lagi dengan 80% siswa berani mengemukakan pendapat dan 73% berani mengambil keputusan. Kemampuan menghargai orang lain mencapai 93% dan bekerjasama mencapai 100%.

Peningkatan ini disebabkan oleh perbaikan yang dilakukan pada setiap siklus berdasarkan refleksi hasil observasi dan wawancara. Guru memberikan motivasi dan pendampingan yang lebih intensif, serta menggunakan metode tanya jawab untuk mendorong siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Aktivitas guru juga meningkat dari kurang pada siklus pertama menjadi cukup pada siklus kedua, dan baik pada siklus ketiga.

Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model moral reasoning efektif dalam meningkatkan keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Penerapan model ini juga meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga kompetensi dan hasil belajar siswa juga meningkat. Guru disarankan untuk terus menggunakan model moral reasoning dan metode interaktif lainnya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif dan kondusif.
Nama: Nurul Fadilah
NPM: 2313053217

Dalam video tersebut membahas tentang Model pembelajaran Market Place Activity (MPA) adalah metode pembelajaran yang meniru kegiatan perdagangan di dalam kelas. Siswa berinteraksi dengan cara tawar-menawar untuk mendapatkan informasi atau barang yang diinginkan. Proses pembelajarannya terdiri dari lima tahap.

Pertama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Kedua, setiap kelompok membuat produk berupa poster yang berisi materi, maksimal lima belas kata kata atau simbol. Guru memberikan bimbingan untuk memastikan siswa memahami materi tersebut. Ketiga, dalam proses jual beli, satu siswa dari setiap kelompok menjaga stand dan menjelaskan isi poster kepada kelompok lain, sementara anggota kelompok lainnya berkeliling untuk mengumpulkan informasi. Keempat, setelah mengumpulkan informasi, siswa kembali ke kelompok mereka dan berbagi informasi yang telah diperoleh. Ini memastikan semua anggota kelompok mendapatkan pemahaman yang sama. Kelima, guru mengonfirmasi bahwa informasi telah tersampaikan dengan baik, memberikan umpan balik, dan menyimpulkan materi yang telah diajarkan.

Model ini memiliki beberapa manfaat. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, mengembangkan keterampilan komunikasi, belajar bekerja sama, dan mampu menerapkan konsep teoritis dalam situasi praktis. Dengan metode yang menarik dan interaktif ini, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diajarkan.