Posts made by Tia virantika

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 2

by Tia virantika -
Nama : Tia Virantika
Kelas : 3F
NPM : 2353053016

Video ini menampilkan kondisi SD Negeri Gelar, sebuah sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang berada di dusun terpencil di kaki Gunung Api Gone. Sekolah ini menghadapi keterbatasan fasilitas dengan hanya memiliki enam ruangan. Lima ruangan digunakan sebagai kelas, sedangkan satu ruangan lainnya berfungsi sebagai ruang guru. Akibat kekurangan ruang kelas, sebagian siswa harus belajar di teras sekolah. Situasi ini menjadi semakin sulit ketika cuaca buruk, seperti hujan atau panas terik, yang mengganggu kenyamanan dan konsentrasi belajar mereka.

Meski berada dalam kondisi sulit, semangat siswa untuk belajar tetap tinggi. Setiap hari mereka menempuh perjalanan kaki sejauh dua kilometer untuk mencapai sekolah. Namun, ketiadaan fasilitas pendukung seperti perpustakaan dan ruang kelas tambahan membuat proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Ketika hujan, siswa yang belajar di luar harus berhenti dan mencari tempat berteduh, sementara saat cuaca panas, mereka terpapar langsung oleh sinar matahari. Situasi ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan tetapi juga kualitas pembelajaran.

Selama pandemi COVID-19, masalah semakin kompleks karena sekolah tidak dapat melaksanakan pembelajaran daring. Wilayah ini tidak memiliki akses jaringan telekomunikasi, sehingga siswa dan guru tetap harus melakukan pembelajaran tatap muka dengan segala keterbatasan yang ada.

Dalam video ini, pihak sekolah menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar membangun ruang kelas tambahan. Hal ini sangat penting untuk memberikan ruang belajar yang layak dan melindungi siswa dari gangguan cuaca saat belajar. Mereka juga berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi pendidikan di wilayah-wilayah terpencil seperti ini.
Kisah ini menggambarkan perjuangan anak-anak dan para guru untuk mendapatkan pendidikan dasar di tengah keterbatasan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemerataan fasilitas pendidikan sangatlah penting. Dedikasi siswa dan guru di SD Negeri Gelar menunjukkan betapa besar nilai semangat dan ketekunan, meskipun mereka menghadapi tantangan besar setiap harinya.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

by Tia virantika -
Nama : Tia Virantika
Kelas : 3F
NPM : 2353053016

Video ini menggambarkan kisah seorang pengajar muda yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar di Desa Tanjung Matol, Nunukan, Kalimantan Utara. Cerita ini mengangkat perjuangan seorang pendidik di daerah pelosok yang penuh dengan tantangan sosial, budaya, dan geografis. Pendidikan diibaratkan sebagai cahaya yang menuntun arah hidup, dan melalui tugasnya, sang pengajar berupaya membawa perubahan kecil namun berarti untuk komunitas tempat ia mengabdi.

Kehidupan di Tanjung Matol memberikan pengalaman baru baginya, baik dari segi fisik maupun emosional. Berjarak sekitar tujuh jam dari kota kabupaten, desa ini sulit diakses, dan budaya lokal seperti pernikahan dini menjadi tantangan besar dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan. Banyak anak perempuan dinikahkan di usia muda, bahkan sebelum menyelesaikan sekolah dasar. Selain itu, rendahnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak memperburuk keadaan, sering kali membuat kelas hanya diisi oleh beberapa siswa.
Namun, sang pengajar tidak menyerah. Ia mencoba berbagai metode kreatif untuk membuat anak-anak semangat belajar, seperti menghias kelas, mengajar di luar ruangan untuk menghilangkan kejenuhan, hingga menjalin hubungan baik dengan keluarga dan komunitas lokal. Pemberian hadiah berupa perjalanan ke luar desa bagi siswa berprestasi yang dilakukan kepala sekolah menjadi salah satu upaya membuka wawasan anak-anak tentang dunia luar dan meningkatkan motivasi mereka untuk bersekolah.

Adaptasi terhadap kehidupan di desa juga menjadi bagian penting dari perjuangannya. Sang pengajar mengikuti tradisi lokal, seperti berburu dan memetik pakis, untuk mendekatkan diri dengan warga. Kehangatan yang ia temukan dari keluarga angkat dan komunitas menjadi penopang semangat di tengah rindu terhadap keluarga kandungnya. Pengalaman ini mengajarkan rasa syukur, kerendahan hati, dan keberagaman.
Perubahan kecil mulai terlihat. Anak-anak perlahan memahami pentingnya pendidikan dan mengenal dunia di luar lingkungan mereka. Cita-cita sederhana mulai tumbuh di hati mereka, seperti menjadi polisi, guru, atau tentara. Sang pengajar merasa optimis bahwa ketika masa tugasnya selesai, orang-orang lokal yang memiliki visi yang sama akan melanjutkan perjuangan ini.

Melalui kisah ini, pesan moral yang ingin disampaikan adalah bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, dapat membawa perubahan besar. Pengabdian yang tulus untuk pendidikan menjadi langkah awal untuk membangun masa depan yang lebih baik, terutama di daerah-daerah terpencil. Video ini menjadi inspirasi tentang bagaimana dedikasi dan kerja sama mampu mengatasi berbagai hambatan demi memberikan harapan kepada generasi berikutnya.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 2

by Tia virantika -
Nama :Tia Virantika
Kelas : 3F
NPM : 2353053016

Jurnal berjudul “Problematika Moral Bangsa terhadap Etika Masyarakat” mengeksplorasi permasalahan pelanggaran etika di Kampung Cijambe Girang, Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi, sebagai refleksi atas lunturnya moral masyarakat Indonesia. Penulis mengidentifikasi faktor penyebab, dampak sosial, dan solusi potensial untuk mengatasi krisis moral yang kian meluas di era globalisasi.
Latar Belakang dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai pelanggaran etika, seperti pelecehan seksual, yang menunjukkan lemahnya kesadaran moral di masyarakat setempat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan tentang nilai-nilai moral dan etika, lemahnya sanksi hukum terhadap pelanggaran, serta pengaruh perubahan sosial dan teknologi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi langkah-langkah hukum dan pendidikan yang dapat memperbaiki kondisi moral bangsa.
Pendekatan dan Metodologi
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali hubungan antara moral dan etika, norma sosial, serta pelanggarannya. Data diperoleh melalui observasi langsung di lapangan dan pengkajian literatur relevan. Pendekatan ini mengungkap fakta-fakta empiris yang menunjukkan bagaimana pelanggaran etika berkembang akibat ketidakpedulian masyarakat dan lemahnya kontrol sosial.
Hasil dan Pembahasan
Jurnal ini menyoroti bahwa lemahnya moralitas di Kampung Cijambe Girang merupakan dampak dari kurangnya penegakan hukum, kurangnya sanksi sosial terhadap pelanggaran, dan kurangnya penanaman nilai etika sejak dini. Lingkungan, teknologi, dan minimnya pendidikan karakter menjadi faktor utama dalam perubahan perilaku generasi muda. Dampaknya tidak hanya merusak citra masyarakat tetapi juga mengancam stabilitas sosial dan budaya bangsa.
Solusi yang Ditawarkan
Penulis mengusulkan beberapa solusi, antara lain:

Penegakan Hukum: Pembentukan undang-undang khusus yang mengatur etika masyarakat untuk mencegah pelanggaran dan memberikan sanksi yang tegas.

Pendidikan Moral dan Etika: Peningkatan pendidikan karakter di sekolah, seminar tentang kesadaran hukum, dan integrasi nilai-nilai moral ke dalam kurikulum pendidikan formal.

Peran Keluarga dan Lingkungan: Meningkatkan peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral serta menciptakan lingkungan sosial yang kondusif.

Kontrol Teknologi: Mengurangi dampak negatif teknologi melalui pengawasan ketat dan pendidikan tentang penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Kesimpulan
Jurnal ini menyimpulkan bahwa lunturnya moral dan etika masyarakat tidak hanya disebabkan oleh perubahan zaman tetapi juga oleh lemahnya regulasi dan pengawasan. Solusi berbasis pendidikan dan hukum sangat diperlukan untuk menciptakan generasi yang beretika, bermoral, dan mampu menghadapi tantangan globalisasi. Penulis menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai moral dalam hukum untuk memperbaiki krisis moral bangsa secara berkelanjutan.
Artikel ini memberikan pandangan holistik tentang hubungan antara moral, etika, dan hukum, serta menawarkan strategi nyata untuk menciptakan masyarakat yang berintegritas dan bermoral.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

by Tia virantika -
Nama : Tia Virantika
Kelas : 3F
NPM : 2353053016

jurnal ini, berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan," membahas dinamika konflik antara kepentingan individu (individualisme) dan masyarakat (kolektivisme) dalam konteks kehidupan sosial, serta menawarkan pendekatan filosofis dan etis untuk memadukan kedua aspek ini.

Penulis mengidentifikasi bahwa konflik antara kepentingan individu dan masyarakat telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, ketika konflik ini dikelola dengan kesadaran moral dan norma etika, ia dapat menjadi potensi positif bagi pengembangan masyarakat. Kesadaran moral, yang merupakan sumber kebebasan dan kreativitas individu, serta norma etika, yang memandu perilaku kolektif, dianggap sebagai dua pilar penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan harmonis.

Artikel ini menggunakan metode analitik-sintetik untuk menganalisis konflik antara individualisme dan kolektivisme.
Pendekatan ini mengurai masalah hingga ke akar-akarnya, kemudian merangkumnya menjadi pengetahuan baru yang relevan dengan kesejahteraan umum.

Kesimpulan utama dari artikel ini adalah bahwa keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan yang menanamkan kesadaran moral dan etika.
Pentingnya pendidikan ditekankan sebagai alat untuk membangun kesadaran moral di semua lapisan masyarakat. Penulis berpendapat bahwa pendidikan harus memupuk potensi individu, baik dalam aspek spiritual, intelektual, maupun moral, untuk menciptakan masyarakat yang berbudaya, berkeadilan, dan beretika.
Kontribusi utama artikel ini adalah pendekatannya yang filosofis dalam memandang konflik sosial. Penulis tidak memposisikan individualisme dan kolektivisme sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai elemen yang saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat. Artikel ini juga menawarkan solusi praktis berupa "revolusi moral" yang berfokus pada pendidikan, untuk menjembatani perbedaan antara hak individu dan kewajiban kolektif.

Melalui pemikiran ini, artikel berusaha membangun kerangka masyarakat yang tidak hanya berkembang secara materi, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang kuat, menjadikan konflik sebagai energi sosial yang konstruktif daripada destruktif.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> FORUM pertanyaan

by Tia virantika -
Nama : Tia Virantika
Kelas : 3F
NPM : 2353053016

Menurut saya, perbedaan antara hardskill dan softskill terletak pada sifat dan cara keduanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks pendidikan maupun dunia kerja. Hardskill, yang berfokus pada keterampilan teknis atau keahlian khusus, lebih mudah diukur dan diajarkan melalui proses formal, seperti pendidikan atau pelatihan tertentu. Ini memberikan individu kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas spesifik yang dibutuhkan dalam pekerjaan atau profesi tertentu.

Namun, softskill tidak kalah pentingnya, meskipun lebih sulit untuk diukur dan diajarkan. Keterampilan ini lebih berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk beradaptasi, berkomunikasi dengan baik, dan bekerja dalam tim. Meskipun softskill tidak dapat dilihat atau dinilai secara langsung seperti hardskill, mereka memainkan peran krusial dalam hubungan antarpribadi dan keberhasilan seseorang dalam berkarir.

Keduanya saling melengkapi. Memiliki hardskill tanpa softskill bisa membuat seseorang sangat kompeten dalam pekerjaan teknis namun kesulitan dalam bekerja sama dengan orang lain atau menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang ada. Sebaliknya, memiliki softskill tanpa hardskill mungkin akan membuat seseorang kesulitan dalam menghadapi tantangan teknis atau tugas yang membutuhkan keahlian khusus. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan kedua keterampilan ini agar dapat sukses dalam dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis.