Posts made by Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani

Nama: Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani
NPM: 2315031013

Pemboman Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat merupakan peristiwa yang membawa dampak besar dan kontroversial dalam sejarah dunia. Keputusan untuk menggunakan bom atom oleh Amerika Serikat di akhir Perang Dunia II telah memicu debat etis, kemanusiaan, dan politik yang mendalam. Analisis peristiwa tersebut melibatkan sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, dari segi kemanusiaan, pemboman tersebut menyebabkan kematian massal dan penderitaan besar bagi warga sipil di Hiroshima dan Nagasaki. Dampak radiasi dari bom atom menyebabkan penyakit dan kelainan genetik yang berkepanjangan. Penggunaan senjata nuklir untuk pertama kalinya dalam sejarah menciptakan ketakutan akan kehancuran mutlak, mendorong upaya masyarakat internasional untuk mengontrol dan mengatur senjata nuklir.

Dari segi politik dan militer, pemboman Hiroshima dan Nagasaki dilihat sebagai langkah drastis yang diambil oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri Perang Dunia II secepat mungkin. Keputusan tersebut dianggap sebagai upaya untuk mempersingkat konflik dan mengurangi korban yang mungkin dihasilkan dari invasi darat ke Jepang. Meskipun ada perdebatan apakah penggunaan bom atom benar-benar diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, pemboman Hiroshima dan Nagasaki tetap menjadi topik kontroversial dalam sejarah militer dan diplomasi.
Nama: Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani
NPM: 2315031013

Menurut saya setelah menonton berita mengenai " Warga Protes
Limbah Pabrik"

Protes warga terhadap limbah pabrik mencerminkan ketidakpuasan dan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak negatif yang dihasilkan oleh kegiatan industri. Dalam banyak kasus, pabrik-pabrik menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat setempat. Protes ini dapat dianggap sebagai wujud partisipasi aktif masyarakat dalam proses demokrasi, di mana mereka menuntut hak mereka untuk hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat.

Saat warga mengambil langkah protes terhadap limbah pabrik, hal ini seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah dan perusahaan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap praktik-produksi mereka. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi transparan tentang dampak limbah pabrik terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu, protes masyarakat seharusnya mendorong pihak berwenang untuk meningkatkan regulasi, mengawasi lebih ketat, dan mendorong inovasi teknologi yang ramah lingkungan.

Solusi jangka panjang terhadap masalah limbah pabrik memerlukan kerjasama antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Masyarakat perlu diberdayakan dengan informasi dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan terkait kebijakan lingkungan. Pemerintah juga harus menegakkan hukum dan peraturan yang memastikan bahwa setiap pabrik mematuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, protes warga adalah panggilan untuk perubahan yang lebih besar dalam praktik industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, sekaligus mengingatkan akan urgensi kesadaran lingkungan dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Nama: Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani
NPM: 2315031013

Menurut saya setelah membaca jurnal " Urgensi Penegasan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan IPTEK"

Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, seharusnya menjadi dasar nilai pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Hal ini karena Pancasila menciptakan kerangka kerja nilai dan etika yang kokoh, memberikan landasan moral untuk mengarahkan perkembangan IPTEK agar sejalan dengan visi dan misi bangsa. Salah satu prinsip Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dapat membimbing pengembangan IPTEK dengan memastikan bahwa inovasi dan penemuan ilmiah tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritual dan moral masyarakat Indonesia.

Selain itu, prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dapat menjadi landasan bagi IPTEK untuk memberikan solusi-solusi yang adil dan berkeadilan. IPTEK harus diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menghormati hak asasi manusia. Dengan demikian, nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila harus tercermin dalam setiap langkah pengembangan IPTEK, menjadikan teknologi sebagai sarana untuk mencapai tujuan kemanusiaan yang lebih adil dan beradab.

Prinsip Persatuan Indonesia dalam Pancasila dapat memberikan dorongan untuk kolaborasi dalam pengembangan IPTEK. Kerjasama antarinstansi, sektor swasta, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai kemajuan yang signifikan. Pancasila mengajarkan kesatuan dalam keberagaman, dan dalam konteks IPTEK, hal ini dapat diartikan sebagai kolaborasi yang inklusif dan mendukung inovasi dari berbagai lapisan masyarakat.

Terakhir, prinsip Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi acuan untuk memastikan manfaat IPTEK merata dan tidak meninggalkan sebagian besar masyarakat. Pengembangan IPTEK harus dilandasi oleh keadilan distributif dan akses yang merata, sehingga setiap warga negara dapat ikut menikmati hasil kemajuan teknologi. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pengembangan IPTEK, Indonesia dapat mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Teknik elektro C 23 -> Video pembelajaran

by Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani -
Nama: Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani
NPM: 2315031013

Pancasila, sebagai sistem etika, merangkum nilai-nilai moral yang menjadi pijakan bagi norma-norma perilaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan lima asas utama yang membentuk dasarnya, Pancasila memberikan landasan etika yang mengakar pada pandangan hidup dan kebijakan sosial. Prinsip pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, membawa dimensi etika dengan menekankan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan moralitas yang diperoleh dari kepercayaan kepada Tuhan. Ini menjadi fondasi moralitas yang mendasari perilaku individu dan kolektif.

Dalam konteks etika, prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan nilai-nilai kemanusiaan yang mengajak pada perlakuan adil dan penyelenggaraan kehidupan yang beradab. Etika ini memandu masyarakat untuk memperlakukan sesama dengan keadilan, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan menjalankan kehidupan yang beradab. Begitu pula, Persatuan Indonesia, sebagai prinsip ketiga, memasukkan dimensi etika ke dalam konsep persatuan yang didasarkan pada keberagaman. Etika persatuan mengajarkan keberagaman sebagai nilai positif, bukan sebagai sumber konflik, dan menuntut penghormatan terhadap perbedaan.

Pancasila sebagai sistem etika juga menempatkan pentingnya partisipasi rakyat dan pengambilan keputusan yang bijaksana dalam asas Keberlanjutan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Etika demokrasi dan musyawarah menjadi landasan moral yang membentuk tatanan sosial dan politik Indonesia. Terakhir, prinsip Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan etika keadilan dalam distribusi hak, keuntungan, dan keadilan dalam struktur sosial.

Sebagai sistem etika, Pancasila bukan hanya menjadi kerangka teoritis, melainkan pedoman praktis bagi tindakan dan keputusan masyarakat Indonesia.Etika Pancasila memandu individu dan kelompok untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral yang diyakini dapat membentuk masyarakat yang adil, beradab, dan berkeadilan. Pandangan etika ini turut membentuk budaya dan norma sosial Indonesia, menciptakan dasar moral yang mendalam untuk menjaga integritas dan kesejahteraan bersama.

Teknik elektro C 23 -> video Pembelajaran

by Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani -
Nama: Alisya Salsabila Fadwa Rahmadhani
NPM: 2315031013


Pancasila sebagai sistem filsafat mencakup lima asas utama yang membentuk kerangka pemikiran dan moralitas bangsa Indonesia. Dalam konteks filsafat, Pancasila bukan hanya seperangkat aturan atau norma, melainkan landasan filosofis yang membimbing cara pandang dan tindakan masyarakat. Asas pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, membangun dasar spiritualitas dan kepercayaan kepada kekuatan yang lebih tinggi. Ini memberikan dimensi filosofis pada sikap dan nilai kehidupan sehari-hari, menempatkan manusia dalam konteks yang lebih luas dan mengajak untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral.

Pancasila sebagai sistem filsafat juga menggarisbawahi pentingnya keadilan sosial dan persatuan dalam masyarakat. Prinsip-prinsip ini bukan hanya konsep teoritis, melainkan menjadi pedoman filosofis yang memandu proses pengambilan keputusan dan tindakan kolektif. Persatuan Indonesia, sebagai asas ketiga, mencerminkan pemahaman filsafat tentang keberagaman. Dalam pandangan filosofis, persatuan bukan hanya mengenai integrasi fisik, melainkan juga integrasi nilai dan pandangan hidup yang beragam.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menekankan prinsip demokrasi dan partisipasi rakyat. Pancasila sebagai sistem filsafat mengartikulasikan bahwa keputusan yang diambil secara kolektif, dengan mempertimbangkan hikmat dan kebijaksanaan, mencerminkan nilai-nilai filosofis yang mendasar. Ini membentuk dasar pemikiran tentang kedaulatan rakyat dan tanggung jawab untuk mengembangkan hikmat bersama dalam pengelolaan negara.

Dengan demikian, Pancasila sebagai sistem filsafat bukan hanya menjadi pijakan konseptual, tetapi juga menjadi pedoman praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pandangan filosofisnya meresap dalam kebijakan, budaya, dan perilaku masyarakat Indonesia. Pancasila bukanlah entitas statis, tetapi dinamis dalam menyikapi perkembangan zaman. Melalui perspektif filosofisnya, Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral yang memberikan arah dan makna bagi perjalanan bangsa Indonesia dalam meraih kemajuan dan kesejahteraan bersama.