གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Auren Wang

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

Auren Wang གིས-
Nama : Auren Wang
NPM : 2313053184
Kelas : 3F

Berdasarkan hasil analisis saya terhadap video yang berjudul “Pentingnya Pendidikan Moral untuk Anak Sekolah Dasar”. Video tersebut membahas bagaimana urgensi terhadap pendidikan moral bagi anak-anak sekolah dasar dan peran orang tua maupun guru dalam pembentukan karakter moral anak. Dalam konteks ini, pendidikan dan moral didefinisikan sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan maupun perubahan terhadap perilaku menjadi lebih baik, sementara moral sendiri didefinisikan sebagai ajaran umum tentang perbuatan baik dan buruk. Jadi, konsep pendidikan moral didefinisikan sebagai suatu proses untuk memperoleh pemahaman tentang apa yang baik dan buruk, dengan tujuan akhir untuk mencapai kedewasaan dan perilaku yang bertanggung jawab. Pendidikan moral juga dianggap sangat penting untuk anak-anak sekolah dasar karena di waktu ini mereka mulai belajar untuk membentuk sikap dan perilaku mereka, baik di rumah maupun di sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan moral diharapkan dapat membantu anak-anak memahami nilai-nilai moral dan belajar membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masyarakat, keluarga, dan diri mereka sendiri.

Video tersebut juga membahas mengenai implikasi terhadap moralitas anak-anak yang kian menurun. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya perlindungan atau perhatian di sekola sehingga menimbulkan adanya perilaku bullying. Anak-anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang tua ataupun guru sering mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang merugikan teman-temannya, seperti melakukan perundungan fisik atau sosial kepada anak lain. Selain itu, faktor utama yang menyebabkan anak kehilangan moral juga adalah kekerasan fisik dalam keluarga. Kekerasan fisik yang dialami anak di rumah akan dapat memengaruhi perilaku mereka di luar rumah, baik di sekolah maupun dalam interaksi sosial.

Peran orang tua dan guru juga sangatlah penting dalam membentuk moral anak. Dalam hal ini, orang tua dianggap sebagai model utama bagi anak-anak mereka karena anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua, baik yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu, orang tua diharapkan untuk menjadi contoh yang baik dalam hal perilaku dan sikap moral. Begitu pula dengan peran guru yang tidak hanya mengajar di bidang akademik, melainkan memiliki tanggung jawab untuk memperkaya kepribadian anak dan membekali mereka dengan nilai-nilai moral yang baik. Guru diharapkan bisa menjadi figur yang dapat dipercaya dan memberikan teladan perilaku baik kepada siswa. Seperti selalu hadir tepat waktu, memberikan nasihat yang bijak, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter siswa.

Untuk meningkatkan pendidikan moral anak, diperlukan adanya pendorong yang mengajarkan kebaikan dan membantu anak-anak menemukan jalan yang benar. Dalam hal ini, bimbingan dari guru dan orang tua sangatlah penting untuk mencapai tujuan pendidikan moral. Tanpa adanya bimbingan dan pengawasan yang tepat, anak-anak akan berisiko menyimpang dari etika yang diharapkan. Oleh sebab itu, pembinaan terhadap pendidikan moral pada anak hendaknya menjadi upaya bersama antara orang tua dan guru

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 2

Auren Wang གིས-
Nama : Auren Wang
NPM :2313053184
Kelas : 3F

A. Identitas Jurnal
Judul: Proses Pendidikan Nilai Moral di Lingkungan Keluarga Sebagai Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja
Penulis: Fahrudin
Jurnal: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Volume: 12
Nomor: 1
Halaman: 41-54
Tahun: 2014

B. Abstrak
Abstrak pada jurnal ini menyatakan bahwa pendidikan nilai moral yang dimulai di lingkungan keluarga sangatlah penting dalam usaha untuk mencegah adanya pelanggaran moral di kalangan remaja. Dalam hal ini, penulis menekankan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana anak-anak belajar dan menginternalisasi nilai-nilai moral yang ada. Penulis juga mengungkapkan bahwa orang tua sangatlah berperan penting dalam mendukung dan membina nilai moral yang ada pada diri anak. Hal ini menjadi urgensi bersama dalam upaya menjaga hubungan harmonisasi yang ada dalam keluarga ssehingga anak nantinya akan dapat tumbuh dengan moral yang baik.

C. Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan, penulis menjelaskan bagaimmana peran keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama bagi anak. Dalam hal ini, penulis menguraikan pentingnya pendidikan moral dalam membentuk karakter anak dan menjelaskan bagaimana hal ini dapat memengaruhi perkembangan mereka di masa depan. Terdapat penekanan pada tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak mereka sebelum mereka terpapar pada pendidikan formal di sekolah karena baik buruknya perkembangan anak di masa depan akan ditentukan oleh pendidikan maupun bimbingan yang mereka terima dari orang tua. Hal ini berdasar pada penekanan mengenai pentingnya interaksi dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga di mana pendidikan yang berlangsung bersifat informal dan tidak terikat oleh waktu sehingga memungkinkan proses pembelajaran untuk berjalan secara alami dan berkesinambungan melalui pengalaman sehari-hari. Hal tersebut tentunya akan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik sejak dini. Oleh karena itu, penulis menekankan bahwa pembinaan nilai-nilai moral dalam keluarga harus dilakukan secara konsisten dan terarah agar anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang kuat dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang dapat memicu perilaku kenakalan remaja.

D. Pembahasan
Pada bagian pembahasan jurnal "Proses Pendidikan Nilai Moral di Lingkungan Keluarga sebagai Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja," penulis menjelaskan bahwa pendidikan nilai moral yang dilakukan dalam lingkungan keluarga sangatlah krusial dalam membentuk karakter anak di mana orang tua memiliki tanggung jawab yang besar untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik melalui contoh dan bimbingan langsung. Dalam hal ini, penulis menekankan bahwa proses pembinaan yang dilakukan oleh orang tua sebaiknya dimulai dari hal-hal kecil seperti mengajarkan cara berbicara dengan sopan, berpakaian yang baik, serta menunjukkan adab yang baik kepada orang tua dan guru agar anak-anak nantinya dapat menginternalisasi sifat-sifat positif seperti kejujuran, keadilan, rendah hati, dan kesederhanaan sejak dini. Lebih lanjut, penulis menggarisbawahi bagaimana pentingnya menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis di mana hubungan yang baik antara orang tua dan anggota keluarga lainnya dapat memberikan contoh yang positif bagi anak-anak, khususnya bagi mereka yang masih kecil dan belum mampu memahami kata-kata atau simbol-simbol yang kompleks. Selain itu, penulis juga mengingatkan bahwa untuk melindungi anak-anak dari pengaruh negatif yang berasal dari luar, seperti halnya dengan westernisasi dan dampak media. Dalam hal ini orang tua harus berperan aktif dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka, termasuk apa yang mereka tonton di televisi, bagaimana mereka berinteraksi di internet, dan dengan siapa mereka bergaul sehingga pendidikan moral yang diberikan di rumah dapat terjaga serta diperkuat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari anak.

E. Kelebihan
1. Jurnal ini sangat relevan dengan isu kenakalan remaja yang semakin meningkat dan memberikan wawasan yang berguna bagi orang tua dan pendidik.
2. Jurnal ini memberikan panduan praktis bagi orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
3. Jurnal ini menyoroti pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga.

F. Kekurangan
1. Jurnal ini tidak menjelaskan tentang metodologi penelitian yang digunakan sehingga sulit untuk menilai validitas temuan jurnal tersebut
2. Jurnal ini cenderung bersifat naratif dan kurang didukung oleh data statistik atau studi kasus konkret.
3. Analisis terhadap tantangan nyata yang dihadapi oleh orang tua didalam jurnal ini masih kurang mendalam.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> FORUM pertanyaan

Auren Wang གིས-
Nama : Auren Wang
NPM :2313053184
Kelas : 3F

Menurut saya, perbedaan antara kriteria nilai terhadap hardskill maupun softskill terletak pada bagaimana sifat dan penerapan masing-masing jenis keterampilan dalam konteks Pendidikan, khususnya bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja. Dalam hal ini, hardskill lebih merujuk kepada bagaimana keterampilan teknis yang di latih dapat diukur, contohnya seperti kemampuan dalam menggunakan perangkat lunak, penguasaan bahasa pemrograman, atau pengetahuan spesifik dalam bidang tertentu. Untuk penilaian pada hardskill ini biasanya dilakukan melalui ujian, kuis, ataupun proyek yang menunjukkan kemampuan teknis. Kriteria penilaian ini juga seringkali bersifat objektif dan dapat dinilai dengan angka atau nilai tertentu.

Sedangkan untuk softskill sendiri lebih mengarah pada keterampilan interpersonal dan karakter pada seseorang. Keterampilan softskill ini lebih sulit diukur apabila dibandingkan dengan hardskill sebab yang dilatih adalah bagaimana cara seseorang untuk bisa berkomunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang baru. Dalam hal kriteria penilaian, keterampilan softskill ini biasanya lebih bersifat subjektif sebab selalu melibatkan situasi nyata ataupun simulasi

Meskipun terdapat perbedaan antara hardskill dengan softskill, kedua keterampilan tersebut sangatlah penting untuk terus dilatih. Dalam dunia kerja, hardskill selalu dijadikan sebagai syarat seseorang untuk mendapatkan pekerjaan tertentu, sedangkan softskill dapat menjadi faktor penentu dalam kesuksesan karier. Untuk mencapai keberhasilan yang optimal, seseorang hendaknya terus konsisten dalam mengembangkan kedua keterampilan tersebut secara seimbang.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

Auren Wang གིས-
Nama : Auren Wang
NPM :2313053184
Kelas : 3F

A. Identitas Jurnal
Judul: Pendidikan Moral di Sekolah
Penulis: Rukiyati
Jurnal: Jurnal Humanika
Volume: 17
Nomor: 1
Halaman: 1-11
Tahun: 2017

B. Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis mengutarakan bahwa pendidikan moral di sekolah merupakan suatu esensial dalam membentuk generasi yang berkualitas. Meskipun orang tua memiliki tanggung jawab utama, guru juga berperan penting dalam membentuk moral siswa. Selain itu, abstrak pada jurnal ini juga menekankan adanya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat yang hendaknya perlu diimplementasikan dalam upaya mendidik anak agar menjadi individu yang baik secara moral dan cerdas. Oleh sebab itu, penulis menekankan bahwa pendidikan moral hendaknya direncanakan secara komprehensif dengan mencakup berbagai aspek seperti pengajaran, evaluasi, dan metode yang digunakan.

C. Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan menjelaskan bahwa sekolah sebagai mikrosistem memiliki pengaruh yang begitu besar pada perkembangan anak. Dengan menggunakan teori Bronfenbrenner, penulis menunjukkan bagaimana interaksi di lingkungan sekolah membentuk karakter siswa. Selain itu, penulis juga menekankan bahwa pendidikan formal memiliki peran strategis dalam pengembangan kreativitas dan nilai-nilai moral, serta bagaimana harapan orang tua terhadap sekolah sangat besar, membuatnya penting untuk menciptakan lingkungan yang positif. Upaya-upaya tersebut tentunya diperlukan adanya perencanaan lebih lanjut sehingga penulis juga menyarankan bahwa perencanaan yang disiapkan hendaknya dapat bersifat komprehensif yang melibatkan berbagai jenis komponen dalam sekolah agar nantinya Pendidikan moral yang ada di sekolah dapat berjalan dengan optimal serta efektif.

D. Metode Penelitian
Jurnal ini menjelaskan berbagai metode yang digunakan dalam pendidikan dengan perbandingan antara hasil penelitian lapangan yang didapatkan. Hal ini merujuk pada metode klarifikasi nilai yang memberikan kebebasan bagi siswa untuk menentukan nilai-nilai mereka sendiri dengan tujuan mengukur pemahaman moral siswa melalui penalaran, afektif, dan perilaku. Penulis juga menyoroti bagaimana pentingnya mengembangkan keterampilan moral melalui pembiasaan dan merancang tindakan moral sebagai komitmen pribadi siswa.

E. Hasil dan Pembahasan
Pada bagian hasil dan pembahasan, jurnal yang berjudul "Pendidikan Moral di Sekolah" dan ditulis oleh Rukiyati ini menyoroti bagaimana pentingnya evaluasi pendidikan moral yang mencakup tiga ranah utama, yaitu penalaran moral, afektif, dan perilaku. Ketiga ranah utama tersebut hendaknya perlu diperhatikan guna menilai keberhasilan pendidikan moral di sekolah secara menyeluruh. Dalam hal ini, penalaran moral merujuk pada kemampuan siswa untuk berpikir kritis terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang ada serta membuat keputusan yang bijaksana dalam situasi yang melibatkan dilema moral. Selain itu, perkembangan afektif siswa juga berkaitan dengan perasaan maupun sikap mereka terhadap nilai-nilai moral. Hal ini menjadi fokus utama dalam evaluasi di mana penulis mengidentifikasi beberapa tahap perkembangan afektif yang harus dicapai siswa, mulai dari ketidakjelasan egosentris hingga mencapai integritas dan otonomi dalam pengambilan keputusan secara moral.

Di samping itu, perilaku moral siswa yang tercermin dalam tindakan sehari-hari juga merupakan indikator kunci dalam evaluasi pendidikan moral, meskipun penilaian ini diakui sebagai yang paling sulit dilakukan. Penulis menegaskan bahwa untuk mengevaluasi perilaku moral secara akurat, diperlukan observasi yang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara berkesinambungan sebab perilaku moral tidak dapat diukur hanya dari satu tindakan atau situasi melainkan harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari interaksi sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendekatan evaluasi yang komprehensif ini tidak hanya membantu dalam menilai pencapaian pendidikan moral di sekolah, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana siswa dapat berkembang menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga baik secara moral, sehingga mampu berkontribusi positif dalam masyarakat.

F. Kelebihan
1. Jurnal ini menyajikan berbagai aspek pendidikan moral secara mendalam, mulai dari teori hingga praktik
2. Dalam jurnal ini, penulis mengaitkan teori dengan aplikasi yang nyata sehingga membantu pembaca memahami konteks pendidikan moral di Indonesia.
3. Penulis menawarkan berbagai pendekatan evaluasi untuk menilai efektivitas pendidikan moral dalam jurnal tersebut sehingga memberikan panduan bagi pendidik.

G. Kekurangan
1. Terdapat adanya argumen yang mungkin kurang didukung oleh data empiris yang kuat sehingga data yang diterima dirasa kurang valid dari sumbernya
2. Penjelasan terhadap solusi atau cara mengatasi tantangan dalam jurnal tersebut kurang mendalam dan hanya berfokus pada tantangan nya saja.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

Auren Wang གིས-
Nama: Auren Wang
NPM: 2313053184

Berdasarkan video yang berjudul “Pendidikan Moral Tanggunjawab Diri Dalam Keluarga” tersebut menjelaskan tentang bagaimana implementasi Pendidikan moral yang sebaiknya dilakukan oleh anak terhadap tanggung jawab yang ada dalam tiap diri individu, khususnya pada lingkungan keluarga. Dalam hal ini, guru dalam video tersebut menjelaskan poin-poin penting yang dapat dilakukan oleh anak dalam menerapkan tanggungjawab diri, yaitu seperti bagaimana pentingnya bagi anak-anak dalam mendengarkan nasihat yang diberikan oleh orang tua, khususnya nasihat dari ayah mereka. Pengalaman hidup yang dimiliki orang tua akan memberikan wawasan berharga dan arahan yang dapat membantu anak-anak dalam menentukan keputusan yang tepat. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk memegang tanggung jawab dengan membantu ibu mereka dalam pekerjaan rumah, seperti menyajikan makanan dan terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Tindakan ini tidak hanya menunjukkan sikap yang bertanggung jawab, tetapi juga memperkuat rasa saling menghargai di dalam keluarga.

Selain itu, anak-anak juga memainkan peran penting dalam menjaga keselamatan keluarga. Misalnya ketika seorang kakak menemani adiknya saat keluar rumah, baik untuk bermain atau ke toko. Hal ini dilakukan agar dapat menjaga adiknya selamat dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setelah itu, sang kakak akan mengembangkan tanggung jawab dalam menjaga adiknya dari hal-hal berbahaya yang mungkin timbul.

Tanggung jawab yang diambil dalam keluarga tidak hanya menciptakan hubungan yang harmonis, melainkan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, khususnya ketika sedang berkumpul di waktu-waktu tertentu seperti saat cuti sekolah. Anak-anak perlu menyadari bahwa menjaga keselamatan keluarga juga mencakup hal-hal kecil, seperti memastikan pintu terkunci ketika orang tua tidak ada di rumah. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk membantu nenek dan atuk mereka saat berkunjung, sebagai wujud rasa kasih sayang dan untuk meringankan beban orang tua yang sudah lanjut usia.

Salah satu aspek penting dari tanggung jawab adalah memberikan kebanggaan bagi keluarga. Anak-anak diharapkan untuk bertanggung jawab dalam belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam pendidikan agar dapat membanggakan orang tua mereka. Di akhir pembelajaran, Cikgu sering memberikan pertanyaan yang mendorong murid-murid untuk merenungkan pentingnya melaksanakan tanggung jawab dalam keluarga serta menggali perasaan mereka ketika menjalankannya. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang tanggung jawab, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan video tersebut, mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri anak menjadi hal yang sangat penting untuk diajarkan ketika anak-anak masih kecil. Hal tersebut akan dapat menumbuhkan moral dalam kepribadian maupun sikap dari anak. Oleh sebab itu, menurut saya peran dari orang tua dan guru dalam membina nilai moral anak sangatlah diperlukan agar kelak anak tidak akan terjerumus kedalam hal-hal yang salah.