གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rahmah Dwi Asri

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 2

Rahmah Dwi Asri གིས-
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 231053164
Kelas : 3F

Analisis Video : Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah
Dalam video berita yang dibawakan oleh presenter dengan topik kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah, yang semakin memprihatinkan karena sering kali berujung pada hilangnya nyawa anak-anak. Presenter menyampaikan berbagai kasus kekerasan di sekolah yang melibatkan anak-anak, khususnya di tingkat SD yang terjadi akibat konflik sepele, seperti perkelahian mulut atau tindakan perundungan (bullying).
Pertama, presenter mengangkat contoh kasus dari tahun 2015, di mana seorang siswa kelas 2 SD meninggal setelah berkelahi dengan temannya di sekolah tanpa adanya pengawasan dari guru atau pihak sekolah. Kasus ini memperlihatkan betapa lemahnya pengawasan dan kontrol dalam lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman dan kondusif bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.
Kedua, presenter mengulas kasus lain yang terjadi di Sukabumi pada tahun 2017, di mana seorang siswa kembali meninggal akibat kekerasan yang diduga terjadi karena ia dirundung atau dibully oleh teman-temannya. Korban dilempari minuman beku, yang menyebabkan cedera fisik serius. Kasus ini menggarisbawahi bagaimana perundungan bisa menjadi masalah yang sangat serius di kalangan anak-anak, terutama ketika mereka tidak mendapatkan bimbingan yang cukup dari orang dewasa di lingkungan sekolah.
Presenter juga menyoroti kejadian serupa di Bandung, di mana seorang siswa kelas 5 SD yang meninggal saat terlibat perkelahian di tengah perlombaan senam Hari Guru. Meskipun ada banyak guru yang hadir, kejadian tersebut tetap tidak terpantau. Kasus ini mengungkapkan kelemahan dalam sistem pengawasan di sekolah, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan siswa di berbagai kegiatan sekolah.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi saat ini dapat dikaitkan dengan pengaruh negatif dari media sosial dan kurangnya kontrol orang tua terhadap informasi yang diterima anak-anak. Di era modern ini, media sosial memiliki dampak yang sangat kuat terhadap anak-anak. Pemerintah, sekolah, dan orang tua perlu bekerja sama dalam membatasi akses anak-anak terhadap konten yang tidak sesuai usia, pengawasan yang ketat, memberikan sanksi tegas kepada pelku perundungan dan kekerasan, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bahaya penggunaan media sosial secara tidak bijak. Secara keseluruhan, video ini menekankan urgensi tindakan yang lebih kuat dari semua pihak untuk mengatasi kekerasan di sekolah dan menjaga agar lingkungan sekolah tetap aman bagi anak-anak.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

Rahmah Dwi Asri གིས-
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 2313053164
Kelas : 3F

Analisis Video: Apakah Moral? The Trolley Problem
Dalam video membahas sebuah dilema moral klasik yang dikenal sebagai Troli Problem, di mana penonton diajak untuk mengeksplorasi konsep moralitas dari berbagai perspektif. Pembicara menggambarkan dua skenario hipotetis yang melibatkan keputusan sulit, mengorbankan satu orang atau lima orang, yang memaksa kita untuk mempertanyakan prinsip moral kita. Melalui pertanyaan filosofis, video ini mengajak penonton untuk memikirkan ulang apa yang dianggap sebagai pilihan moral yang benar.
Pada skenario pertama, penonton ditempatkan dalam posisi pengemudi kereta yang harus memilih antara membiarkan kereta melaju dan menabrak lima orang atau menarik tuas untuk mengalihkan kereta dan hanya menabrak satu orang. Mayoritas responden dalam eksperimen ini, sekitar 90%, memilih untuk menarik tuas, mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lima orang. Moralitas yang ditonjolkan dalam keputusan ini sangat sederhana yaitu lebih baik mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan lima orang.
Dalam skenario kedua, posisi moral berubah. Kali ini, penonton ditempatkan di atas jembatan dan dihadapkan dengan situasi di mana mereka bisa menghentikan kereta yang melaju menuju lima orang dengan mendorong seseorang bertubuh besar ke rel. Namun, mayoritas orang memilih untuk tidak mendorong, meskipun konsekuensinya lima orang akan mati. Dilihat dari respon beberapa orang tersebut sudah mengungkapkan dilema moral yang lebih kompleks, karena perbuatan aktif mendorong seseorang dirasakan lebih salah daripada menarik tuas pada skenario pertama, meskipun pada akhirnya mencapai hasil yang sama hanya saja berbeda caranya.
Melalui perubahan skenario, video ini menyoroti inkonsistensi dalam keputusan moral manusia. Meskipun pada kedua skenario tujuannya sama, yaitu menyelamatkan lima nyawa dengan mengorbankan satu nyawa, tindakan fisik langsung dalam skenario kedua dianggap lebih tidak bermoral. Ini menunjukkan bahwa tindakan moral tidak selalu didasarkan pada hasil, tetapi juga pada cara tindakan itu dilakukan.
Pembicara kemudian memperluas dilema Troli Problem ke situasi kehidupan nyata, seperti perang, diskriminasi, dan kebijakan yang mengorbankan beberapa individu demi "kepentingan umum". Pertanyaan yang diajukan adalah apakah mengorbankan yang sedikit demi yang banyak selalu bermoral, atau apakah itu sering digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan yang tidak bermoral, seperti perang atau diskriminasi. Video ini menyatakan bahwa moralitas bisa dimanipulasi oleh kekuasaan atau kelompok mayoritas untuk membenarkan tindakan-tindakan yang merugikan minoritas.
Di akhir video, pembicara mengubah situasi moral dengan memperkenalkan elemen personal yaitu dengan mengguanakan anggota keluarga penonton untuk menjasi salah satu orang yang terikat di rel dalam skenario pertama. Ini menguji lagi prinsip moral kita, karena keterlibatan emosi pribadi sering mengubah keputusan yang sebelumnya dianggap objektif. Situasi ini menunjukkan bahwa moralitas sering kali tergantung pada perspektif dan kepentingan individu. Video ini mengilustrasikan bahwa moralitas tidak selalu hitam-putih. Pilihan yang tampak lebih baik dari segi jumlah nyawa yang diselamatkan bisa menjadi tidak jelas ketika tindakan yang diambil dianggap lebih aktif atau ketika orang yang terkena dampak memiliki hubungan pribadi.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video

Rahmah Dwi Asri གིས-
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 2313053164
Kelas : 3F

Analisis video Penerapan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Video ini disampaikan oleh Pak Raya, yang bertujuan untuk menjelaskan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pak Raya mengawali dengan pengenalan singkat tentang Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia, yang juga mencerminkan lima sila Pancasila yang tertera pada perisai di bagian tengah burung garuda. Pak Raya kemudian membahas secara rinci masing-masing sila Pancasila, memberikan contoh pengamalan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Ketuhanan Yang Maha Esa yang dilambangkan dengan bintang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, beribadah sesuai agama masing-masing, dan menghormati keyakinan orang lain. Contohnya seperti berdoa sebelum dan sesudah makan, menghormati agama lain, dan tidak memaksakan agama kepada orang lain.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang dilambangkan dengan rantai ini menekankan akan pentingnya sikap saling mencintai, tolong-menolong, dan berbuat adil kepada sesama manusia. Contohnya seperti membantu korban bencana alam, tidak berbuat kasar, menolong teman yang kesulitan, dan bersikap sopan pada orang tua.
Persatuan Indonesia yang dilambangkan dengan pohon beringin menekankan pada kita untuk cinta tanah air dan persatuan. Contoh sederhananya seperti mengikuti upacara bendera, mencintai produk Indonesia, melestarikan budaya daerah, dan berteman tanpa membeda-bedakan suku atau agama.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan yang dilambangkan dengan kepala banteng ini mengajarkan kita akan pentingnya musyawarah dan mufakat dalam menyelesaikan masalah dan penambilan sebuah keputusan. Contohnya berdiskusi pembagian tugas kelompok, menyampaikan pendapat ketika dalam rapat, menerima hasil musyawarah, dan memilih ketua angkatan secara demokratis.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang dilambangkan dengan padi dan kapas ini menekankan kita pada keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang. Contoh bersikap adil dalam pembagian tugas, tidak berbuat curang dalam ujian, menghargai karya orang lain, dan melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang.
Video ini memberikan pemahaman yang sederhana namun jelas, tentang bagaimana setiap sila Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan contoh-contoh sederhana seperti gotong-royong, bersikap sopan, dan menghormati perbedaan, Pak Raya mengajarkan bagaimana nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi panduan dalam berperilaku di masyarakat, yang bertujuan untuk mendorong pembentukan karakter bangsa yang kuat dan berkepribadian berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

Rahmah Dwi Asri གིས-
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 2313053164
Kelas : 3F

Judul: Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Penulis: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusoff
Jurnal: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 3, September 2021
Abstrak
Jurnal ini membahas penerapan pendidikan nilai dan moral di Aceh yang mengacu pada kurikulum islami, yang diatur oleh Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang berakhlak mulia dan berlandaskan syariat Islam. Penekanan diberikan pada transparansi, akuntabilitas, dan pendekatan berbasis keteladanan dalam pendidikan di Aceh.
Pendahuluan
Penulis menjelaskan pentingnya pendidikan dalam pembentukan moral dan nilai siswa di Aceh, terutama di tengah perubahan sosial yang pesat. Pendidikan tidak hanya berperan sebagai sarana pengembangan akademik, tetapi juga sebagai tumpuan pembentukan akhlak dan budaya moral. Pendidikan di Aceh diberikan kekhususan berdasarkan otonomi khusus yang mengizinkan penerapan syariat Islam dalam sistem pendidikan, sehingga nilai-nilai islami menjadi landasan utama dalam kurikulum yang diterapkan.
Landasan Teori
Jurnal ini mengacu pada teori nilai dan moral yang dipaparkan oleh beberapa ahli seperti Lickona dan Sahin. Nilai moral dalam Islam dijelaskan sebagai komponen integral dalam perilaku sehari-hari, dan pendidikan di Aceh memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai pendidikan nasional. Penulis juga mengutip literatur terkait filosofi moral dalam Islam, di mana akhlak dijelaskan sebagai perilaku yang mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dan hubungan sosial.
Tujuan Jurnal
Tujuan jurnal ini adalah untuk memberikan gambaran tentang bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan di Aceh melalui kurikulum islami yang diatur oleh Qanun Aceh. Selain itu, jurnal ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari penerapan kurikulum tersebut dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia sesuai dengan syariat Islam.
Metode
Jurnal ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, di mana penulis melakukan analisis terhadap kebijakan pendidikan di Aceh, khususnya terkait penerapan kurikulum islami yang diatur oleh qanun. Tidak ada data kuantitatif yang digunakan, namun penulis memanfaatkan tinjauan pustaka dan dokumen kebijakan sebagai sumber utama.
Kelemahan dan Kelebihan Jurnal
Jurnal ini memiliki kelebihan dalam memberikan pandangan komprehensif mengenai penerapan pendidikan islami di Aceh, terutama dalam konteks kebijakan dan implementasi kurikulum yang berlandaskan syariat Islam. Penggunaan landasan teori yang kuat terkait pendidikan nilai dan moral, serta integrasi budaya lokal dengan nilai-nilai agama, memperkaya diskusi dan memberikan wawasan tentang adaptasi pendidikan di daerah dengan karakteristik khusus. Namun, kelemahan jurnal ini terletak pada kurangnya data empiris dan penelitian lapangan yang dapat memperkuat kesimpulan yang diambil. Metode yang digunakan hanya berfokus pada tinjauan pustaka dan dokumen kebijakan, sehingga belum memberikan gambaran konkret dari praktik di lapangan. Selain itu, evaluasi terhadap hasil jangka panjang dari penerapan kurikulum islami di sekolah-sekolah di Aceh masih terbatas.
Hasil dan Pembahasan
Penulis menyimpulkan bahwa penerapan pendidikan islami di Aceh telah berjalan sesuai dengan qanun yang berlaku, meskipun masih terdapat beberapa kendala. Beberapa sekolah sudah mulai menerapkan kurikulum ini, tetapi banyak yang masih menghadapi kesulitan dalam implementasinya. Faktor-faktor seperti kurangnya pemahaman guru dan keterbatasan sarana pendukung menjadi penghambat. Namun, integrasi budaya islami di sekolah melalui penerapan nilai-nilai syariah, seperti disiplin dan komunikasi yang sopan, sudah mulai berjalan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun penerapan kurikulum islami masih dalam tahap perkembangan, prinsip pendidikan berbasis nilai islami mulai terbentuk.
Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan di Aceh secara keseluruhan telah mengacu pada Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015, yang mengatur pendidikan berbasis syariat Islam. Pendidikan nilai dan moral menjadi inti dari kurikulum islami yang diterapkan di seluruh satuan pendidikan di Aceh, dengan tujuan membentuk generasi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Penerapan ini mencakup aspek-aspek penting seperti transparansi, akuntabilitas, keteladanan, dan pengembangan budaya islami, yang terintegrasi dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Meskipun penerapan kurikulum islami sudah mulai berjalan, banyak sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kurangnya kesiapan guru dan sarana pendukung. Selain itu, pemahaman tentang konsep kurikulum islami di beberapa sekolah masih belum utuh, sehingga implementasinya belum seragam di seluruh wilayah Aceh. Namun, prinsip-prinsip pendidikan islami mulai diterapkan secara bertahap, baik melalui mata pelajaran inti maupun kegiatan ekstrakurikuler yang berbasis nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Secara keseluruhan, jurnal ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan dalam penerapan pendidikan islami di Aceh masih ada, kurikulum islami memberikan kerangka yang jelas untuk mendidik generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan berwawasan islami. Penulis menekankan perlunya dukungan lebih lanjut, terutama dalam hal pelatihan guru dan penyediaan fasilitas, agar tujuan pendidikan yang berbasis syariat Islam di Aceh dapat tercapai secara optimal.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal-2

Rahmah Dwi Asri གིས-
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 2313053164
Kelas : 3F

Judul: Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia di Kalangan Remaja
Penulis: H. Wanto Rivaie
Sumber: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol. 1, No. 1, April 2010

Abstrak jurnal ini menyoroti peran penting orang tua dalam membina anak dengan kasih sayang untuk membentuk generasi yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Dalam keadaan saat ini, banyak remaja menghadapi tantangan seperti kenakalan, tawuran, dan narkoba. Jurnal ini menekankan perlunya pendidikan yang berfokus pada aspek afektif dan perilaku luhur guna mengatasi masalah tersebut.
Penulis membuka dengan menekankan pentingnya kasih sayang orang tua dalam membentuk karakter anak. Penekanan pada ayat-ayat Al-Qur'an memperkuat bahwa dalam keluarga, hubungan antara suami-istri serta orang tua-anak merupakan fondasi dalam membangun generasi yang bertanggung jawab. Tantangan sosial, seperti kenakalan remaja, dipandang sebagai hasil dari kelangkaan sentuhan kasih sayang di lingkungan keluarga.
Teori yang digunakan mengacu pada ajaran agama dan norma sosial budaya yang berakar pada Pancasila. Penulis mengutip berbagai pandangan tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, Sofyan Sauri, dan Nursid Sumaatmadja yang menekankan pentingnya pembentukan kepribadian melalui pendidikan moral, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Selain itu, jurnal ini juga menggunakan teori psikologis dan sosiologis untuk memahami pembentukan perilaku manusia.
Tujuan utama jurnal ini adalah untuk membahas cara membina nilai moral sosial budaya di kalangan remaja Indonesia. Penulis berharap dengan pembinaan yang tepat, generasi muda akan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi serta akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Jurnal ini bersifat kualitatif deskriptif, dengan pendekatan pada tinjauan pustaka dan penggunaan contoh-contoh kasus untuk mendukung argumen. Metode yang digunakan lebih berfokus pada pemaparan teoritis tanpa adanya data kuantitatif atau penelitian lapangan.
Penulis menekankan bahwa keluarga memainkan peran utama dalam pembinaan nilai moral, dengan sekolah dan masyarakat sebagai pendukung. Namun, sinergi di antara ketiga elemen ini masih belum optimal, sehingga banyak remaja yang terjebak dalam perilaku negatif. Penulis juga menyampaikan pentingnya pendidikan agama sebagai landasan moral yang kuat dalam masyarakat yang pluralistis. Selain itu, jurnal ini menguraikan bahwa hubungan sosial yang baik di masyarakat harus didasarkan pada kepercayaan dan penghargaan antarindividu.
Jurnal ini menyimpulkan bahwa pembinaan nilai moral sosial budaya pada remaja memerlukan kerja sama yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sinergi yang kuat di antara ketiga lingkungan pendidikan tersebut sangat diperlukan untuk membentuk generasi yang bermoral dan berbudaya Indonesia, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama.
Kelebihan dari jurnal ini adalah pemaparannya yang mendalam mengenai peran penting keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembinaan nilai moral pada remaja, serta penggunaan landasan teori yang kuat dari perspektif agama dan nilai-nilai Pancasila. Jurnal ini juga relevan dengan kondisi sosial saat ini, khususnya dalam menghadapi krisis moral remaja seperti kenakalan dan penggunaan narkoba. Namun, jurnal ini memiliki kelemahan karena tidak menyertakan data empiris atau penelitian lapangan untuk mendukung argumen yang diajukan. Selain itu, metode yang digunakan cenderung deskriptif kualitatif, sehingga kurang memberikan pandangan objektif melalui data kuantitatif dan tidak menyertakan evaluasi yang mendalam terhadap penerapan pembinaan moral di lingkungan yang berbeda.