Kiriman dibuat oleh Wilda Tajkia

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

oleh Wilda Tajkia -
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F

Hasil analisis dari video yang berjudul ”Apakah Moral? The Trolley Problem” menghadirkan sebuah dilema moral klasik yang dikenal sebagai Troli Problem. Video tersebut meminta penonton nya untuk memikirkan keputusan moral dalam situasi yang sulit dan berpotensi mengorbankan nyawa.
Pertama-tama, penonton diajak untuk membayangkan diri mereka sebagai pengendali kereta yang melaju cepat. Mereka harus memilih antara membiarkan kereta terus berjalan dan menabrak lima orang, atau mengubah arah kereta sehingga hanya satu orang yang akan terbunuh. Sebagian besar orang cenderung memilih untuk menarik tuas dan menyelamatkan lima nyawa, meskipun harus mengorbankan satu nyawa. Kemudian, situasi diperumit lagi dengan skenario kedua, di mana penonton dihadapkan pada situasi serupa namun dengan perubahan. Kali ini, mereka berada di atas jembatan dan memiliki opsi untuk mendorong seseorang yang bertubuh besar ke jalur kereta untuk menghentikan kereta, menyelamatkan lima orang. Namun, banyak orang justru tidak memilih untuk mendorong orang tersebut, meskipun tujuannya adalah menyelamatkan lima nyawa. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan langsung (mendorong seseorang) berbeda dari tindakan tidak langsung (menarik tuas), meskipun hasil akhirnya serupa.

Pada skenario pertama, menarik tuas dianggap sebagai tindakan yang bisa diterima karena menyelamatkan lebih banyak orang, sementara pada skenario kedua, mendorong seseorang terlihat sebagai tindakan aktif yang lebih sulit diterima secara moral. Ini menunjukkan bagaimana niat dan cara bertindak dapat mempengaruhi nilai moral suatu keputusan. Moralitas di sini dipertanyakan sebagai sesuatu yang mungkin saja digunakan untuk membenarkan kepentingan kelompok atau individu dan mempertanyakan apakah tindakan mengorbankan sedikit demi kepentingan banyak memang selalu lebih bermoral, atau apakah moralitas terkadang hanyalah alat untuk menyembunyikan egoisme manusia. Kesimpulannya, video tersebut mengajak kita untuk mempertanyakan kembali konsep moralitas, terutama dalam konteks pengorbanan dan kepentingan umum. Skenario dalam video tersebut juga mengajarkan bahwa terkadang kita membuat keputusan moral berdasarkan hasil (konsekuensialisme) tetapi sering kali merasa tidak nyaman dengan tindakan yang kita anggap lebih aktif, seperti mendorong seseorang, meskipun konsekuensinya sama.

Troli Problem digunakan untuk mengeksplorasi berbagai dilema moral dalam konteks kehidupan nyata, seperti perang, diskriminasi, dan penyiksaan. Misalnya, pertanyaan apakah mengorbankan minoritas demi kepentingan umum adalah tindakan moral yang dapat dibenarkan. Dilema ini juga dikaitkan dengan isu-isu modern seperti kecerdasan buatan yang harus membuat keputusan etis dalam situasi sulit. Jika seseorang berada di pihak yang dirugikan, mereka mungkin tidak akan setuju bahwa pengorbanan tersebut adalah tindakan moral. Contohnya, dalam perang atau konflik, seringkali kelompok yang lebih besar atau lebih kuat membenarkan tindakan terhadap kelompok yang lebih kecil dengan alasan kepentingan umum. Ketika seseorang atau kelompok berada dalam posisi yang lebih diuntungkan, mereka cenderung menganggap bahwa keputusan moral yang menguntungkan mereka adalah yang benar, meskipun hal itu mungkin merugikan orang lain.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 2

oleh Wilda Tajkia -
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F

A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal : Jurnal Dinamika Pendidikan
2. Nomor : 2
3. Halaman: 63-75
4. Tahun Penerbit: September 2008
5. Judul Jurnal : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
6. Nama Penulis : Hidayati

B. Abstrak
Bagian abstrak pada jurnal tersebut akan membahas pentingnya pendidikan nilai di era globalisasi. Di era globalisasi, terdapat peningkatan penyimpangan moral di kalangan siswa, yang disebabkan oleh kegagalan sistem pendidikan dalam mengembangkan nilai-nilai dan moral. Padahal, inti dari pendidikan adalah penyebaran nilai-nilai seperti nilai religius, psikologis, kehidupan, dan kenikmatan hidup.

C. Pendahuluan
Bagian pendahuluan pada jurnal tersebut membahas tentang krisis multidimensi yang sedang dialami Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Krisis ini, menurut penulis, mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk manusia yang berkepribadian, beriman, dan bermoral. Tilaar (dalam Mulyasa, 2000) menyatakan bahwa Indonesia mengalami krisis akhlak dan moral, yang menyebabkan pendidikan gagal dalam menanamkan nilai-nilai dan tata moral kepada peserta didik. Pendidikan yang ada saat ini dinilai lebih menitikberatkan pada pengembangan aspek kognitif, sementara aspek moral dan nilai-nilai luhur kurang diperhatikan. Dampak dari kegagalan pendidikan nilai ini terlihat pada banyaknya kasus penyimpangan moral, kekerasan, dan kriminalitas yang terjadi, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena ini menunjukkan adanya kemunduran dalam pendidikan nilai, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat. Penulis juga menekankan bahwa perubahan sosial akibat perkembangan teknologi dan globalisasi turut mempengaruhi budaya dan nilai-nilai masyarakat, yang berakibat pada pergeseran nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dijunjung tinggi. Pendahuluan ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan nilai dalam membentuk karakter moral generasi muda di tengah arus globalisasi yang penuh tantangan

D. Hasil dan Pembahasan
Bagian pembahasan dari jurnal tersebut membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dalam menghadapi tantangan era globalisasi serta berbagai masalah yang muncul akibat degradasi moral. Jurnal menjelaskan bahwa penyimpangan moral dan masalah sosial yang terjadi di kalangan generasi muda mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai moral yang kuat. Pendidikan terlalu berfokus pada pengembangan aspek kognitif dan teknis, sementara aspek nilai-nilai moral, budi pekerti, dan spiritualitas diabaikan. Akibatnya, karakter yang dihasilkan cenderung individualis, materialistis, dan tidak memiliki empati.

Globalisasi membawa pengaruh positif dan negatif terhadap nilai-nilai dan moral masyarakat. Dari sisi positif, globalisasi mendorong keterbukaan, peningkatan ekonomi, dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dari sisi negatif, globalisasi memunculkan individualisme, penurunan rasa nasionalisme, serta adopsi budaya asing yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai lokal. Budaya luar yang sering diadopsi secara mentah-mentah oleh kaum muda menyebabkan hilangnya identitas diri dan nilai-nilai luhur bangsa. Jurnal tersebut juga menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan terampil, tetapi juga pribadi yang berbudi pekerti luhur. Pendidikan nilai adalah proses yang mengajarkan siswa untuk mengalami, menghayati, dan menginternalisasi nilai-nilai moral ke dalam kehidupan sehari-hari.

Empat Tahap Pendidikan Nilai disebutkan sebagai langkah-langkah yang harus dilalui dalam pendidikan nilai:
  1. Persiapan: Membentuk disposisi batin yang benar seperti keterbukaan dan kejujuran.
  2. Konsentrasi/Integrasi: Memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang diajarkan.
  3. Asimilasi/Transformasi: Menyerap dan mengubah nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata.
  4. Realisasi/Aktualisasi: Mewujudkan nilai-nilai dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.
Jurnal tersebut juga membahas berbagai cara yang dapat digunakan untuk mendidik nilai-nilai moral di sekolah, seperti penggunaan lagu, cerita rakyat, nasihat, suasana doa, serta pertunjukan atau media audiovisual yang mendidik. Nilai-nilai harus ditransmisikan dengan cara yang dapat menyentuh hati siswa agar mereka benar-benar menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Untuk mengatasi kegagalan pendidikan nilai, jurnal merekomendasikan pendekatan yang lebih integral dalam sistem pendidikan, di mana setiap bidang studi harus diintegrasikan dengan nilai-nilai moral. Guru juga berperan sebagai fasilitator yang harus membimbing siswa dengan sentuhan hati dan keteladanan. Selain itu, pendidikan nilai harus dilakukan secara berkelanjutan di semua aspek kehidupan, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini diperlukan agar nilai-nilai moral tidak hanya diajarkan secara kognitif, tetapi juga dialami secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi era globalisasi, siswa harus dibekali dengan nalar, hati, norma, agama, dan rasa nasionalisme yang kuat. Nilai-nilai luhur bangsa juga harus dijunjung tinggi agar mereka tidak terpengaruh secara negatif oleh arus globalisasi. Selain kecerdasan intelektual, siswa juga perlu dikembangkan dalam kecerdasan emosional dan spiritual agar mereka bisa menjadi pribadi yang utuh dan bermoral di tengah tantangan globalisasi.

E. Penutup
Penutup jurnal tersebut menyampaikan bahwa pendidikan nilai sangat penting di era globalisasi, dan kegagalan dalam mendidik nilai moral akan berdampak negatif pada generasi muda. Pendidikan nilai yang efektif harus dilakukan dengan melibatkan nalar dan hati, serta harus dilakukan secara berkelanjutan oleh semua pihak, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

oleh Wilda Tajkia -
izin merevisi Pak,

A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
2. Volume : 9
3. Nomor : 3
4. Halaman : 710-724
5. Tahun Penerbit: September 2021
6. Judul Jurnal : Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
7. Nama Penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusoff

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

oleh Wilda Tajkia -
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F


A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
2. Volume : 9
3. Nomor : 3
4. Halaman : 90-100
5. Tahun Penerbit: April 2010
6. Judul Jurnal : Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
7. Nama Penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusoff

B. Abstrak Jurnal
Bagian abstrak jurnal tersebut membahas mengenai perubahan sosial yang cepat dan dampaknya terhadap hukum dan moral siswa, terutama terkait dengan moralitas remaja. Pendidikan di Aceh memiliki peran penting dalam pembentukan akhlak dan moral siswa. Pemerintah Aceh tidak hanya menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan standar nasional, tetapi juga menyesuaikan dengan kekhususan yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui penerapan kurikulum Islami yang diatur oleh Qanun. Pelaksanaan pendidikan di Aceh berorientasi pada nilai-nilai Islam dan budaya Islami, yang menjadi landasan dalam seluruh satuan pendidikan di Aceh

C. Pendahuluan Jurnal
Bagian pendahuluan jurnal tersebut membahas pentingnya memiliki standar moral yang tinggi bagi seorang Muslim, yang terutama berkaitan dengan pengajaran dan pendisiplinan siswa untuk membentuk perilaku dan karakter yang baik. Pesatnya perkembangan teknologi dan interaksi budaya terbuka telah membawa tantangan dalam pengembangan moral siswa, yang terkait erat dengan sistem pendidikan. Perubahan sosial yang cepat, terutama di kalangan remaja, telah memicu perubahan perilaku dan gaya hidup yang menyebabkan kekhawatiran akan moralitas. Pemerintah Aceh merespons hal ini dengan menyelenggarakan pendidikan yang tidak hanya sesuai dengan standar nasional, tetapi juga berfokus pada kekhususan daerah, yaitu melalui penerapan pendidikan Islami yang didasarkan pada hukum Islam dan budaya lokal. Aceh diberikan kewenangan otonom untuk menyelenggarakan pendidikan yang mencerminkan syariat Islam, yang bertujuan membentuk generasi muda yang berakhlak mulia.

D. Tinjauan Literatur
Bagian tinjauan literatur jurnal tersebut membahas berbagai konsep mengenai pendidikan nilai dan moral dari sudut pandang teori dan praktik. Dalam literatur ini, penulis menggali definisi nilai, yang diartikan sebagai perilaku moral yang baik dan terlihat dalam tindakan nyata. Nilai dianggap sebagai kombinasi dari emosi, pikiran, dan perilaku manusia yang dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosial. Selain itu, tinjauan literatur ini juga mencakup pentingnya pendidikan nilai di sekolah sebagai fondasi pembentukan karakter siswa. Di Indonesia, sistem pendidikan nasional telah mengatur nilai-nilai yang perlu diintegrasikan dalam pembelajaran, seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Di Aceh, pendidikan nilai juga diintegrasikan melalui kurikulum Islami yang berbasis syariat Islam dan budaya lokal. Secara keseluruhan, tinjauan literatur ini memberikan konteks mengenai pentingnya pendidikan nilai dalam pembentukan moral siswa baik di tingkat nasional maupun di Aceh, dengan penekanan pada peran pendidikan Islami.

F. Pembahasan
Bagian pembahasan jurnal tersebut membahas tentang penerapan pendidikan Islami di Aceh yang berlandaskan pada Qanun Aceh. Pembahasan ini menjelaskan konsep dan konteks pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum di Aceh, dengan fokus pada otonomi khusus yang diberikan kepada Aceh dalam bidang pendidikan, agama, dan budaya.
  1. Landasan Pendidikan Islami di Aceh: Pendidikan di Aceh diatur oleh Qanun Nomor 9 Tahun 2015 yang menggantikan Qanun Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Qanun ini mengatur bahwa kurikulum di Aceh harus memuat ajaran Islam dan nilai-nilai Islami, yang diterapkan di semua jenjang pendidikan.
  2. Kurikulum Islami: Pembahasan menjelaskan bahwa kurikulum di Aceh mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam mata pelajaran umum. Mata pelajaran inti seperti Pendidikan Agama Islam, Matematika, Ilmu Sosial, dan Bahasa Indonesia disertai dengan muatan lokal yang mengajarkan budaya dan kearifan lokal Aceh.
  3. Penerapan Budaya Islami: Pendidikan di Aceh tidak hanya fokus pada mata pelajaran, tetapi juga pada pembentukan budaya Islami di sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan manajemen sekolah yang Islami. Hal ini mencakup penerapan aturan berpakaian, tata bahasa yang sopan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
  4. Tantangan Implementasi: Meskipun ada upaya kuat untuk menerapkan kurikulum Islami, pembahasan juga mencakup tantangan yang dihadapi, seperti kesiapan guru, keterbatasan fasilitas, dan variasi pemahaman antar sekolah tentang penerapan kurikulum tersebut. Beberapa sekolah masih menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara efektif ke dalam proses pembelajaran.

G. Kelebihan dan Kekurangan
Penelitian dalam jurnal memberikan wawasan mendalam mengenai kebijakan pendidikan di Aceh yang sangat relevan dengan konteks lokal. Penulis berhasil menggabungkan teori pendidikan modern dengan konsep nilai moral dalam Islam, memberikan dasar bagi pengembangan kurikulum yang kontekstual dan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu kelemahan dari penelitian dalam jurnal ini adalah minimnya data empiris yang dihasilkan dari wawancara langsung atau survei di lapangan terkait implementasi kurikulum Islami. Selain itu, penelitian ini lebih menekankan pada kerangka normatif (kebijakan) tanpa menggambarkan kondisi nyata di sekolah-sekolah di Aceh secara terperinci.

  • Pendidikan di Aceh berorientasi pada nilai-nilai moral dan Islami yang diintegrasikan ke dalam kurikulum sesuai dengan Qanun yang berlaku. Pemerintah Aceh telah menetapkan langkah-langkah penting dalam memastikan bahwa seluruh satuan pendidikan menerapkan prinsip-prinsip Islami dalam proses pengajaran, meskipun masih ada tantangan dalam pelaksanaannya.
  • Penelitian dalam penyusunan jurnal ini sangat relevan bagi para pembuat kebijakan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah yang memiliki kekhususan otonomi seperti Aceh. Selain itu, bagi peneliti pendidikan dan para pendidik, jurnal ini menjadi rujukan penting dalam memahami penerapan pendidikan berbasis nilai moral dan Islami di sekolah. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai agama dalam sistem pendidikan, yang tidak hanya fokus pada aspek akademis tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal-2

oleh Wilda Tajkia -
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F


A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora
2. Volume : 1
3. Nomor : 1
4. Halaman : 90-100
5. Tahun Penerbit: April 2010
6. Judul Jurnal : Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia di Kalangan Remaja
7. Nama Penulis : H. Wanto Rifaie

B. Abstrak Jurnal
Bagian abstrak jurnal tersebut membahas tentang pentingnya upaya orang tua dalam membina anak di keluarga dengan kasih sayang untuk menciptakan generasi yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Abstrak juga mencatat bahwa kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan berbagai masalah seperti kenakalan remaja dan penggunaan narkoba. Oleh karena itu, pendidikan perlu difokuskan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.

C. Pendahuluan Jurnal
Bagian pendahuluan jurnal tersebut membahas tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pengetahuan, nilai moral, dan keterampilan dalam membentuk jati diri individu di masyarakat yang terus berubah. Tujuan dari upaya ini adalah agar manusia tetap menjadi makhluk yang bermoral dan tidak bertransformasi menjadi makhluk yang tidak bermoral. Pendahuluan juga menekankan peran pendidik dalam membangun kepribadian seseorang yang memiliki jati diri yang khas. Pendidik diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai moral yang kuat dan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan zaman.

D. Hasil dan Pembahasan
Bagian inti dari jurnal tersebut membahas tentang pentingnya faktor personal dalam interaksi sosial dan perilaku individu, dengan penekanan pada pengaruh instink, motif, dan kepribadian. Terdapat dua aspek utama yang mempengaruhi perilaku manusia, yaitu aspek biologis yang mencakup kebutuhan dasar dan aspek sosiopsikologis yang melibatkan komponen afektif, kognitif, dan koaktif.
 
Jurnal ini juga menjelaskan motif sosiogenesis yang mencakup keinginan untuk pengalaman baru, pengakuan, dan rasa aman, serta membahas berbagai teori psikologi seperti psikoanalisis Freud, teori behaviorisme, dan belajar sosial Bandura. Penulis menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk jati diri dan moral sosial budaya di kalangan remaja, yang merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Selain itu, jurnal ini menyoroti peran pendidikan dalam membina nilai moral dan sosial budaya di kalangan remaja Indonesia. Penulis menggarisbawahi bahwa kurangnya kasih sayang dari orang tua dapat menyebabkan kenakalan remaja dan masalah sosial lainnya, sehingga pendidikan yang menekankan aspek afektif dan perilaku luhur sangat diperlukan.

Melalui kisah inspiratif, penulis menunjukkan nilai-nilai moral seperti saling membantu dan menghargai, serta menekankan pentingnya hubungan interpersonal yang saling menghargai di antara warga bangsa. Jurnal ini menyerukan perlunya kerja sama antara orang tua, guru, dan tokoh masyarakat dalam membentuk jati diri remaja yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, serta pentingnya komunikasi yang efektif dalam pendidikan untuk membangun kepercayaan dan harga diri peserta didik. Secara keseluruhan, penulis menekankan perlunya upaya bersama dari semua lapisan masyarakat untuk membangun generasi muda yang memiliki nilai moral dan sosial budaya yang kuat.

E. Penutup
Bagian penutup jurnal tersebut membahas tentang tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam pembentukan nilai moral sosial budaya di kalangan anak-anak dan remaja. Penutup menekankan pentingnya kerja sama yang baik antara ketiga lingkungan pendidikan, yang dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan, untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. Jurnal ini menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam pembentukan nilai moral sosial budaya di kalangan anak-anak dan remaja, yang dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan.
  2. Jurnal ini membahas tentang pengembangan karakter melalui pendidikan yang mencakup aspek moral dan sosial, serta pentingnya menciptakan suasana yang kondusif dalam pendidikan.
  3. Jurnal ini mengaitkan pembentukan jati diri dan moral sosial budaya dengan nilai-nilai Pancasila, yang merupakan landasan kehidupan beragama dan sosial di Indonesia.
  4. Jurnal ini menyertakan berbagai teori psikologi yang relevan, seperti psikoanalisis dan teori belajar sosial, untuk mendukung argumen tentang pengaruh faktor personal dalam perilaku individu.
  5. Jurnal ini menekankan perlunya pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan perilaku luhur untuk membina generasi yang bertanggung jawab.