གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Wilda Tajkia

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

Wilda Tajkia གིས-
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163


A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD
FKIP Unsyiah
2. Volume: 1
3. Nomor: 1
4. Halaman: 68-77
5. Tahun Terbit: 2016
6. Judul Artikel: Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Siswa di SD Negeri Lampeuneurut
7. Nama Penulis: Ruslan, Rosma Elly, dan Nurul Aini

B. Abstrak Jurnal
Abstrak artikel ini membahas penelitian mengenai penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode dan hasil penanaman nilai-nilai moral pada siswa dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 10 guru dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menanamkan nilai-nilai moral, seperti nilai religius, sosial, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, kemandirian, daya juang, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan dalam berbagai mata pelajaran. Kesimpulannya, sebagian besar siswa menunjukkan perilaku yang baik dan nilai-nilai moral yang ditanamkan oleh guru telah membantu dalam membentuk sikap moral positif pada siswa.

C. Pendahuluan Jurnal
Bagian pendahuluan artikel ini mengangkat persoalan kemerosotan moral yang terjadi di Indonesia, yang terlihat dari masalah-masalah seperti menurunnya nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam masyarakat. Penulis berargumen bahwa degradasi moral ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat memengaruhi generasi mendatang secara negatif. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sejak dini agar mereka dapat tumbuh dengan kepribadian yang baik. Penanaman nilai-nilai moral pada siswa dipandang sebagai salah satu cara penting untuk menghadapi tantangan moral yang ada, dengan tujuan agar generasi muda memiliki fondasi etis yang kuat. Pendidikan moral di sekolah menjadi pendekatan utama, karena lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa. Dalam hal ini, penulis menekankan bahwa seluruh kegiatan sekolah, baik di dalam maupun di luar kelas, hendaknya berorientasi pada pendidikan moral, sesuai pandangan John Mahoney yang menyarankan bahwa setiap aktivitas di sekolah harus mengandung nilai-nilai moral yang berguna untuk kehidupan bermasyarakat di masa depan.
Penulis juga mencatat bahwa lingkungan, baik di rumah maupun sekolah, sangat memengaruhi perkembangan moral anak. Anak yang berada di lingkungan positif cenderung memiliki perilaku yang baik, sementara anak yang berada di lingkungan negatif berpotensi terpengaruh secara buruk. Melalui interaksi sosial dengan teman sebaya dan dorongan dari lingkungan, anak-anak dapat mengembangkan pemahaman moral dan sikap sosial yang lebih baik. Dalam konteks penelitian ini, penulis mengamati bahwa sebagian guru di SD Negeri Lampeuneurut masih kurang menyadari pentingnya peran mereka dalam penanaman nilai-nilai moral. Beberapa guru tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai nilai-nilai moral yang harus ditanamkan kepada siswa dan kurang mendapatkan pelatihan khusus terkait pendidikan moral. Berdasarkan pengamatan ini, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, "Bagaimana penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut?"

D. Metode Penelitian
Bagian metode penelitian dalam artikel ini menjelaskan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, yang bertujuan untuk memahami bagaimana penanaman nilai-nilai moral dilakukan pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Penelitian ini dilakukan di sekolah tersebut, dengan subjek penelitian sebanyak 10 orang guru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara untuk menggali informasi langsung dari guru mengenai praktik penanaman nilai-nilai moral. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode analisis kualitatif, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan.

D. Hasil dan Pembahasan
Bagian hasil dan pembahasan artikel ini mengungkap bahwa guru di SD Negeri Lampeuneurut menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa dengan menyisipkan nilai-nilai tersebut dalam berbagai mata pelajaran. Nilai-nilai moral yang diajarkan meliputi religiusitas, kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, sosialitas, keadilan, gender, demokrasi, daya juang, dan penghargaan terhadap lingkungan. Selain melalui pengajaran di kelas, guru juga memberikan contoh sikap yang baik dan menanamkan nilai moral dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Observasi dan wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mengembangkan sikap yang positif, seperti tidak berbohong, menghargai teman, dan bekerja sama. Guru mendukung pembelajaran moral ini dengan memberikan nasihat, teguran, dan menjadi teladan bagi siswa. Meski demikian, ada beberapa nilai yang masih kurang diajarkan, seperti keteraturan dalam baris-berbaris dan penghargaan terhadap lingkungan.
Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai moral pada siswa sudah berjalan cukup baik di sekolah tersebut, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan, terutama dalam memastikan semua guru konsisten dalam mengajarkan nilai-nilai moral kepada siswa.

Kelebihan Artikel:
  1. Mengangkat isu pentingnya pendidikan moral di kalangan siswa untuk menghadapi tantangan moral masa kini.
  2. Menggunakan wawancara dan observasi untuk memperoleh gambaran rinci tentang praktik penanaman nilai moral oleh guru.
  3. Mencakup berbagai nilai moral, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

Wilda Tajkia གིས-
NAMA: WILDA TAJKIA
NPM: 2313053163

Hasil analisis saya dari video tersebut yaitu materi pada video tersebut menyampaikan tentang pembelajaran pendidikan moral yang membahas tentang pentingnya tanggung jawab dalam keluarga. Pada awal pembelajaran, guru mengajak siswa memahami konsep tanggung jawab dan memberikan contoh-contoh sikap bertanggung jawab melalui gambar. Beberapa contoh yang disampaikan dalam teks adalah:
  1. Mendengarkan nasihat ayah, siswa diharapkan mendengar nasihat orang tua karena orang tua memiliki pengalaman hidup lebih banyak dan tahu hal yang baik serta buruk.
  2. Membantu ibu, siswa diajak untuk bertanggung jawab dengan membantu ibu dalam tugas rumah tangga, seperti mencuci piring dan menyediakan makanan.
  3. Menemani kakak dan menjaga adik, siswa diharapkan menemani kakak saat keluar rumah untuk keamanan serta memperhatikan adik agar tidak dalam situasi berbahaya.
  4. Menolong kakek-nenek, ketika pulang kampung, siswa diingatkan agar tidak malas membantu kakek-nenek yang sudah lanjut usia agar mereka merasa terbantu.
Video tersebut juga mengajarkan bahwa tanggung jawab memiliki beberapa manfaat bagi keluarga, seperti mempererat hubungan keluarga, menjamin keamanan keluarga, serta membanggakan orang tua jika siswa rajin belajar. Siswa diajak untuk memahami bahwa tanggung jawab adalah bagian dari nilai moral yang dapat membuat keluarga menjadi lebih harmonis.
Pada akhir pembelajaran, guru memberikan beberapa soal untuk menguji pemahaman siswa, seperti alasan mengapa tanggung jawab dalam keluarga penting dan perasaan yang dirasakan ketika melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 1

Wilda Tajkia གིས-
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F

Berdasarkan video yang telah saya tonton, saya mendapatkan hasil analisis bahwa menanamkan nilai-nilai moral yang baik dan nilai-nilai agama yang luhur pada anak perlu dilakukan sedini mungkin karena keberhasilan atau kegagalan dalam proses ini akan berdampak pada perkembangan anak hingga dewasa. Taman kanak-kanak (TK) menjadi tempat penting dalam pembinaan moral dan agama, karena anak-anak pada usia ini sedang berada dalam "usia keemasan", yaitu masa di mana mereka sangat peka terhadap pengaruh dari luar. Oleh karena itu, pendidik di TK memiliki peran sentral dalam memberikan pengaruh positif melalui berbagai kegiatan bermain dan aktivitas yang dirancang untuk mengembangkan nilai-nilai tersebut.
Program-program yang bisa dilakukan di TK mencakup berbagai aspek, seperti:
  1. Konsep Diri: Berfokus pada pembentukan karakter anak, seperti menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk mengemukakan pendapat. Ini membantu anak mengenali dirinya dan meningkatkan keyakinan mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
  2. Kerapihan dan Kesopanan: Melalui kegiatan sehari-hari seperti cara makan, berpakaian, dan berperilaku, anak dilatih untuk menjadi individu yang rapi. Kegiatan ini juga berkaitan dengan pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan orang lain.
  3. Nilai-nilai Keimanan dan Peribadatan: Pengenalan tentang Tuhan dan ciptaan-Nya, serta pengenalan alam semesta, termasuk dalam upaya menanamkan nilai-nilai keimanan. Anak-anak juga diajarkan tentang ritual keagamaan, seperti berdoa, untuk membantu mereka memahami cara berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
Pengembangan moralitas pada anak TK mengacu pada teori-teori psikologi perkembangan, di mana anak-anak berada pada tahap heteronom atau prakonvensional. Pada tahap ini, mereka cenderung menilai suatu perbuatan baik apabila memberikan kesenangan bagi diri mereka, dan sebaliknya, menganggap perbuatan buruk jika hal tersebut tidak menyenangkan atau menyakitkan. Oleh karena itu, proses pembinaan moral pada anak-anak ini memerlukan bimbingan, pelatihan, dan pembiasaan secara terus-menerus untuk membantu mereka memahami nilai-nilai yang berlaku.
Berbagai metode dapat digunakan untuk menanamkan nilai moral dan agama pada anak, seperti:
  1. Bercakap-cakap: Kegiatan ini membantu anak mengembangkan konsep diri dan keterampilan berkomunikasi, misalnya melalui diskusi mengenai kebiasaan di rumah dan kehidupan sehari-hari.
  2. Kegiatan Makan Bersama: Melalui kegiatan ini, anak-anak diajarkan untuk bersikap rapi dan bersyukur atas rezeki yang mereka terima. Membiasakan berdoa sebelum makan juga mengajarkan anak untuk selalu mengingat Sang Pemberi rezeki.
  3. Bercerita dan Bermain Peran: Bercerita merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan keagamaan. Anak dapat memperkenalkan nilai ketuhanan, sopan santun, dan nilai-nilai sosial lainnya melalui cerita. Setelah mendengar cerita, anak-anak dapat diminta untuk menceritakan kembali atau menggambar, yang membantu mereka mengingat dan memahami isi cerita secara lebih mendalam.
  4. Bermain Peran: Aktivitas ini memungkinkan anak untuk mempraktikkan perilaku positif dan belajar berempati. Bermain peran juga membantu anak mengenali peran sosial di masyarakat dan mengekspresikan perasaan mereka. Misalnya, anak dapat memerankan peran tertentu dalam sebuah cerita, yang membantu mereka menghayati nilai-nilai yang diperankan.
  5. Kegiatan di Luar Ruangan: Karya wisata atau pengamatan lingkungan sekitar sekolah dapat menjadi sarana untuk mengenalkan anak pada alam, ciptaan Tuhan, dan budaya lokal. Hal ini membangun kesadaran mereka terhadap lingkungan dan menanamkan nilai-nilai religius secara kontekstual.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral dan agama pada anak usia dini harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan penuh permainan, karena dunia anak adalah dunia bermain. Dengan metode yang menyenangkan, anak-anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang diajarkan. Guru dan orang tua berperan penting dalam memberikan lingkungan dan kondisi yang mendukung perkembangan anak, memastikan nilai-nilai moral dan agama tersebut dipahami secara mendalam dan dapat dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Video 2

Wilda Tajkia གིས-
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F


Berdasarkan hasil analisis saya mengenai video pembelajaran tersebut yaitu, Model pembelajaran Marketplace Activity adalah metode pembelajaran interaktif yang menyerupai proses jual beli di pasar, namun fokus pada pertukaran informasi di dalam kelas. Model ini memungkinkan siswa untuk membuat dan menjual "produk" informasi, menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan aktif. Terdapat lima tahapan utama dalam model ini:

1. Tahap Pembagian Kelompok: Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok akan bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya.
2. Pembuatan Produk: Masing-masing kelompok membuat produk berupa poster yang mengandung informasi dari sumber bacaan. Poster ini dibatasi hingga 15 kata atau simbol saja. Pembatasan ini bertujuan untuk melatih siswa menyampaikan ide atau informasi secara singkat, padat, dan jelas. Pada tahap ini juga terjadi bimbingan dan penilaian oleh guru, guru memberikan bimbingan kepada setiap kelompok dan melakukan penilaian terhadap proses yang berlangsung. Ini memastikan setiap kelompok memahami materi dan dapat mempersiapkan diri untuk tahapan berikutnya.
3. Proses Jual Beli Informasi: Setiap kelompok menunjuk satu orang siswa untuk menjaga stand informasi, sementara tiga anggota lainnya pergi ke stand kelompok lain untuk berbelanja informasi. Proses ini berlangsung dalam waktu yang singkat, yakni 5 menit, di mana siswa berusaha mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari kelompok lain.
4. Berbagi Informasi di Kelompok: Setelah proses jual beli, siswa yang berbelanja informasi kembali ke kelompoknya dan berbagi informasi yang telah didapatkan kepada anggota yang menjaga stand. Ini memastikan bahwa semua anggota kelompok memperoleh informasi yang sama.
5. Konfirmasi dan Kesimpulan oleh Guru: Guru memverifikasi informasi yang diperoleh oleh setiap kelompok dan kemudian memberikan kesimpulan dari materi yang dipelajari. Tahapan ini bertujuan untuk memastikan pemahaman siswa terhadap seluruh informasi yang ada dan mengaitkannya kembali dengan tujuan pembelajaran.

Model ini membantu siswa berlatih berkomunikasi, bekerja sama, dan mengembangkan keterampilan analisis informasi. Selain itu, aktivitas ini mendorong suasana belajar yang lebih interaktif dan dinamis, mirip dengan interaksi di pasar yang penuh pertukaran informasi.

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 1

Wilda Tajkia གིས-
Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
Kelas: 3F


A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal: Jurnal pendidikan Karakter
2. Volume: VII
3. Nomor: 1
4. Halaman: 100-108
5. Tahun Terbit: 2017
6. Judul Jurnal: Pengembangan Moral Anak di Lingkungan Lokalisasi Pasar Kembang TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta
7. Nama Penulis: Muhammad Syafe’i dan Rukiyati

B. Abstrak Jurnal
Abstrak jurnal ini membahas pengembangan moral anak di TK PKK Sosrowijayan, yang berlokasi di lingkungan lokalisasi Pasar Kembang, Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa pengembangan moral mencakup materi pembelajaran, keteladanan guru, dan metode seperti pembiasaan, bercerita, dan bernyanyi. Evaluasi dilakukan secara informal, mengandalkan ingatan guru. Meskipun lingkungan sekitar kurang kondusif, sekolah berupaya menjaga perkembangan moral anak secara optimal dengan menekankan pembiasaan dan perilaku positif.

C. Pendahuluan Jurnal
Bagian Pendahuluan jurnal tersebut menyoroti pentingnya pendidikan moral sejak usia dini karena anak berada pada fase peka dan mudah menyerap perilaku di lingkungannya. PAUD berperan sebagai landasan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan agama, namun kenyataannya pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya membentuk pribadi yang bermoral. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk mengembangkan moral anak sejak dini. Penulis juga menekankan bahwa lingkungan sekitar, seperti lokalisasi Pasar Kembang tempat TK PKK Sosrowijayan berada, bisa menjadi tantangan bagi perkembangan moral anak, sehingga peran guru dan metode pembelajaran menjadi sangat penting.

D. Metode Penelitian
Bagian Metode menjelaskan bahwa penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian melibatkan anak-anak TK PKK Sosrowijayan, yang berada di lingkungan lokalisasi Pasar Kembang, Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk melihat penerapan pendidikan moral di sekolah, sementara wawancara menggali informasi dari orang tua dan guru. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi, yakni penggabungan beberapa metode pengumpulan data untuk memperoleh hasil yang lebih akurat

D. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan moral anak di TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari anak di sekolah. Meskipun demikian, upaya pengembangan moral masih kurang optimal karena tidak ada ruang khusus yang disediakan untuk pengembangan aspek moral tersebut. Sebaliknya, TK lebih fokus pada aspek intelektual anak, seperti kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), yang ditunjang dengan jam tambahan setelah sekolah. Penekanan pada calistung ini bahkan menjadi alasan utama orang tua menyekolahkan anak mereka di TK tersebut, meskipun berada di lingkungan yang kurang kondusif. Lingkungan sekitar yang merupakan area lokalisasi tidak secara langsung memberikan dampak negatif kepada anak, karena interaksi mereka dengan elemen lingkungan tersebut dibatasi. Namun, anak-anak tetap terpapar pada fenomena yang terjadi di sekitar, seperti melihat orang tidur di jalan atau tulisan yang tidak sesuai bagi anak. Guru berusaha memberikan penjelasan kepada anak tentang fenomena tersebut agar mereka tidak salah memahami situasi yang ada.

Metode yang digunakan dalam pengembangan moral di TK ini meliputi pembiasaan, bercerita, keteladanan, dan menyanyi. Pembiasaan diterapkan melalui aktivitas seperti doa sebelum dan sesudah kegiatan, serta berbagi makanan dengan teman. Metode bercerita digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai moral, sedangkan keteladanan ditunjukkan oleh guru melalui perilaku sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak-anak. Meski demikian, metode pendidikan agama melalui TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) kurang terstruktur karena jadwalnya tidak rutin dan hanya berfokus pada pembelajaran huruf hijaiyah. Evaluasi perkembangan moral dilakukan secara observasi tanpa menggunakan lembar evaluasi formal, sehingga bergantung pada ingatan dan pengamatan langsung guru. Evaluasi ini mencakup pengamatan terhadap perilaku anak baik di sekolah maupun di rumah, dengan melibatkan orang tua untuk memberikan penguatan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Namun, evaluasi lebih mengutamakan hasil akhir seperti kemampuan calistung dibandingkan dengan proses belajar anak.

Secara keseluruhan, meskipun ada upaya pengembangan moral di TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta, hasilnya masih terbatas karena fokus yang lebih besar pada pengembangan akademik serta tantangan lingkungan sekitar yang kurang mendukung. Disarankan agar sekolah ini bisa lebih mengembangkan metode dan evaluasi yang lebih terarah untuk aspek moral, serta mempertimbangkan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan moral anak.

E. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Pendekatan kualitatif yang mendalam sehingga memungkinkan pemahaman yang detail tentang pengembangan moral anak dalam konteks spesifik.
2. Menggunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen sehingga hasilnya lebih valid.
3. Menyoroti tantangan dalam pengembangan moral anak di lingkungan lokalisasi, yang relevan bagi studi pendidikan.
4. Menyediakan berbagai metode untuk pengembangan moral seperti pembiasaan dan keteladanan.

Kekurangan:
1. Lebih fokus pada akademik (calistung) dibandingkan pendidikan moral.
2. Tidak menggunakan alat ukur formal sehingga hasilnya bisa kurang objektif.
3. Tidak membahas secara detail bagaimana lingkungan lokalisasi memengaruhi perkembangan moral.