Kiriman dibuat oleh Petrus Kanisius Bonavilus Gurning

Nama: Petrus Kanisius Bonavilus Gurning
NPM: 2315031085

Pendapat saya mengenai video tersebut yaitu peran Pancasila sebagai dasar pengembangan IPTEK menyoroti integrasi nilai-nilai Pancasila dalam proses inovasi dan penelitian. Prinsip-prinsip seperti gotong royong, keadilan sosial, dan ketuhanan yang maha esa menjadi pilar untuk membentuk paradigma pengembangan IPTEK yang berkelanjutan dan beretika. Kolaborasi, keberpihakan terhadap keadilan sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan menjadi aspek penting dalam mengarahkan IPTEK agar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, pengembangan IPTEK dapat menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan menjunjung tinggi moralitas dalam setiap langkahnya.
Nama: Petrus Kanisius Bonavilus Gurning
NPM: 2315031085

Berdasarkan temuan dari penelitian tersebut, jelas terlihat bahwa mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respons mahasiswa terhadap tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Studi ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki pemahaman yang baik tentang pengembangan kepribadian Pancasila lebih siap dalam merespons tantangan tersebut.
Hal ini menegaskan pentingnya untuk mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi.
Hal ini juga menekankan perlunya pemerintah untuk berperan dalam menyaring pengaruh globalisasi untuk menangkal infiltrasi informasi radikal.
Secara keseluruhan, artikel ini menekankan peran penting Pancasila dalam membentuk sikap dan respons mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengaruh budaya.
Referensi : Memberikan pemahaman dan penghayatan terhadap semangat dan nilai-nilai inti Pancasila kepada peserta didik sebagai warga negara Republik Indonesia, serta pedoman bagaimana menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan menganalisis dan mencari solusi terhadap berbagai permasalahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara melalui sistem berpikir berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menumbuhkan sikap spiritual peserta didik yang mampu mengapresiasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, cinta tanah air dan persatuan bangsa, serta memantapkan masyarakat madani yang memiliki, keadilan dan bermartabat berdasarkan Pancasila, untuk mampu berinteraksi dengan dinamika internal dan eksternal Indonesia.
Pancasila merupakan warisan luar biasa para bapak pendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur.
A. Artikel tersebut mengangkat isu penting mengenai persepsi negatif terhadap generasi milenial terkait sopan santun. Saya setuju bahwa tidak semua anak zaman sekarang kurang sopan, dan artikel ini memberikan perspektif yang seimbang. Menyoroti konsekuensi dari perilaku kurang baik dalam masyarakat adalah langkah positif untuk menyadarkan pembaca akan dampaknya. Penekanan pada kebebasan individu dengan batasan aturan dan norma mencerminkan pemahaman yang matang terhadap hak dan tanggung jawab. Artikel juga mengajak untuk menjaga budaya positif Indonesia di tengah dampak globalisasi, menunjukkan kepedulian terhadap identitas dan nilai-nilai lokal. Artikel ini membangkitkan rasa kebanggaan terhadap budaya sopan santun, ramah-tamah, dan toleransi yang merupakan warisan positif bagi masyarakat Indonesia.

B. Hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel tersebut terletak pada nilai-nilai yang tercermin dalam tulisan. Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, mengandung nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan ketuhanan yang mampu mendukung argumentasi dalam artikel terkait pentingnya menjaga budaya sopan santun, moralitas, dan menghindari perilaku "akhlak-less". Dengan demikian, artikel tersebut mencerminkan upaya untuk mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai Pancasila dalam menjaga budaya Indonesia.

C. 1. Gotong Royong (Sila ke-5: Keadilan Sosial):Kearifan lokal ini menekankan kerjasama dan kebersamaan dalam membantu sesama. Gotong royong mencerminkan semangat keadilan sosial yang ditanamkan dalam Pancasila.

2. Sopan Santun (Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa): Kearifan ini mencakup perilaku sopan dan menghormati sesama sebagai bentuk penghormatan terhadap Tuhan. Sopan santun menjadi nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia.

3.Toleransi (Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Kearifan lokal ini mencakup sikap terbuka dan menghargai perbedaan antarindividu atau kelompok. Toleransi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam Pancasila.

4. Musyawarah-Mufakat (Sila ke-3: Persatuan Indonesia): Prinsip ini menekankan pentingnya dialog dan perundingan dalam pengambilan keputusan untuk mencapai kesepakatan bersama. Musyawarah-mufakat mencerminkan semangat persatuan yang tercermin dalam Pancasila.

5. Bhinneka Tunggal Ika (Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Kearifan ini mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan untuk menyatukan perbedaan dan menciptakan harmoni di tengah keberagaman.

Melalui penerapan kearifan lokal yang terkait dengan sistem etika Pancasila, masyarakat Indonesia dapat membangun dan mempertahankan budaya yang mengedepankan nilai-nilai moral, etika, dan keadilan.

D. Untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila, beberapa langkah dapat diambil:

1. Pendidikan Nilai: Implementasikan pendidikan nilai yang mengajarkan tentang kearifan lokal, nilai-nilai Pancasila, dan budaya sopan santun dalam kurikulum pendidikan formal.

2. Promosi Budaya Lokal: Dukung dan promosikan kegiatan budaya lokal, seperti pertunjukan seni tradisional, festival budaya, dan kegiatan lainnya yang memperkuat identitas lokal.

3. Integrasi Nilai Pancasila: Terapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk gotong royong, keadilan sosial, dan toleransi. Hal ini dapat dilakukan melalui kebijakan publik, program-program pemerintah, dan inisiatif masyarakat.

4. Peneguhan Aturan dan Norma: Perkuat penegakan aturan dan norma yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait dengan perilaku yang bersifat sopan santun dan mendukung keberagaman.

5. Partisipasi Masyarakat: Ajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam upaya pelestarian kearifan lokal. Ini bisa melalui kegiatan sukarela, forum diskusi, atau program-program edukasi masyarakat.

6. Media Sosial Positif: Gunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan pesan positif, mendukung budaya sopan santun, dan mempromosikan nilai-nilai Pancasila.

Dengan langkah-langkah ini, kita dapat membangun kesadaran kolektif terhadap kearifan lokal dan sistem etika yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, menjaga budaya positif Indonesia agar tetap berkembang.