Posts made by Gerhana Malik Ibrahim 2315061032

Nama: Gerhana Malik Ibrahim
Kelas: TI D
NPM: 2315061032

Jurnal ini membahas tentang pendidikan Pancasila memiliki pengaruh positif terhadap sikap mahasiswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan dan teknologi . Analisis regresi menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari mata kuliah pengembangan kepribadian Pancasila terhadap sikap mahasiswa terhadap perkembangan IPTEK. Artikel ini menyoroti urgensi sikap dalam menghadapi aspek sosial, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang diakui sebagai pilar pembangunan negara. Rekomendasi dari penelitian ini mencakup perlunya mempertahankan identitas nasional dalam menghadapi tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengaktualisasikan nilai Pancasila pada generasi muda melalui Kementerian Pendidikan Nasional. Dengan demikian, jurnal ini memberikan wawasan yang penting tentang pengaruh pendidikan Pancasila terhadap sikap mahasiswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi perkembangan teknologi. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk tetap menjaga kepribadian bangsa dalam menghadapi perkembangan IPTEK dan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila. Upaya aktualisasi nilai-nilai Pancasila pada generasi muda juga perlu dilakukan melalui metode pembelajaran yang tidak bersifat indoktrinasi, serta peningkatan filtering terhadap informasi yang disajikan dalam berbagai media, terutama teknologi informasi, untuk mencegah penyebaran informasi yang berbau radikalisme.
Nama: Gerhana Malik Ibrahim
NPM: 2315061032
Kelas: TI D

Berdasarkan analilisis saya, peran yang diambil Pancasila sebagai advokasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia ditekankan dengan fokus pada nilai-nilai tinggi yang melekat dalam landasan filosofis negara tersebut. Sebagai pijakan filosofis, Pancasila, yang terdiri dari lima prinsip, memberikan dasar yang solid bagi pengembangan IPTEK melalui pengarahan riset dan inovasi untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan moral. Prinsip-prinsip seperti Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil menjadi arahan untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya memberikan keuntungan kepada segelintir masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat secara merata di semua lapisan.

Berikut adalah peran pancasila dalam penggunaan IPTEK:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu pengetahuan mencipta, keseimbangan antara rasional dan irasional, antara akal dan kehendak. Berdasarkan sila ini IPTEK tidak hanya memikirkan apa yang ditemukan dibuktikan dan diciptakan tetapi juga dipertimbangkan maksud dan akibatnya apakah merugikan manusia disekitarnya atau tidak. Pengolahan diimbangi dengan melestarikan.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan IPTEK harus bersikap beradab karena IPTEK adalah sebagai hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral.

3. Persatuan Indonesia, mengkomplementasikan universalitas dan internasionalisme (kemanusiaan) dalam sila-sila yang lain. Pengembangan IPTEK hendaknya dapat mengembangkan rasa nasionalisme, kebesaran bangsa serta keluhuran bangsa sebagai bagian umat manusia di dunia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, mendasari pengembangan IPTEK secara demoratis, artinya setiap ilmuan harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan IPTEK juga harus menghormati daan menghargai Kebebasan orang lain dan juga memiliki sikap yang terbuka untuk dikritik dikaji ulang maupun di bandingkan dengan peremuan lainnya.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia , mengkomplementasikan pengembangan IPTEK harus lah menjaga Keseimbangan Keadilan dalam kehidupan kemanusiaan yaitu keseimbangan Keadilan dalam hubungannnya dengan dir inva sendiri maupun dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat bangsa dan negara, serta manusia dengan alam lingkungannya.
Nama: Gerhana Malik Ibrahim
NPM: 2315061032
Kelas: TI D

ANALISIS SOAL 2

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!

Sistem etika perilaku politik saat ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat dilihat dari beberapa fenomena yang terjadi, seperti:
- Korupsi yang masih merajalela di kalangan politisi dan pejabat negara.
- Politik uang yang sering digunakan dalam pemilu dan pilkada.
- Politik dinasti yang mewarnai kepemimpinan di berbagai daerah.
- Hoaks dan ujaran kebencian yang marak di media sosial, terutama menjelang pemilu.
- Polarisasi politik yang semakin tajam dan mempersulit proses pengambilan keputusan di pemerintahan.

Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa masih banyak politisi dan pejabat negara yang belum menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, seperti Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Meskipun demikian, ada beberapa upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan etika perilaku politik di Indonesia, seperti:
- Penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lembaga-lembaga antikorupsi lainnya.
- Penerapan kode etik untuk politisi dan pejabat negara.
- Pendidikan politik bagi masyarakat.
- Kampanye antihoaks dan ujaran kebencian.

Namun, upaya-upaya tersebut masih belum cukup untuk mengatasi masalah etika perilaku politik di Indonesia secara tuntas. Diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak, terutama dari para politisi dan pejabat negara, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan politik sehari-hari.

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal mu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi !

Secara umum, etika generasi muda di sekitar tempat tinggal saya masih mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia. Mereka masih memiliki rasa hormat kepada orang tua dan guru, santun dalam bertutur kata, dan memiliki rasa tanggung jawab. Namun, ada juga beberapa fenomena yang menunjukkan adanya degradasi moral di kalangan generasi muda, seperti:
- Tawuran antar pelajar
- Bullying
- Penggunaan narkoba

Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa masih ada generasi muda yang belum memiliki pemahaman yang baik tentang etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia. Mereka masih terjebak dalam perilaku-perilaku yang bersifat negatif dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dekadensi moral yang saat ini terjadi, antara lain:
- Pendidikan etika dan moral sejak dini. Pendidikan etika dan moral harus dimulai sejak dini, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan etika dan moral harus menekankan pada nilai-nilai positif, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keadilan, dan toleransi.
- Pembentukan karakter. Pembentukan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Pembentukan karakter harus menekankan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
- Penegakan hukum. Hukum harus ditegakkan secara tegas terhadap pelaku-pelaku kejahatan dan pelanggaran moral. Penegakan hukum yang tegas akan memberikan efek jera dan mencegah terjadinya tindak kejahatan dan pelanggaran moral lainnya.
- Selain itu, perlu juga peran aktif dari masyarakat dalam mengawasi perilaku generasi muda. Masyarakat harus memberikan contoh yang baik dan mengingatkan generasi muda untuk selalu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai etika dan moral.

Dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda dapat menjadi generasi yang beretika dan bermoral, serta dapat turut membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.
Nama: Gerhana Malik Ibrahim
NPM: 2315061032
Kelas: TI D

Analisis saya yaitu jurnal ini membahas tentang pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh media massa dalam menerapkan fungsi kontrol sosial di Indonesia masih belum terlaksana secara menyeluruh. Berita yang diedarkan kepada khalayak ramai seringkali tidak sesuai dengan fakta dan disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tanpa menelusuri kembali berita dan sumber berita tersebut, masyarakat justru mempercayai hal tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan integritas profesional para wartawan dan memberikan pelatihan ulang kepada sumber daya manusia di dalam media massa, serta pengawasan terhadap konstruksi pemberitaan yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Independen. Hal ini diharapkan dapat membantu media massa untuk lebih efektif dalam mempromosikan nilai-nilai Pancasila dan mencegah terjadinya kejahatan di Indonesia.

Penerapan pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh media massa sangat penting. Sebagaimana dijelaskan dalam jurnal yang disebutkan, media massa memiliki peran penting dalam menerapkan fungsi kontrol sosial di Indonesia, terutama dalam mencegah terjadinya kejahatan. Oleh karena itu, pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh media massa sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pemberitaan yang disampaikan sesuai dengan fakta dan tidak merugikan masyarakat. Selain itu, pengamalan nilai-nilai Pancasila juga dapat membantu media massa untuk lebih efektif dalam mempromosikan nilai-nilai positif dan mencegah terjadinya kejahatan di Indonesia.

Dampak dari pelanggaran moral Pancasila bisa merambah ke berbagai sektor, termasuk aspek moral, kultural, religius, dan sosial ekonomi. Kerugian yang timbul tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi menciptakan disonansi sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, pentingnya pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh media massa menjadi lebih menonjol, tidak hanya sebagai alat kontrol sosial tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan moral masyarakat. Jika nilai-nilai Pancasila terus diabaikan, risiko terjadinya kerusakan moral dan sosial yang merugikan bangsa dan negara akan semakin meningkat.

Media massa di Indonesia masih belum sepenuhnya mampu menjalankan fungsi kontrol sosial dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara menyeluruh. Penyebaran berita yang seringkali tidak sesuai dengan fakta oleh pihak yang tidak bertanggung jawab mengakibatkan kepercayaan masyarakat tanpa melakukan penelitian ulang. Hal ini melanggar nilai-nilai Pancasila terutama terkait nilai materiil, kerohanian, dan vital, yang pada akhirnya dapat berujung pada pelanggaran hak asasi manusia. Media massa cenderung memuaskan keingintahuan masyarakat tanpa mendorong pembentukan kepribadian, dan belum berhasil mengubah moral masyarakat sesuai dengan ajaran Pancasila. Dampaknya terlihat pada pudarnya jiwa patriotik, perkembangan manusia yang cenderung individual-liberalistik, dan tetapnya kepentingan pribadi atau golongan di atas kepentingan bangsa dan negara.