NAMA: Gerhana Malik Ibrahim
NPM: 2315061032
KELAS: TI D
Analisis dari jurnal yang telah diamati menunjukkan bahwa konsolidasi demokrasi di Indonesia masih mengalami fluktuasi dan belum mencapai stabilitas yang diharapkan karena beberapa pilar utamanya belum berfungsi secara optimal. Pemilu, sebagai fondasi utama, memiliki peran penting dalam suksesi kepemimpinan dan pengawasan kinerja pemerintah, tetapi masih dihadapi oleh tantangan seperti kejujuran, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.
Tantangan ini juga disebabkan oleh perilaku elit partai politik dan pemangku kepentingan terkait pemilu yang tidak selalu mendukung proses demokrasi, dengan kurang memperhatikan nilai-nilai seperti partisipasi masyarakat dan kesetaraan politik.
Kondisi sosial, ekonomi, politik, dan hukum yang tidak memadai semakin memperumit situasi, terutama dengan fenomena seperti berita sensasional di media sosial, ujaran kebencian, dan penyebaran berita palsu. Politisasi identitas, persaingan dalam mendapatkan dukungan dari kalangan Muslim, dan politisasi birokrasi juga menjadi masalah yang terus muncul.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya serius dan komitmen dari berbagai pihak, termasuk partai politik, masyarakat sipil, media massa, dan media sosial. Kolaborasi yang kuat dari berbagai sektor ini penting untuk membangun demokrasi yang substansial dan memperbaiki kepercayaan publik terhadap hasil pemilu.
NPM: 2315061032
KELAS: TI D
Analisis dari jurnal yang telah diamati menunjukkan bahwa konsolidasi demokrasi di Indonesia masih mengalami fluktuasi dan belum mencapai stabilitas yang diharapkan karena beberapa pilar utamanya belum berfungsi secara optimal. Pemilu, sebagai fondasi utama, memiliki peran penting dalam suksesi kepemimpinan dan pengawasan kinerja pemerintah, tetapi masih dihadapi oleh tantangan seperti kejujuran, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.
Tantangan ini juga disebabkan oleh perilaku elit partai politik dan pemangku kepentingan terkait pemilu yang tidak selalu mendukung proses demokrasi, dengan kurang memperhatikan nilai-nilai seperti partisipasi masyarakat dan kesetaraan politik.
Kondisi sosial, ekonomi, politik, dan hukum yang tidak memadai semakin memperumit situasi, terutama dengan fenomena seperti berita sensasional di media sosial, ujaran kebencian, dan penyebaran berita palsu. Politisasi identitas, persaingan dalam mendapatkan dukungan dari kalangan Muslim, dan politisasi birokrasi juga menjadi masalah yang terus muncul.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya serius dan komitmen dari berbagai pihak, termasuk partai politik, masyarakat sipil, media massa, dan media sosial. Kolaborasi yang kuat dari berbagai sektor ini penting untuk membangun demokrasi yang substansial dan memperbaiki kepercayaan publik terhadap hasil pemilu.