གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Dhito Aryo Trengginas

MKU PKN PSTI C dan D -> FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

Dhito Aryo Trengginas གིས-
Nama : Dhito Aryo Trengginas
NPM : 2315061015
Kelas : TI C
Prodi : Teknik Informatika

Analisis saya terhadap jurnal tersebut yaitu dalam jurnal menegaskan bahwa pentingnya semangat Bela Negara dalam menghadapi krisis seperti pandemi COVID-19. Selama masa pandemi, tindakan konkret yang mencerminkan semangat Bela Negara mencakup kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan solidaritas sosial dengan membantu sesama serta mendukung petugas medis. Peran kesadaran akan Bela Negara menjadi krusial dalam menjaga keberlanjutan negara dan menangani krisis, di mana setiap individu diharapkan dapat memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya.

Pentingnya penyebaran informasi yang akurat dan upaya pendidikan tentang konsep Bela Negara perlu ditekankan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Kerjasama antara pemerintah, media, dan masyarakat dalam menyebarkan informasi yang benar serta memberikan dukungan psikologis dan sosial sangatlah penting. Dengan pemahaman yang baik tentang semangat Bela Negara, masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan krisis seperti pandemi COVID-19 dan situasi sulit lainnya.

Kesimpulannya, semangat Bela Negara tidak hanya relevan dalam konteks perang, tetapi juga sangat penting dalam mengatasi krisis kesehatan masyarakat seperti pandemi COVID-19. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan, solidaritas sosial, dan kesadaran akan pentingnya kontribusi individu menjadi elemen kunci dalam menjaga stabilitas negara dan keberlangsungan masyarakat.

MKU PKN PSTI C dan D -> FORUM JAWABAN ANALISIS VIDEO

Dhito Aryo Trengginas གིས-
Nama : Dhito Aryo Trengginas
NPM : 2315061015
Kelas : TI C
Prodi : Teknik Informatika

Menurut hasil analisis saya terkait video tersebut, yaitu menjelaskan mengenai Ketahanan nasional yang mencakup berbagai bidang kehidupan suatu negara untuk mempertahankan eksistensinya dan mengatasi ancaman yang beragam. Ancaman tersebut lalu dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, terdapat Ancaman Langsung, seperti invasi militer atau serangan teroris besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Lalu terdapat Ancaman Luar yang mencakup serangan siber atau strategi ekspansi geopolitik dari negara tetangga. Terdapat pula Ancaman Dalam Negeri, seperti pemberontakan kelompok separatis, juga menjadi bagian dari situasi tersebut. Terakhir yaitu Ancaman Tidak Langsung, seperti krisis kesehatan global atau perubahan iklim, meskipun tidak langsung terkait dengan keamanan, tetap dapat mengganggu stabilitas negara.

Dalam menghadapi berbagai ancaman ini, negara perlu memperhatikan dua aspek utama dari ketahanan nasional, yaitu Trigatra dan Pancagatra.
- Ancaman Trigatra melibatkan risiko konflik perbatasan dan bencana alam akibat posisi geografis, serta konflik dan kerusakan lingkungan karena pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Kemampuan penduduk dalam hal pendidikan dan kesehatan juga dapat menjadi faktor penting dalam menentukan ketahanan nasional.
- Ancaman Pancagatra meliputi berbagai aspek sosial, politik, dan ekonomi. Konflik internal akibat perbedaan ideologi atau pengaruh asing, ketidakstabilan politik dan korupsi, serta krisis ekonomi dan ketidakadilan adalah beberapa contoh dari ancaman ini.

Disintegrasi sosial akibat perubahan cepat dan konflik budaya, bersama dengan ancaman terorisme dan agresi militer baik dari dalam maupun luar negeri, juga menjadi bagian dari tantangan ketahanan nasional. Dalam menghadapi berbagai ancaman ini, negara harus mengembangkan strategi yang komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya dalam aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. Maka hanya dengan pendekatan inilah negara dapat memperkuat ketahanan nasionalnya secara efektif dan berkelanjutan.

MKU PKN PSTI C dan D -> FORUM JAWABAN ANALIS KASUS

Dhito Aryo Trengginas གིས-
Nama : Dhito Aryo Trengginas
NPM : 2315061015
Kelas : TI C
Prodi : Teknik Informatika

a. Menurut analisis saya, dalam artikel tersebut menggambarkan kondisi suram penegakan HAM di Indonesia pada 2019, dengan berbagai kemunduran seperti kurangnya akuntabilitas atas pelanggaran oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi, diskriminasi berbasis gender, dan meningkatnya pelanggaran di Papua. Namun, terdapat beberapa aspek positif, seperti upaya reformasi oleh pemerintah, ratifikasi perjanjian internasional, dan kebangkitan gerakan sosial sebagai pengawas kekuasaan. Meskipun banyak tantangan, harapan masih ada melalui reformasi dan aktivisme masyarakat sipil.

b. Menurut analisis saya, demokrasi Indonesia yang berakar pada nilai-nilai adat dan budaya tradisional menekankan konsep "musyawarah untuk mufakat," di mana keputusan dibuat melalui diskusi dan konsensus. Ini mencerminkan penghormatan terhadap berbagai pandangan dan pencarian kesepakatan bersama. Prinsip demokrasi Indonesia yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa memastikan bahwa demokrasi tidak hanya tentang kebebasan individu, tetapi juga moral dan spiritual. Artinya, kebebasan harus selaras dengan ajaran agama dan etika, menjaga moralitas dan harmoni sosial. Dengan demikian, demokrasi Indonesia berusaha menyeimbangkan kebebasan individu dan tanggung jawab sosial, sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya.

c. Praktik demokrasi di Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945 terkait HAM. Pelanggaran HAM masa lalu belum tuntas, masalah di Papua memburuk, dan kebebasan berekspresi serta beragama sering dibatasi. Meskipun ada kemajuan seperti ratifikasi perjanjian HAM internasional dan aktifnya gerakan mahasiswa, pemerintah perlu meningkatkan upayanya untuk memastikan penghormatan HAM.

d. Sikap saya terhadap hal tersebut, yaitu akan berperan aktif dengan tetap terlibat dalam politik, baik melalui pemahaman terhadap tanggung jawab anggota parlemen, partisipasi aktif dalam pemilihan umum, maupun menyuarakan aspirasi kepada para wakil rakyat. Penting juga untuk memantau tindakan mereka dan memperjuangkan transparansi serta akuntabilitas dalam keputusan politik. Selain itu, saya akan selalu mendukung gerakan masyarakat sipil yang berupaya memperjuangkan kepentingan masyarakat dan memperkuat pengawasan terhadap pemerintahan.

e. Menurut saya, pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik berbasis tradisi atau agama sering kali memanfaatkan loyalitas dan emosi masyarakat untuk tujuan yang tidak jelas, yang bisa melanggar hak asasi manusia (HAM). Dalam konteks demokrasi saat ini, tindakan seperti ini bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM yang menekankan kebebasan individu, kesetaraan, dan non-diskriminasi. Manipulasi ini dapat menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan, penindasan, dan pelanggaran hak-hak dasar warga negara, yang seharusnya dijaga dalam demokrasi yang sehat.