Azizah Arifiani Apriyanto
2311011042
A. sikap gotong royong dapat diwujudkan melalui langkah-langkah berikut:
- Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta: Persoalan yang kompleks membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu berperan aktif dalam mengkoordinasikan upaya dan memberikan kebijakan yang mendukung kerjasama ini.
- Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat: Masyarakat perlu diberdayakan untuk berpartisipasi aktif dalam upaya penyelesaian persoalan, seperti melalui kampanye kesadaran, aksi sukarela, atau ikut serta dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
- Peningkatan solidaritas sosial: Sikap gotong royong dapat diwujudkan dengan meningkatkan solidaritas sosial, yaitu saling peduli dan membantu sesama. Ini bisa dilakukan melalui pembentukan komunitas, kegiatan sosial, penggalangan dana, atau proyek bersama untuk membantu mereka yang membutuhkan.
- Pendidikan dan pemahaman gotong royong: Pendidikan merupakan faktor penting dalam membentuk sikap dan nilai-nilai. Pengenalan dan penyadaran tentang pentingnya gotong royong dapat dilakukan melalui pendidikan formal, non-formal, dan informal.
- Mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan sukarela: Masyarakat Indonesia memiliki tradisi yang kuat dalam kehidupan berorganisasi dan kegiatan sukarela. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggalang partisipasi aktif dalam kegiatan sukarela yang mendukung tujuan gotong royong, seperti penghijauan, pembersihan lingkungan, pendidikan masyarakat, atau bantuan bagi mereka yang terkena bencana alam.
- Membangun jaringan kerjasama antar komunitas: Penting untuk membangun jaringan kerjasama antar komunitas untuk saling berbagi pengalaman, sumber daya, dan pengetahuan. Ini dapat menguatkan daya tahan sosial dan memperluas jangkauan gotong royong dalam menangani berbagai persoalan yang melanda bangsa.
B. - Menghormati keberagaman: Saya akan berusaha menghormati perbedaan budaya, agama, suku, dan latar belakang lainnya di lingkungan sekitar saya. Saya akan menanamkan sikap toleransi, saling menghargai, dan saling memahami agar harmoni terjaga.
- Komunikasi yang efektif: Saya akan mendukung komunikasi yang terbuka, jujur, dan empatik dengan tetangga dan anggota masyarakat lainnya. Saya akan mencoba untuk memahami perspektif mereka, mendengarkan perbedaan pendapat, dan berdiskusi dengan cara yang menghormati.
- Memperkuat pemahaman tentang keberagaman: Saya akan mengambil inisiatif untuk mendiskusikan dan memperkuat pemahaman tentang keberagaman dengan mengadakan pertemuan kecil, lokakarya, atau acara lainnya. Ini dapat membantu membuka kesadaran dan pemahaman yang lebih dalam tentang keberagaman serta memperkuat hubungan antarindividu.
- Kolaborasi dalam proyek atau kegiatan komunitas: Saya akan mencoba untuk berkolaborasi dengan tetangga dan anggota masyarakat lainnya untuk mengorganisir kegiatan atau proyek komunitas. Misalnya, kegiatan kebersihan lingkungan, penghijauan, atau kegiatan sosial bersama untuk meningkatkan rasa saling peduli dan kesatuan.
- Menghormati ruang pribadi dan tradisi: Saya akan berusaha untuk menghormati ruang pribadi, budaya, dan tradisi masing-masing individu atau kelompok dalam lingkungan saya. Saya akan menghindari sikap merendahkan dan memperlakukan orang lain secara tidak hormat terkait dengan perbedaan mereka.
- Mengatasi konflik dengan pendekatan yang baik: Jika ada konflik atau perselisihan, saya akan berusaha untuk menyelesaikannya dengan pendekatan yang baik, seperti dialog, mediasi, atau mencari kesepakatan bersama. Saya akan berupaya untuk memperkuat hubungan harmonis, menghindari kebencian atau sentimen negatif yang dapat memecah belah.
C. Setiap kelompok/bangsa/negara memiliki nilai-nilai dasar yang menjadi acuan dan identitas nasional kelompok/bangsa/negara tersebut. Nilai-nilai dasar ini adalah prinsip-prinsip atau keyakinan fundamental yang diterima secara luas oleh anggota kelompok/bangsa/negara sebagai bagian penting dari budaya mereka. Nilai-nilai ini membentuk karakteristik, norma, dan etika yang mengarahkan perilaku individu dan kelompok dalam masyarakat.
Contohnya, dalam konteks Indonesia, nilai-nilai dasar Pancasila menjadi acuan dan identitas nasional. Pancasila terdiri dari lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai-nilai ini mengandung prinsip-prinsip keberagaman, keadilan, persatuan, dan demokrasi yang menjadi dasar hukum dan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Demikian pula, nilai-nilai dasar yang merujuk pada identitas nasional di kelompok/bangsa/negara lain akan bervariasi sesuai dengan budaya, sejarah, agama, dan konteks mereka. Nilai-nilai ini mencerminkan norma-norma sosial, keyakinan, tradisi, dan pola pikir kelompok/bangsa/negara yang membentuk identitas mereka.
D. Penghapusan 7 kata tersebut menunjukkan sikap inklusif para pendiri bangsa, dengan mengakomodasi berbagai kepercayaan dan keyakinan agama yang ada di Indonesia. Dalam konteks ini, perubahan tersebut merefleksikan prinsip bahwa negara Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan beragama serta menghormati keberagaman agama.
Sikap tersebut sangat relevan dengan sikap bangsa di masa sekarang. Sebagai bangsa yang majemuk dengan berbagai agama, suku, dan kebudayaan, kita perlu tetap menjaga kerukunan dan menghargai perbedaan. Kita harus memiliki kesadaran dan sikap inklusif yang memungkinkan setiap individu mempraktikkan agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing, selama tidak mengganggu kehidupan sosial dan kohesi nasional.
Melalui sikap tersebut, kita dapat mendorong persatuan dan toleransi di antara semua warga negara Indonesia. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, termasuk semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” atau “Berbeda-beda tetapi tetap satu”, kita memperkuat persatuan dan menghormati keragaman dalam masyarakat.
Penting bagi kita untuk menghargai dan memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk beragama atau tidak beragama, serta mempraktikkan agama atau kepercayaan mereka tanpa ada bentuk diskriminasi. Dalam menghadapi perbedaan ini, sikap saling menghormati dan terbuka terhadap perbedaan akan membantu memperkuat persatuan dan kohesi sosial kita sebagai bangsa.