Kiriman dibuat oleh Gita Oktavia Ramadhani 2211031101

Nama : Gita Oktavia Ramadhani
NPM : 2211031101
Kelas : AKT C

A. Sistem etika perilaku politik saat ini menurut saya sudah melenceng dari ketetapan yang seharusnya. Sistem etika perilaku politik yang seharusnya sejalan dengan nilai dan norma yang ada mulai memudar. Sehingga, sistem etika perilaku politik tersebut belum sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal tersebut dapat terlihat dengan banyaknya kasus penyelewengan jabatan oleh pejabat negara yang seharusnya menjadi pengayom dan penyalur aspirasi rakyat. Penyelewengan tersebut salah satunya berupa kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang merajelala. Demokrasi yang seharusnya berada di tangan rakyat, kini berada di tangan penguasa. Banyaknya partai politik yang demu memenangkan kursi pejabat melakukan segala cara, seperti pemberian suap dalam pemilihan umum (untuk rakyat, panitia ataupun pihak yang berwenang), manipulasi suara, pemberian janji palsu yang tidak dapat terealisasikan untuk rakyat, dan masih banyak lagi. Penyelewengan tersebut dapat disimpulkan dengan melanggar beberapa indikator yaitu sebagai berikut.
1. Independensi : jajaran birokrasi tidak memiliki independensi struktural maupu sikap, sehingga mudah terjadi penyalahgunaan jabatan, sehingga kasus korupsi merajalela.
2. Integritas : tndak jujur, keadilan, ketepatan pelayanan tidak terpenuhi, sehingga menimbulkan birokrasi yang tidak koruptif dan kredibel
3. Transparansi : tidak diikutinya prinsip transparasi dalam urusan finansial negara, sehingga tidak dapat menekan persepsi korupsi dan tindakan favoritisme.
4. Efisiensi : jajaran birokrasi yang tidak efisien dalam mengalokasikan anggaran publik, sehingga anggaran negara banyak digunakan untuk keuntungan pribadi.
5. Profesionalisme : kuranganya sikap profesional, sehingga para birokrasibkurang menerapkan prinsip ekuitas, akurasi dan ketekunan.
6. Pelayanan publik : pemahaman tentang pentingnya pelayanan kurang diterapkan, sehingga masyarakat tidak menerima pelayanan yang bertanggung jawab dari para birokrasi.
Oleh karena itu, sistem etika perilaku politik yang ada pada bangsa Indonesia sudah melencang dari sila ketuhanan, sila kemanusiaan, sila persatuan, sila kerakyatan, dan sila keadilan.

sumber : https://www.kompasiana.com/erlitaasakura/5fb1d29e8ede484e2d232442/persimpangan-etika-dan-paradigma-pemerintahan


B. Menurut saya, etika yang dimiliki generasi muda di sekitar tempat tinggal saya kurang mencerminkan etika yang sesuai sengan nilai pancasila dan etika yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut terlihat dengan kurangnya tegur sapa saat bertemu orang yang lebih tua, teman maupun tetangga. Selain itu, adab dalam bertamu juga kurang diterapkan, terbukti dengan banyaknya tamu hingga tengah malam yang tentunya menganggu kenyamanan publik. Seiring perkembangan teknologi yang banyak memberikan dampak positif namun juga adanya dampak negatif, generasi muda semakin acuh terhadap lingkungan sekitar yang mendorong menurunnya tingkat kepedulian. Dengan adanya teknologi, generasi muda cenderung menjadi individualis. Hal ini tercipta karena teknologi yang bersifat global serta adanya kemudahan akses dalam mendapatkan informasi, kebudayaan global tersebut juga mempengaruhi generasi muda dalam bersikap.
Sehingga, solusi yang tepat mengenai adanya dekradensi moral yang terjadi adalah sebagai berikut.
1. Memupuk rasa ingin berubah menjadi lebih baik dalam diri sendiri. Karena jika tidak ada keinginan untuk berubah yang berasal dari diri sendiri, maka solusi apapun akan kurang efektif untuk diterapkan dalam generasi muda.
2. Peran orangtua dalam mengawasi dan membatasi penggunaan teknologi yang diakses oleh generasi muda.
3. Adanya edukasi yang sesuai dengan minat generasi muda, sehingga edukasi tersebut dapat berjalan dengan efektif. Seperti diadakannya seminar tentang bahaya berita hoaks, pergaulan bebas, pentingnya pancasila dalam menghadapi perkembangan teknologi, dan sebagainya.
4. Kesadaran untuk menyaring berbagai informasi yang diterima. Dengan adanya edukasi yang tepat, maka generasi muda dapat menerapkan filterisasi untuk menentukan apakah informasi sesuai dengan nilai dan norma yang
ada.
5. Memahami dan mengamalkan setiap nilai dalam pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya keinginan untuk menjadi lebih baik, kesadaran, dan edukasi, maka dalam menerapkannya diperlukan pedoman yang tepat yaitu pancasila. Generasi muda akan mampu dalam menerapkan bagaimana sila ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dapat berperan dalam adanya dekradensi moral yang terjadi.
Nama : Gita Oktavia Ramadhani
NPM : 2211031101
Kelas : Akt. C

1. Menurut saya, proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 memiliki banyak kendala. Dengan memberlakukan pembelajaran online, maka terdapat kendala seperti kesulitan mengakses jaringan di daerah pelosok, sehingga banyak murid yang sulit untuk mengikuti pembelajaran daring, serta biaya yang dikeluarkan untuk membeli kuota internet relatif besar. Selain itu, penjelasan yang tenaga pendidik sampaikan melalui pembelajaran daring juga kurang ditangkap oleh murid karena tidak berupa penjelasan secara langsung. Apalagi banyaknya tugas yang diberikan juga tidak sebanding dengan pemahaman yang didapat.

2. Cara agar proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 agar berlangsung efektif adalah dengan melakukan pembelajaran tatap muka, namun tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dan sebagainya. Selain itu, jika masih diberlangsungkannya pembelajaran daring maka diperlukan bantuan kuota internet dari pihak sekolah, serta melakukan survei bagi siapa saja yang kesulitan untuk mengakses internet, seperti adanya kendala tidak memiliki handphone, tidak memiliki kuota internet, dan sebagainya.

3. Contoh pengembangan karakter pancasila mengenai disiplin di lingkungan pendidikan adalah dengan mengumpulkan tugas tepat waktu, sehingga adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan baik dan mengumpul tepat pada waktunya. Sedangkan mengenai perilaku santun, dengan menjaga tutur kata salam pergaulan serta tegur sapa dengan dosen, guru, teman, staf, dan yang lainnya. Mengenai perilaku peduli, dapat dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya sehingga tercipta lingkungan yang ramah. Apalagi adanya kegiatan jumat bersih yang dilakukan mampu memupuk rasa gotong royong, cinta damai, dan ramah lingkungan.

4. Aktualisasi Pancasila secara objektif yaitu melaksanakan Pancasila dalam setiap aspek penyelenggaraan negara. Sebagai paradigma, pancasila memiliki nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai-nilai tersebut akan menentukan nilai filosofis, teologis, dan sebagainya. Pancasila bisa dikatakan sebagai paradigma karena pancasila dijadikan landasan, acuan, metode, nilai, dan tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa.
Nama : Gita Oktavia Ramadhani
NPM : 2211031101
Kelas : Akuntansi C

Pancasila adalah dasar pandangan bangsa indonesia dengan setiap silanya menjadi identitas bangsa. Masyarakat menjadikan filsafat sebagai pandangan hidup yang merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, termasuk aspek pendidikan.
Perbedaan antara pancasila dan filsafat yaitu Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran.

Dalam sejarah pendidikan, dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai perkembangan manusia dan hasil pendidikan, yaitu sebagai berikut.
a. Empirisme, bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidpnya. Pengalaman itu diperolehnya di luar dirinya berdasarkan perangsang yang tersedia baginya, John Locke berpendapat bahwa anak yang dilahirkan di dunia ini bagaikan kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulisan diatasnya.
b. Nativisme, teori yang dianut oleh Schopenhauer yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawan baik dan pembawan yang buruk. Dalam hubungannya dengan pendidikan, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat menghasilkan tujuan yang diharapkan berhubungan dengan perkembangan anak didik. Dengan kata lain, aliran nativisme merupakan aliran Pesimisme dalam pendidikan, berhasil tidaknya perkembangan anak tergantung pada tinggi rendahnya dan jenis pembawaan yang dimilikinya.
c. Naturalisme, dipelopori oleh J.J Rousseau, ia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk. Aliran ini berpendapat bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan sendirinya, diserahkan saja selanjutnya kepada alam (negativisme). Pendidikan tidak diperlukan, yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses pendidikan.
d. Konvergensi, dipelopori oleh William Stern, yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk. Hasil pendidikan itu bergantung dari pembawaan dan lingkungan. Pendidikan diartikan sebagai penolong yang diberikan kepada lingkugan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawan yang buruk. Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 yang di dalamnya diatur bahwa pendidikan diusahakan dan diselenggarakan oleh pemerintah
sebagai satu sistem pengajaran nasional.

Orientasi hidup kita adalah hidup kemanusiaan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri kemanusiaan yang kelihatan dari Pancasila ialah integral, etis, dan religius (Poeposwardoyo, 1989). Filsafat pendidikan Pancasila mengimplikasikan ciri-ciri tersebut, yaitu sebagai berikut.
a. Integral Kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila adalah kemanusiaan yang integral, yakni mengakui manusia seutuhnya. Manusia diakui sebagai suatu keutuhan jiwa dan raga, keutuhan antara manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Kedua hal itu sebenarnya adalah dua sisi dari satu realitas tentang manusia. Hakekat manusia yang seperti inilah yang merupakan hakekat subjek didik.
b. Etis Pancasila merupakan kualifikasi etis. Pancasila mengakui keunikan subjektivitas manusia, ini berarti menjunjung tinggi kebebasan, namun tidak dari segalanya seperti liberalisme. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab.
c. Religius Sila pertama pancasila menegaskan bahwa religius melekat pada hakikat manusia, maka pandangan kemanusiaan Pancasila adalah paham kemanusiaan religius. Religius menunjukan kecendrungan dasar dan potensi itu. Pancasila mengakui Tuhan sebagai pencipta serta sumber keberadaan dan menghargai religius dalam masyarakat sebagai yang bermakna. Kebebasan agama adalah satu hak yang paling asasi diantara hak-hak asasi