Malva Zahra Raamdhani
2217011175
A
Dalam analisis jurnal "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" karya R. Siti Zuhro (yang sedang saya bahas di pertemuan ke-9), saya sebagai mahasiswa menangkap bahwa penulis berpendapat Pemilu Presiden 2019 belum berhasil menguatkan fondasi demokrasi di Indonesia. Menurut pemahaman saya, inti dari tulisan ini adalah bahwa demokrasi di negara kita masih bersifat seremonial, terbatas pada siklus pemilu lima tahunan tanpa menyentuh isu mendasar seperti keadilan, kesetaraan politik, dan partisipasi publik yang berkualitas. Pemilu 2019 malah memperlihatkan polarisasi yang semakin dalam di masyarakat. Kampanye yang diwarnai hoaks, ujaran kebencian, dan politisasi agama mengubah demokrasi menjadi arena pertikaian, bukan ruang diskusi. Jurnal ini juga menyoroti inefisiensi partai politik yang lebih fokus pada popularitas figur daripada kualitas kader, terlihat dari banyaknya selebritas yang dicalonkan tanpa mempertimbangkan kompetensi. Bagi saya, ini mencerminkan politik yang masih pragmatis dan jauh dari ideal demokrasi yang mencerdaskan. Lebih lanjut, birokrasi pun ikut terlibat dalam politik praktis, padahal seharusnya netral. Saya sependapat dengan penulis bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih, tetapi juga tentang kemampuan pemimpin membangun kepercayaan dan sistem pemerintahan yang adil. Demokrasi yang hanya formalitas akan terus menghasilkan konflik, ketidakpercayaan, dan ketidakadilan. Jurnal ini mengingatkan saya bahwa seluruh pihak harus berperan dengan integritas agar demokrasi di Indonesia bisa tumbuh secara substansial.
2217011175
A
Dalam analisis jurnal "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" karya R. Siti Zuhro (yang sedang saya bahas di pertemuan ke-9), saya sebagai mahasiswa menangkap bahwa penulis berpendapat Pemilu Presiden 2019 belum berhasil menguatkan fondasi demokrasi di Indonesia. Menurut pemahaman saya, inti dari tulisan ini adalah bahwa demokrasi di negara kita masih bersifat seremonial, terbatas pada siklus pemilu lima tahunan tanpa menyentuh isu mendasar seperti keadilan, kesetaraan politik, dan partisipasi publik yang berkualitas. Pemilu 2019 malah memperlihatkan polarisasi yang semakin dalam di masyarakat. Kampanye yang diwarnai hoaks, ujaran kebencian, dan politisasi agama mengubah demokrasi menjadi arena pertikaian, bukan ruang diskusi. Jurnal ini juga menyoroti inefisiensi partai politik yang lebih fokus pada popularitas figur daripada kualitas kader, terlihat dari banyaknya selebritas yang dicalonkan tanpa mempertimbangkan kompetensi. Bagi saya, ini mencerminkan politik yang masih pragmatis dan jauh dari ideal demokrasi yang mencerdaskan. Lebih lanjut, birokrasi pun ikut terlibat dalam politik praktis, padahal seharusnya netral. Saya sependapat dengan penulis bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih, tetapi juga tentang kemampuan pemimpin membangun kepercayaan dan sistem pemerintahan yang adil. Demokrasi yang hanya formalitas akan terus menghasilkan konflik, ketidakpercayaan, dan ketidakadilan. Jurnal ini mengingatkan saya bahwa seluruh pihak harus berperan dengan integritas agar demokrasi di Indonesia bisa tumbuh secara substansial.