Posts made by Aprita Fahria Zahra 2213053259

Nama: Aprita Fahria Zahra
NPM: 2213053259
Kelas: 3H

Analisis Jurnal 2

Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Oleh : Enung Hasanah
Nomor : 2
Volume : 6
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Pembahasan
Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Psikolog yang mempelajari moralitas atau perkembangan moral harus berurusan dengan masalah relativisme moral atau netralitas nilai, yang bermula dari kata-kata yang bermuatan nilai "moral" dan "pengembangan." Relativisme moral adalah posisi bahwa nilai-nilai moral berbeda di antara budaya dan masyarakat dan karenanya tidak universal.

Teori (Kohlberg; L., Hersh,R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut :
1. Level 1. Moralitas Pra-konvensional yang meliputi tahap ketaatan dan hukuman, Individualisme dan Pertukaran
2. Level 2 Moralitas Konvensional meliputi tahap Hubungan Interpersonal disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", dan Menjaga Ketertiban Sosial.
3. Level 3. Moralitas Pasca-konvensional meliputi Tahap Kontrak Sosial dan Hak Perorangan dan tahap universal

Kesimpulan penelitian yang menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg ini yaitu, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Pada responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama: Aprita Fahri Zahra
NPM: 2213053259
Kelas: 3H

Analisis Jurnal 1

Pendahuluan
Kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isu isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Hal ini menuntut adanya pemikiran yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang cocok untuk menjawab permasalahan tersebut. Di samping itu, revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi menghadirkan sejumlah kemudahan untuk melakukan aktivitas kehidupan di segala bidang. Kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan militer dijalin tanpa dibatasi oleh jarak antarwilayah negara. Di lain hal, globalisasi dapat melahirkan kompetisi yang kurang sehat.

1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
A. Indonesia
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim.
B. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal .

C. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.

D. Cina
Di Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
A.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Sebagai contoh, suatu pilihan yang ditetapkan seseorang (se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga) dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui Muhamimin, 2001: 216).

B. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi.
gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik.
Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan.
Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya.
Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain.
Keempat, pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.

C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping kesediaan peserta didik itu sendiri. Yang ditekankan dalam pendidikan nilai adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh yang melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami.

D. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161). Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir, 1988: 199).
Nama : Aprita Fahria Zahra
NPM: 2213053259
Kelas: 3H

ANALISIS VIDEO 2

Tragedi tragis yang ada didunia Pendidikan

Seorang siswa menganiyaya seorang pendidik hingga tewas, korban Bernama ahmad budi cahyo guru honorer SMKN 1 di Jawa Timur, selain itu dilain sisi terdapat tragedi juga yaitu Seorang peserta didik mengajak duel seorang kepala sekolah tidak diketahui untuk motif yang ada didalamnya.

Lingkungan sekolah dianggap berperan penting dalam pembentukan moral siswa. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan sekunder, yang secara secara sistematis melaksanakan bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa supaya mampu mengembangkan potensinya, baik berkenaan dengan aspek moral, spiritual, intlektual, emosional, maupun sosial.

Maka dari itu peran sekolah terbilang cukup besar ditambah lagi hampir sepertiga waktu siswa dihabiskan di sekolah. Kebanyakan orang tua juga menganggap dunia pendidikan sudah cukup memberikan muatan-muatan moral pada anak-anaknya. Namun kondisi dunia Pendidikan saat ini dirasa belum mampu sepenuhnya untuk membentuk moral siswanya.

1. Menurut KPAI
Moral peserta didik dilihat dari pola pengasuhan di dalam rumah atau keluarga. Selain itu pengelolaan guru di dalam kelas sangat diperlukan untuk peserta didik.

2. Sisi Pengamat Pendidikan
Seorang guru harus memiliki 4 standar utama, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Pembekalan untuk guru yang penting terutama dalam psikologisnya, ketika menjadi guru sudah siap untuk menghadapi peserta didiknya. Selain itu hal yang paling penting adalah Kepribadian dan sosial guru untuk menangani ragam sikap perilaku peserta didik di dalam kelas.

3. Sisi Psikologis
Latar belakang anak melakukan kekrasan karena emosi yang tidak terkontrol dan melakukan tindakan tanpa berpikir, seseorang anak tentu memiliki tingkatan kognifiti/ cara berpikir dan bernalar, ketika Terjadi suatu hal dalam dirinya kemampuan emosi peserta didik tidak terkontrol maka peserta didik sudah tidak memikirkan apapun. Anak zaman sekarang juga memiliki tekanan yang semakin besar, tetapi tidak memiliki kemampuan dalam mengelola hal tersebut. Maka, perlu adanya pengajaran pengelolaan emosi pada anak.
Nama : Aprita Fahria Zahra
NPM : 2213053259
Kelas : 3H

Analisis video 1

Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yg menjadi pondasi untuk merumuskan tahapan pengembangan moral.
Tahap perkembangan dibagi menjadi 3 level dimana setiap levelnya terbagi menjadi 2 tahapan yaitu:
1. Level Pra konvensional
•Tahapan menghindari hukuman
Seseorang dapat memiliki alasan untuk bertindak maupun tidak bertindak karena alasan untuk menghindari hukuman.
•Tahapan keuntungan dari minat pribadi
Tindakan memperhitungkan apa yg akan didapat olehnya seperti apa untungnya bagi ku.

2. Level Konvensional
•Tahapan menjaga sikap orang baik
Seseorang memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain.
•Tahapan memelihara
Peraturan harus di tegakkan apabila tidak ada yang mematuhi nya maka keadaan akan menjadi kacau, oleh karena itu peraturan harus ditegakkan

3. level Pasca Konvensional
•Tahapan orientasi kontrak sosial
Seseorang menyadari setiap orang memiliki latar belakang, tidak ada yg absolut ketika seseorang melihat kasus, hak individu harus terlihat transparan dengan hukum yang ada.
•Tahapan prinsip etika universal
Tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang, dimana ia melakukan hal yang dianggap benar meskipun bertentangan dengan hukum