Kiriman dibuat oleh arip saputra

nama : ARIP SAPUTRA
npm : 2217051061
kelas : C

menurut analisis video :
yang berjudul "Demokrasi itu gaduh,tapi kenapa bertahan dan dianut Banyak Negara ?
Demokrasi dianggap gaduh karena memungkinkan banyak suara yang berbeda untuk diwakili dalam pengambilan keputusan politik. Ada banyak perspektif dan kepentingan yang berbeda-beda yang harus dipertimbangkan dalam sistem demokrasi, sehingga dapat menyebabkan konflik dan ketidaksepakatan yang besar di antara masyarakat.

Namun, demokrasi tetap bertahan dan dianut oleh banyak negara karena memiliki beberapa keuntungan penting. Pertama, demokrasi memberikan suara yang setara kepada semua warga negara, sehingga memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik. Kedua, demokrasi memberikan kontrol yang lebih besar kepada rakyat atas pemerintahan mereka, sehingga dapat mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh elit politik. Ketiga, demokrasi cenderung menciptakan stabilitas politik jangka panjang karena keputusan politik didasarkan pada dukungan mayoritas dan diambil melalui proses yang terbuka dan transparan.

Meskipun demokrasi dapat terasa gaduh dan sulit diimplementasikan pada awalnya, namun dalam jangka panjang, keuntungan-keuntungan tersebut akan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, meskipun tidak sempurna, banyak negara memilih untuk mengadopsi sistem demokrasi sebagai bentuk pemerintahan mereka yang ada di negara negara di seluruh dunia terutama di indonesia.
NAMA : ARIP SAPUTRA
NPM : 2217051061
KELAS :C

Analisis jurnal :
Pemilihan umum serentak (pemilu serentak) yang diselenggarakan tahun 2019 di Indonesia merupakan pemilu pertama di mana pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif (pileg).
Disamping itu, tulisan ini mengkritisi ketiadaan perubahan besar dari diterapkannya sistem pemilihan umum serentak 2019, yang disebabkan oleh masih diterapkannya presidential threshold dan masih lemahnya pelembagaan partai politik itu sendiri, sehingga pola koalisi yang dibangun oleh kedua pasangan calon presiden tetap bersifat pragmatis semata.