གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nayya Tharissa Mahendra

Nama : Nayya Tharissa M
NPM : 2257051016
kelas : C

Artikel selanjutnya membahas mengenai "Menelaah Sisi Historis Shalawat Badar : Dimensi Politik Dalam Sastra Lisan Pesantren" ditulis oleh Dhuroruddin Mashad. Tulisan ini membahas mengenai tradisi lisan pesantrens alah satunya Shalawat Badar yang ternyata memperlihatkan karakateristiknya yang beda, yakni tampil kental dengan nuansa politik. Shalawat ini acapkali dijadikan sarana mobilisasi kaum santri dalam berbagai kontestasi politik. Realitas ini menjadi bukti bahwa entitas Shalawat Badar kenyataannya merupakan manifestasi dari relasi antara sastra - agama -politik. Naskah ini dimaksud untuk melakukan rekonstruksi historis tetang konteks politik ketika Shalawat Badar lahir, menelusuri akar penyebab shalawat ini menjadi kental dengan nuansa politik, serta alasan di balik Warga dinegara penganut demokrasi cenderung mempunyai angka harapan hidup yang tinggi.

Kalau kita bandingkan dengan negara demokrasi dan non-demokrasi, negara demokrasi lebih kaya , memounyai tingkat perkembangan manusia yang lebih tinggi , warga negara demokrasi lebih bahagia dan sehat jaminan atas hak asasi manusia, namun bukan berarti demokrasi adalah sistem pemerintahan yang paling sempurna , dengan menghasilkan pemimpin populis yang anti –sains juga para politikus yang menolak di kritik dan menampik kebebasan berpendapat

demokrasi memiliki kelemahan dan krisis yang harus diatasi, namun tetap bertahan karena demokrasi memiliki prinsip dasar untuk menghargai hak asasi manusia dan mengakui hak orang untuk memilih pemimpinnya. demokrasi juga mendorong partisipasi publik yang aktif dalam mengambil keputusan politik. meski gaduh, demokrasi tetap menjadi sistem pemerintahan yang diandalkan banyak negara.
Nama : Nayya Tharissa M
NPM : 2257051016
Kelas : C

analisis Jurnal :
P2Politik - LIPI menjadi media pertukaran pemikiran yang menangani masalah - masalah strategis yang terkaitan dengan bidang politik nasional, lokalm dan internasional yang mencakup demokratisasi, pemilihan umum, konfilk, otonomi daerah, pertahanan dan keamananam, polotik luar negri, dunia islam , dan mengenai isu -isu yang memiliki arti strategis terhadap bangsa dan negara.pemerintah di tnuntun dengan tantangan baru nya yang besifat akademik dengan persoalan yang berkaitan dengan demokrasi dan HAM.

Artikel yang membahas tentang "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" yang ditulis oleh R. Siti Zuhro yang membahas tantangan konsolidasi demokrasi dalam pemilu presiden (pilpres) 2019. Pembangunan demokrasi Indonesia sebagaimana tercermin dari pilpres masih mengalami banyak masalah. Pendalaman demokrasi belum terwujud dengan baik karena pilar-pilar demokrasi yang menjadi faktor penguat konsolidasi demokrasi belum efektif. Pilpres 2019 belum mampu menghasilkan suksesi kepemimpinan yang baik dan belum mampu pula membangun kepercayaan publik. Hal tersebut bisa dilihat dari munculnya kerusuhan sosial setelah pengumuman hasil rekapitulasi pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Satu kandidat menolak hasil pemilu. Adalah jelas pilpres belum selesai. Sekarang Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi penentu akhir hasil pilpres karena dua kandidat mengklaim sebagai pemenang pilpres
dan artikel selanjutnya yang membahas mengenai "Menelaah Sisi Historis Shalawat Badar : Dimensi Politik Dalam Sastra Lisan Pesantren" ditulis oleh Dhuroruddin Mashad. Tulisan ini membahas mengenai tradisi lisan pesantrens alah satunya Shalawat Badar yang ternyata memperlihatkan karakateristiknya yang beda, yakni tampil kental dengan nuansa politik. Shalawat ini acapkali dijadikan sarana mobilisasi kaum santri dalam berbagai kontestasi politik. Realitas ini menjadi bukti bahwa entitas Shalawat Badar kenyataannya merupakan manifestasi dari relasi antara sastra - agama -politik. Naskah ini dimaksud untuk melakukan rekonstruksi historis tetang konteks politik ketika Shalawat Badar lahir, menelusuri akar penyebab shalawat ini menjadi kental dengan nuansa politik, serta alasan di balik.