NAMA : Gilbert Hasiholan Sibuea
NPM : 2217051118
KELAS : D
PRODI : S1 Ilmu Komputer
Analisis Artikel :
Tantangan dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia pada tahun 2019 dibahas dalam artikel tersebut. Meskipun ada kemajuan dalam perlindungan HAM, masih ada banyak masalah yang harus diatasi, seperti pembatasan kebebasan berekspresi, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan peningkatan kasus pelanggaran HAM oleh aparat keamanan.
Artikel juga menyebutkan bahwa revisi UU KPK dan UU ITE dianggap dapat mengancam kebebasan berekspresi dan HAM. Selain itu, pemilihan umum sering kali diwarnai oleh politik uang dan kekerasan yang merugikan hak rakyat untuk memilih dengan bebas dan adil.
Analisis Soal:
A. Artikel tersebut mencatat kondisi penegakan HAM di Indonesia pada tahun 2019, dengan catatan kegagalan dalam proses keadilan dan akuntabilitas, pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama, diskriminasi gender, serta pelanggaran HAM di Papua dan penjatuhan hukuman kejam di luar pengadilan. Namun, terdapat juga perkembangan positif seperti reformasi perlindungan HAM dan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa.
B. Analisis tentang demokrasi Indonesia berdasarkan adat istiadat/nilai budaya masyarakat Indonesia mencerminkan prinsip demokrasi yang berketuhanan Yang Maha Esa, mengakui pluralisme, keragaman budaya, dan kebebasan beragama sebagai nilai penting untuk menjaga kerukunan dan toleransi di Indonesia.
C. Praktik demokrasi Indonesia saat ini perlu dievaluasi secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945. Meskipun ada kemajuan dalam praktik demokrasi sejak reformasi, masih ada tantangan dalam menerapkan prinsip-prinsip demokrasi secara menyeluruh, termasuk HAM, kebebasan berekspresi, partisipasi politik, perlindungan minoritas, dan perang melawan korupsi. Terdapat ruang untuk perbaikan dalam praktik demokrasi yang sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, dan penghormatan terhadap HAM.
D. Sikap terhadap kondisi tersebut adalah kekecewaan. Anggota parlemen diharapkan bertanggung jawab kepada rakyat yang mereka wakili dan memperjuangkan kepentingan serta aspirasi rakyat. Mengejar tujuan politik pribadi yang bertentangan dengan kepentingan rakyat hanya merusak kepercayaan publik terhadap sistem politik dan merusak demokrasi secara keseluruhan. Tindakan semacam itu tidak etis dan berbahaya bagi demokrasi.
E. Pihak-pihak dengan kekuatan karismatik, yang didasarkan pada tradisi atau agama, dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas dan emosi orang. Namun, menggunakan kekuatan tersebut untuk tujuan yang tidak jelas atau dengan mengorbankan HAM tidak dapat diterima dalam demokrasi saat ini. Konsep HAM mencakup martabat manusia, kebebasan, dan perlindungan individu sebagai nilai inti. Dalam demokrasi yang matang, setiap orang memiliki hak untuk hidup, kebebasan berekspresi dan beragama, serta perlindungan dari diskriminasi dan perlakuan tidak manusiawi. Mereka yang memiliki kekuatan karismatik harus bertanggung jawab atas tindakan mereka dan memastikan bahwa penggunaan kekuasaan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip HAM. Mereka harus menghormati dan melindungi hak-hak individu serta mempromosikan kesetaraan, keadilan, dan kebebasan dalam tindakan mereka. Penggunaan kekuasaan yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan penyalahgunaan dan pelanggaran HAM, yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang harus dijunjung tinggi.