NPM: 2217011169
Tugas video pendidikan Pancasila
https://drive.google.com/drive/folders/13JpZCk4z7fuOn2FZMneVw720Xak9tbsP
Pada artikel berjudul "Dinamika dan Tantangan dalam Pendidikan Pancasila di Era
Globalisasi: Tinjauan Literatur" membahas tentang dinamika dan tantangan yang dihadapi
oleh pendidikan Pancasila dalam menghadapi globalisasi yang cepat. Pancasila, sebagai
ideologi dasar negara Indonesia, memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa,
tetapi pendidikan Pancasila mengalami berbagai hambatan, terutama dalam menjaga
relevansinya di era digital dan teknologi. Penelitian ini menyoroti perubahan sosial, budaya,
dan teknologi yang memengaruhi cara pendidikan Pancasila disampaikan kepada generasi
muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama pendidikan Pancasila adalah adaptasi
terhadap perkembangan teknologi, seperti pemanfaatan teknologi digital dalam penyampaian
nilai-nilai Pancasila. Pendidikan Pancasila harus mampu menggunakan media digital untuk
menyampaikan nilai-nilai Pancasila secara efektif, tetapi juga harus mengatasi disinformasi
dan radikalisme yang dapat muncul di platform digital. Selain itu, tantangan budaya juga
menjadi perhatian utama, terutama dalam menjaga nilai-nilai persatuan di tengah
keberagaman yang semakin kompleks dalam masyarakat Indonesia.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya perbaikan kurikulum dan metode pengajaran
Pancasila. Kurikulum pendidikan Pancasila perlu dirancang agar tetap relevan dengan
kehidupan nyata, termasuk cara mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dengan pelajaran
lainnya seperti sejarah, sosiologi, dan teknologi. Pelatihan dan peningkatan kompetensi guru
juga sangat penting untuk memastikan bahwa para pendidik memiliki pemahaman mendalam
tentang Pancasila dan mampu mengajarkannya dengan cara yang menarik dan relevan.
Secara keseluruhan, artikel ini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah,
lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila.
Pendidikan Pancasila tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga
untuk membentuk karakter generasi muda agar mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi kunci untuk menjaga persatuan, keadilan, dan
demokrasi dalam menghadapi tantangan globalisasi.
1. Kasus penolakan jenazah korban Covid-19 di Jawa Tengah, terutama yang menimpa
seorang perawat, adalah tindakan yang sangat memprihatinkan dan bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang diusung oleh Pancasila, khususnya sila kedua, Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab. Penolakan ini menunjukkan kurangnya rasa empati dan
penghormatan terhadap sesama, terlebih lagi terhadap tenaga kesehatan yang berjuang di
garis depan melawan pandemi. Sila kedua Pancasila mengajarkan kita untuk menghargai dan
menghormati sesama manusia, baik yang hidup maupun yang telah meninggal. Oleh karena
itu, tindakan penolakan ini bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak sejalan
dengan prinsip-prinsip Pancasila sebagai dasar negara.
2. Sebagai mahasiswa, saran yang dapat diberikan adalah pentingnya meningkatkan edukasi
dan sosialisasi mengenai protokol pemakaman korban Covid-19. Pemerintah, bersama
dengan lembaga pendidikan dan media, harus terus mengedukasi masyarakat mengenai
keamanan pemakaman korban Covid-19, sehingga mengurangi ketakutan yang tidak
berdasar. Selain itu, pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan perlu diperkuat untuk
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan empati terhadap sesama.
Mahasiswa dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial, seperti program pengabdian
masyarakat, yang berfokus pada penguatan rasa solidaritas dan penghargaan terhadap tenaga
kesehatan.
3. Ya, penolakan jenazah korban Covid-19 jelas merupakan pelanggaran terhadap sila kedua
Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Meskipun jenazah sudah tidak bernyawa,
manusia tetap memiliki hak untuk dimakamkan dengan layak. Sila kedua Pancasila
menekankan bahwa setiap individu harus diperlakukan secara adil dan manusiawi. Penolakan
ini tidak hanya menimbulkan stigma terhadap korban, tetapi juga menunjukkan
ketidakpedulian terhadap prinsip kemanusiaan. Terlepas dari keadaan meninggalnya, jenazah
tetap berhak mendapatkan penghormatan terakhir, dan tindakan penolakan ini menyalahi
nilai-nilai dasar tersebut.
Filsafat berasal dari bahasa Yunani "Philosophia," yang terdiri dari dua kata: "Phile," berarti
cinta, dan "Sophia," berarti kebijaksanaan. Cinta di sini mencerminkan hasrat yang mendalam
dan serius, sedangkan kebijaksanaan berkaitan dengan pencarian kebenaran yang sejati.
Filsafat mencakup berbagai aliran, seperti rasionalisme yang mengedepankan akal,
materialisme yang menekankan materi, individualisme yang menyoroti keunikan individu,
dan hedonisme yang mengutamakan kesenangan.
Mempelajari filsafat memberikan berbagai manfaat, seperti pemahaman tentang kebenaran
hakiki, pelatihan berpikir logis, dan kemampuan untuk bertindak dengan bijaksana. Filsafat
Pancasila, sebagai refleksi kritis mengenai dasar negara dan budaya bangsa, bertujuan untuk
memahami pokok-pokok pengertian yang mendalam. Selain itu, Pancasila dipandang sebagai
sistem filsafat yang terdiri dari berbagai elemen yang saling terkait, berfungsi untuk
mencapai tujuan dalam konteks yang kompleks. Wawasan filsafat meliputi tiga aspek
penting: ontologis, yang menyelidiki hakikat eksistensi; epistemologis, yang berfokus pada
asal dan validitas pengetahuan; serta aksiologis, yang berkaitan dengan nilai dan pemikiran
ilmiah.